
"Pip pip pip..."
Richard berusaha mengerem mobilnya sambil membunyikan kelaksonnya berulang kali, karena tiba-tiba saja seorang wanita dengan menyeret sebuah koper terlihat linglung dan menyeberang tanpa memperhatikan kendaraan yang lewat.
"Ciiittt..."
Suara rem mobil membuat Pitaloka tersadar jika saat ini dirinya berada di tengah jalan.
"Apa kamu terluka?"
Richard keluar dari mobil dan memungut koper Pitaloka yang tadi dia lepaskan karena terkejut.
"Tidak, aku tidak apa-apa?" Jawab Pitaloka lalu meraih kopernya dari tangan Richard.
"Tunggu...!"
Saat Pitaloka hendak pergi, Richard menghentikannya.
"Maaf, tapi sepertinya aku pernah melihatmu dengan Sesil?" Tanya Richard.
"Iya, waktu itu aku dengan Sesil dalam mobil yang sama membuat mobil anda lecet."
Pitaloka baru memperhatikan jika pria di depannya adalah Richard, pria yang dicintai Sesil.
"Kamu mau kemana? boleh aku antar?"
Melihat Pitaloka membawa sebuah koper besar, Richard menawarinya tumpangan.
"Tidak perlu." Ucap Pitaloka.
"Tidak masalah, aku sungguh akan mengantarmu."
__ADS_1
Richard kira Pitaloka menolak di antar karena merasa sungkan, tapi bukan itu sebabnya.
"Sebenarnya aku tidak tau mau kemana."
Ucap Pitaloka lirih.
Richard melirik koper Pitaloka lalu bertanya "Apa kamu kabur dari rumah?"
"Tidak... aku tidak punya rumah, aku baru saja pergi dari kosan aku karena suatu hal."
Entah kenapa Pitaloka mau ngobrol dengan Richard, mungkin karena sedikit banyak dia sudah mengenal pria itu dari mulut Sesil.
"Baiklah, kalau begitu kamu mau kemana sekarang?" Tanya Richard, sebenarnya Richard juga bukan pria yang sembarangan mengajak wanita ngobrol, tapi karena dia pernah melihat Pitaloka bersama Sesil, maka Richard bisa menebak jika keduanya pasti berteman baik.
"Tidak tau..." Ucap Pitaloka sambil terus memandangi ujung sepatunya.
"Bagaimana kalau kamu ikut ke apartemen aku..."
"Tidak, jangan salah paham. Aku memiliki dua kamar di apartemenku, jika kamu mau kamu boleh tinggal disana sampai kamu menemukan tempat tinggal."
Richard buru-buru menjelaskan, takut Pitaloka salah memahami maksud baiknya.
...
"Silahkan, anggap ini apartemen kamu sendiri dan jangan sungkan mengatakan apapun kebutuhan kamu."
Akhirnya setelah susah paya membujuk Pitaloka, Richard berhasil mengajak gadis itu ikut bersamanya.
"Emm terima kasih."
Pitaloka memasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar Richard. Dia terpaksa tinggal disana malam ini, karena hari sudah mau gelap. Mungkin besok dia akan pergi dari sana dan mencari kos yang baru.
__ADS_1
...
Raihan memasuki mobil dan buru-buru mengarah ke kos Pitaloka.
Dia sangat mencemaskannya, sejak tadi sore dia berusaha menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif.
"Nyariin Pitaloka yah?"
Clara muncul dan menghampiri Raihan yang berusaha mengetuk pintu kos Pitaloka.
"Dia sudah pergi."
Ucap Clara saat Raihan tetap mengetuk pintu kos Pitaloka tanpa menghiraukannya.
"Maksud kamu?"
Barulah pria itu bicara dan menatap Clara, tapi tatapan itu membuat bulu kuduk Clara merinding.
"Tadi sore aku lihat dia membawa kopernya, sepertinya dia pindah."
Clara menjawab dengan suara pelan.
"Bruukk."
Raihan menendang pot bunga yang ada di dekat kaki Clara dan membuat Clara melompat karena terkejut.
"Ada apa dengannya?"
Gumam Raihan lalu tanpa menoleh langsung memasuki mobil dan meninggalkan tempat itu.
Clara melihat mobil Raihan semakin menjauh dan bergumam "Suatu saat aku akan menaklukkanmu... Raihan Saloka."
__ADS_1
Clara juga menyukai Raihan, tapi untuk saat ini dia memilih memendamnya dan bekerjasama dengan sepupunya yang merupakan saingannya untuk menyingkirkan Pitaloka terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia balik menyingkirkan kakak sepupunya sendiri.