GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Bukan Gadis Matre Namun Bukan Juga Gadis Naif


__ADS_3

Dua minggu sudah Pitaloka di Italia. Hari ini hari tetakhir dirinya dan timnya berada disana.


Kini semuanya sedang bersiap untuk kembali ke kota mereka.


"Aku akan menjemputmu di bandara."


Ucap Raihan dari seberang telpon. Selama dua minggu terakhir ini, keduanya hanya beberapa kali mengobrol. Raihan sibuk di perusahaan sedang Pitaloka juga sama, dia sangat sibuk dengan jadwal syuting yang padat.


Tapi sekarang dia bernafas legah, karena proses syutingnya berjalan dengan sangat baik dan tentunya hasilnya jauh lebih baik.


Produser, kepala kru dan anggotanya sangat bangga dengan penampilan Pitaloka.


Menurut mereka, gadis itu bukan hanya cantik tapi memang sangat berbakat. Wajar jika seorang Raihan Saloka menyukainya.


"Baiklah."


Pitaloka dan seluruh timnya pulang saat itu juga.


...


Melihat pria yang sangat dia rindukan berada di depannya, Pitaloka tanpa memperdulikan banyaknya orang di bandara langsung berlari dan menghambur ke pelukan Raihan.


"Bagaimana syutingnya?"


Raihan menyambut Pitaloka kedalam pelukannya.


"Baik, semuanya lancar." Jawab Pitaloka.


"Semuanya aku duluan yah, sampai ketemu nanti."


Pitaloka yang mudah akrab dengan orang, merasa senang saat bersama timnya. Dia melambai pada mereka lalu berjalan bersama Raihan menuju mobil.


...


"Istirahatlah, nanti malam aku akan membawamu ke suatu tempat."

__ADS_1


"Baiklah."


Raihan menurunkan Pitaloka di depan kosnya, lalu berkata sambil mengecup kening gadis itu.


Melihat Pitaloka sudah memasuki kosnya, barulah Raihan meninggalkan tempat itu.


"Lihat saja, aku pasti akan menemukan cara untuk menjatuhkanmu."


Clara yamg melihat Pitaloka begitu bahagianya bersama Raihan semakin geram.


"Kak Vina, kamu bilang kamu menyukai Raihan Saloka bukan? kalau begitu dengarkan aku..."


Clara menghubungi sepupunya itu dan mengatur siasat untuk menjatuhkan harga diri Pitaloka.


Awalnya dia pikir dirinya sudah berhasil dengan mengandalkan Modan. Akan tetapi dia baru saja tau, jika Modan telah dibuat hancur oleh Raihan.


Tapi Clara tidak putus ada, dia sudah ada rencana lain untuk Pitaloka, tentunya dengan mengandalkan sepupunya yang menyukai Raihan.


...


"Dia masih sama seperti yang dulu."


Itulah yang digumamkan gadis itu saat ini.


...


"Pit, oh bibi kecilku... rasanya sudah lama sekali tidak memelukmu."


Sesil berlari memasuki kamar Pitaloka dan langsung memeluknya.


Saat di perjalanan pulang, Raihan menghubunginya untuk membawa Pitaloka belanja.


Entahlah, tapi Raihan meminta Sesil menemani Pitaloka membeli sebuah gaun.


"Lepaskan, aku bisa berhenti bernafas."

__ADS_1


Ucap Pitaloka, karena Sesil memeluknya sangat erat.


"Upsst hehe, sudah siap? ayo!"


Sebelumnya Sesil juga sudah mengabari Pitaloka, jika pamannya memintanya menemani Pitaloka membeli gaun.


Pitaloka tentu tau jika mungkin Raihan akan membawanya ke tempat yang istimewah nanti malam, makanya menyuruhnya membeli gaun baru.


"Ayo!"


Keduanya berangkat ke sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar.


"Lihat ini, waw indah sekali bukan?"


Sesil memperlihatkan sebuah gaun berwarna hitam kepada Pitaloka, gaun yang sungguh sangat indah.


"Ambil jika kamu menyukainya." Ucap Pitaloka yang dibalas dengan gelengan oleh Sesil.


"Tidak, aku tidak mood belanja. Gaun ini kamu yang pakai, ayo masuk dan coba di dalam."


Sesil mendorong Pitaloka ke ruang ganti dan meletakkan gaun itu di tangan Pitaloka.


Pitaloka bukan gadis yang tidak suka belanja, dia sudah terbiasa dengan hal itu saat masih di tempat hiburan dulu.


Melihat gaun itu sangat mahal pun Pitaloka sama sekali tidak enggan, dia bukan lagi Pitaloka yang baru kabur dari tempat hiburan malam dan tidak memiliki uang. Sekarang dia sudah bekerja dan tentunya mendapat bayaran yang lumayan besar.


Apalagi dia wanita milik Raihan, Pitaloka bukan gadis matre, tetapi juga bukan gadis naif yang sok enggan menerima uang dari kekasihnya.


"Wah sempurna."


Sesil sangat terpesona melihat Pitaloka dengan gaun itu, tanpa berkata banyak dia langsung menyuruh pelayan toko membungkus gaun tersebut.


Pitaloka juga membeli sepatu yang cocok untuk gaun itu serta asesoris yang selaras.


Saat mau membayar Sesil terlebih dahulu membayarnya. Pitaloka mencegah Sesil, tapi Sesil berkata kalau itu bukan ATMnya, tapi milik Raihan. Pitaloka tentu tidak keberatan dengan itu. Dia membiarkan Sesil menggunakan ATM Raihan untuk membayar semua belanjaannya.

__ADS_1


__ADS_2