
Malam ini Pitaloka tidur dengan nyenyak. Meski sempat susah tidur karena Raihan tidak menghubunginya, tapi karena kelelahan di perjalanan akhirnya gadis itu kini terlelap.
Sedang di sebuah area terpencil, ada sebuah bangunan besar. Itu merupakan labolatorium milik Kelvin, dimana dia dan timnya sedang melakukan beberapa penelitian di antaranya obat pe****sa**.
"Hei, apa yang membawa sahabatku ini kemari?"
Sapa Kelvin, saat Raihan tiba disana.
"Aku mau melihat sudah sejauh mana hasil penelitianmu. Jangan...buat uangku sia-sia." Ucap Raihan langsung ke intinya.
"Tenang saja, kamu akan terkejut saat melihat hasil jerih payahku selama ini."
Kelvin berjalan memasuki ruang tempat dia melakukan penelitiannya lalu di susul oleh Raihan.
"Apa kamu percaya? bahkan aku saja sulit mempercayai jika akan secepat ini semuanya selesai."
Kelvin menunjukkan pada Raihan hasil penelitiannya.
"Aku tidak perduli dengan penelitianmu, aku hanya datang untuk penawar yang bisa kamu ciptakan dari obat yang kamu teliti itu." Raihan lagi-lagi langsung bicara ke intinya, karena tujuannya jauh-jauh kesana adalah mengambil penawar untuk Pitaloka yang dia tebak akan segera membutuhkannya dalam satu atau dua hari ini.
__ADS_1
"Apa? tapi buat apa?" Kelvin di buat heran oleh Raihan. Buat apa Raihan membutuhkan penawar itu?
"Aku membutuhkannya, apa sudah jadi atau tidak? aku tidak perlu memberi tahumu segala urusanku bukan?" Raihan berkata dengan sedikit penekanan, yang membuat Kelvin kembali sadar tentang siapa sebenarnya pria yang sedang bersamanya itu.
"Oh tentu, tapi aku baru menciptakan dua buah pil saja, dan pil ini tidak bisa langsung bekerja dengan sekali makan saja. Tapi harus rutin memakan penawar itu, setidaknya selama satu minggu."
Jelas Kelvin.
"Maksudnya? masih butuh lima buah pil lagi untuk bisa seutuhnya menghilangkan rasa ketergantungan itu?" Tanya Raihan.
"Hmm." Kelvin mengangguk, sambil bertanya-tanya dalam hatinya sebenarnya buat apa Raihan menginginkan obat itu, seakan seseorang sedang sangat membutuhkannya.
Suara Raihan yang kini penuh dengan penekanan membuat Kelvin dan Adnan yang baru datang kaget.
"Tapi bahan dari penawar itu sangat langka, dan..." Kelvin menggantung kata-katanya karena melihat jika bahan yang dia maksud kini berada di tangan Adnan.
"Oke, malam ini aku akan menyelesaikannya." Ucap Kelvin lalu meraih bahan-bahan yang di bawa Adnan dan segera memulai proses pembuatan pil itu lagi.
"Pastikan pil itu selesai sebelum matahari terbit besok. Karena kalau tidak maka, labolatorium kamu ini akan rapat dengan tanah saat itu juga."
__ADS_1
itu kata-kata terakhir Raihan sebelum dia keluar dari sana dan menunggu di luar.
"Apa dia mengancam kita?" Tanya Adnan dengan sedikit berbisik.
"Tidak, dia tidak mengancam... tapi dia pasti melakukannya. Sekarang cepat bantu aku menyelamatkan labolatorium ini."
Malam itu kedua pemuda itu bekerja keras dan tetap terjaga. Sampai saat fajar muncul keduanya bernafas legah karena mereka telah berhasil membuat sebanyak lebih dari sepuluh pil.
"Waktu kalian habis."
Belum sempat mengelap keringat mereka, Raihan sudah masuk dengan tampang mengerikannya.
"Selesai." Ucap Kelvin sambil menunjukkan botol yang di dalamnya sudah ada pil yang Raihan tunggu.
"Eh sisakan sebagian untuk uji cobaku."
Teriak Kelvin saat sahabat yang tidak seperti seorang sahabat itu begitu saja membawa semua pilnya.
"Aku yang akan melakukan uji cobamu. Berdoalah semoga ini berhasil, karena jika tidak... maka... tunggu dan lihat nanti."
__ADS_1
Raihan langsung pergi dari sana dan mengemudikan mobilnya menuju bandara. Dia harus segera menyusul Pitaloka, entah apa yang terjadi pada gadis itu, sejak tadi Raihan menghubunginya tapi tidak di angkat meski tersambung.