
Raihan tau bahwa Pitaloka sedang berusaha melawan rasa ketergantungannya pada obat itu.
Tanpa bicara lagi, Raihan segera melajukan mobilnya ke kos Pitaloka, soal cara mengatasi ketergantungan itu bisa dipikirkan besok, tapi saat ini Pitaloka harus memakan obat itu agar keluar dari rasa sakit yang di deritanya saat ini.
Melihat sebuah mobil mewah parkir di depan kos Pitaloka, semua orang yang juga ngekos di sana merasa penasaran.
Meski di tatap oleh banyak orang disana, Raihan tanpa berpikir menggendong Pitaloka ke dalam kamarnya.
"Tidak aku tidak mau memakan obat terkutuk itu lagi."
Pitaloka menangis karena menahan sakit yang seperti sedang menusuk jantungnya.
Raihan tidak menghiraukannya,baginya saat ini dia harus menyelamatkan Pitaloka dulu. Raihan mencari obat itu, dan saat menemukannya tanpa menghiraukan Pitaloka yang berusaha menolak dia memaksa memasukkan obat itu ke dalam mulut Pitaloka.
Pitaloka meneteskan air matanya saat Raihan berhasil membuatnya menelan obat itu.
Tiba-tiba dia teringat kejadian dua tahun lalu, saat bos tempat ayah tirinya menjualnya memaksanya menelan obat yang sama agar dirinya mau melayani pria yang dia dengar akan datang merebut keperawanannya malam itu.
__ADS_1
Pitaloka menatap Raihan sambil menangis lalu menutup matanya, perlahan rasa sakit yang dia rasakan hilang, namun terganti menjadi rasa benci dan niatnya untuk balas dendam kepada ayah tirinya.
"Aku berjanji, setelah ini aku akan mencari dokter untuk melepaskanmu dari semua ini." Raihan mencium kening Pitaloka, lalu beberapa saat kemudian dia pun menjatuhkan air matanya yang selama hidupnya hanya pernah jatuh saat orang tuanya meninggal.
Raihan membuka pakaian Pitaloka lalu perlahan mendekatinya karena saat ini obat itu telah mulai bereaksi.
"Hmm."
Ditengah permainan mereka, Raihan berhenti karena kembali mendengar suara ******* dan rintihan Pitaloka lagi-lagi mengingatkannya pada suara gadis yang pernah dia tiduri malam itu.
"Maafkan aku, karena masih mengingat gadis lain saat bersamamu." Kata Raihan lalu melanjutkannya.
...
"Aku mencintaimu." Gumam Pitaloka di iringi tetesan air matanya.
Dari sekian banyak pria yang pernah tidur dengannya, hanya Raihan yang mampu merebut seluruh hatinya.
__ADS_1
...
"Apa lagi yang ingin kamu lakukan?"
Pitaloka merasa kesal saat lagi-lagi Bagas menahannya di gerbang.
"Heh tentunya tidak akan menyentuh gadis kotor sepertimu." Bagas tersenyum remeh kepada Pitaloka, dan perkataannya tentu terdengar oleh semua orang disana.
"Iya, dia pikir siapa dirinya? sombong! hanya wanita bayaran yang sok berselera tinggi." Tambah Diky, pria yang pernah di tolak oleh Pitaloka dulu karena tidak termasuk dalam tipe Pitaloka.
"Aku tidak sekotor itu, dan aku bukan wanita bayaran." Pitaloka menahan tangisnya saat ini, meski mulutnya membelanya, tetapi hatinya sedang mengatakan hal yang sama dengan yang kedua pria itu katakan. Meski bukan wanita bayaran, tapi dia memang gadis yang kotor.
"Haha, kalian dengar itu? dia bilang dirinya apa? bukan gadis bayaran?" Teriak Bagas yang membuat banyak gadis yang selama ini iri dengan Pitaloka tertawa.
"Huh kalau bukan, lalu apa ini?" Sonya datang dan memperlihatkan video dimana pagi-pagi sekali Pitaloka keluar dari sebuah hotel.
Pitaloka melihat video itu dan teringat jika video itu saat dia baru selesai bersama Edwar, dosennya.
__ADS_1
"Masih mau bilang tidak? aku yakin saat itu kamu baru mendapat bayarankan?" Tambah Lulu.
Pitaloka melihat sekelilingnya dan mendapati semua orang disana sedang melihatnya seperti melihat kotoran.