
Raihan menatap Pitaloka tak percaya, hingga Pitaloka berkedip nakal padanya sambil tersenyum.
"Sangat, aku sangat merindukanmu."
Raihan tanpa perduli ada banyak orang disana, langsung berdiri dan memeluk Pitaloka.
Namun kini Pitaloka menyesal telah menggoda pria itu, karena semua mata sedang terfokus padanya.
"Bisa ditempat lain?" Bisik Pitaloka, dia sangat malu ditonton banyak orang.
"Ayo." Raihan melepas pelukannya lalu menarik tangan Pitaloka keluar dari sana.
"Eh, Sesil masih di dalam." Ucap Pitaloka.
"Dia sudah besar."
Hanya itu yang Raihan ucapkan lalu menarik Pitaloka memasuki mobil dan melaju pergi dari sana.
"Huh, dasar paman tidak punya perasaan." Ketus Sesil yang sebenarnya tidak ke toilet, melainkan mengintip seperti anak kecil dari sudut ruangan.
Namun disaat bersamaan Sesil kembali tersenyum. Melihat Paman dan sahabatnya bersatu kembali membuatnya sangat bahagia.
Sesil membayar makanan dan minuman yang bahkan belum tersentuh. Lalu Sesil menghubungi kontak 'My Heart', siapa lagi kalau bukan Richard.
"Aku sudah melakukan yang kamu sarankan. Sekarang mereka meninggalkan aku sendiri disini, kamu harus bertanggung jawab bukan?" Keluh Sesil memanja.
Sebenarnya, Richard lah yang menyarankan padanya untuk memberitahu kebenarannya pada Pitaloka jika menemukan momen yang tepat. Dan benar saja, saat Raihan mengajaknya bertemu untuk membahas Edwar, Sesil berpikir akan mengajak Pitaloka pergi bersama dan akan mengatakan segalanya saat diperjalanan.
__ADS_1
"Iya, aku akan menjemput kamu dan juga akan mengajak kamu jalan-jalan kemana pun kamu mau."
Richard tersenyum dari seberang telpon, dan berencana akan memulai kisah romantisnya saat ini, karena Raihan dan Pitaloka saat ini pasti juga sedang melakukan hal romantis.
...
"Kita mau kemana?"
Pitaloka yang melihat mobil Raihan melaju ke arah yang tidak dia kenal merasa penasaran.
"Aku sudah lama ingin mengajak kamu ke suatu tempat, tapi sebelum aku ada waktu, kamu..."
Raihan tidak menerusksn perkataannya, tapi itu cukup membuat Pitaloka paham.
"Maafkan aku, aku yang terlalu menilaimu buruk hingga tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan kebenarannya." Ucap Pitaloka.
Raihan kembali teringat saat pertama kali dia menyentuh Pitaloka yang masih polos dan lugu. Tubuh indah yang merintih karena efek obat itu, dia kira adalah godaan.
Raihan sangat merasa bersalah, seandainya dia pulang dari London dengan cepat untuk menjemput Pitaloka. Mungkin Pitaloka tidak akan begitu menderita.
"Sudahlah, katakan kamu mau membawaku kemana paman kecil?"
Pitaloka melihat raut wajah Raihan tidak enak, jadi dia mengalihkan topik untuk menggoda Raihan.
"Kamu memanggilku apa?"
Raihan pura-pura tidak jelas mendengar.
__ADS_1
"Paman Kecil." Ucap Pitaloka sambil tersenyum nakal.
"Sepertinya itu terdengar indah jika keluar dari mulut kamu, tapi jika Sesil yang mengatakannya rasanya aku ingin menjitak kepalanya."
Ucap Raihan yang membuat Pitaloka tertawa dan seketika suasana di dalam mobil menjadi sangat hangat.
...
"Apa aku terlalu lama?"
Richard turun dari mobil dan membukakan pintu lainnya untuk Sesil.
"Lumayan, kakiku sudah pegel berdiri." Ucap Sesil manyun sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Sini aku pijitin."
Richard mengambil kaki Sesil dan meletakkannya di atas pahanya.
"Tidak, aku sudah tidak pegel."
Sesil merasa malu, dia hanya bercanda dan tidak mengira Richard akan menganggapnya serius lalu memijit kakinya.
Tangan dingin Richard terasa meresap kedalam tulangnya.
Richard yang melihat pipi Sesil merona, tersenyum lalu menurunkan pelan kaki Sesil lagi.
Richard kemudian melajukan mobilnya dan berhenti di depan apartemen yang Sesil sudah tau jika itu apartemen Richard.
__ADS_1
"Buat apa kita kesini?" Tanya Sesil gugup, Richard tidak ingin mengajaknya begitu bukan? pikir Sesil.