GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Gadis Waktu Itu... Dia... Pitaloka...?


__ADS_3

Modan saat ini bisa membaca situasinya. Dia berjalan mendekati Raihan yang kini tampak kebingungan.


"Haha tuan Saloka, dua tahun lalu anda meniduri seorang gadis perawan. Tentu saja memerlukan obat pe****sa** untuk membuat gadis yang untuk pertama kalinya itu tunduk. Dan beberapa hari lalu anda kembali mencarinya tapi anda terlambat karena gadis itu sudah kabur dari sini. Dan saat aku menemukan keberadaan gadis itu, dan memintanya untuk kembali kesini, anda malah datang dan marah padaku? apa itu tidak salah? aku hanya mencoba mendatangkan wanita yang pernah anda tiduri kembali kesini."


Perkataan demi perkataan Modan seperti sedang menusuk jantung Raihan.


"Gadis waktu itu... Dia... Pitaloka...?"


Meski terdengar seperti pertanyaan, tapi itu bukan lagi pertanyaan dari Raihan, melainkan tebakan yang dia yakini benar.


...


Raihan kembali ke kantornya. Dia menggenggam handphonenya erat-erat berpikir untuk menghubungi Pitaloka tapi tidak berani.


Awalnya dia mau memusnahkan orang yang telah membuat Pitaloka menderita selama ini, tapi sekarang dia tau jika semua penderitaan Pitaloka berawal dari kesalahannya.


Seandainya waktu itu dia tidak mengikuti tantangan teman-temannya, atau seandainya saat itu dia langsung membawa Pitaloka pergi bersamanya, atau seandainya waktu itu dia tidak meninggalkannya dan pergi ke London.


"Aarrggghhh."

__ADS_1


Raihan menyapu semua benda yang ada di atas mejanya. Entah bagaimana dia akan menghadapi senyuman manis Pitaloka saat ini, entah bagaimana caranya mengatakan kebenaran ini pada gadis itu.


...


"Paman, apa paman sudah memberi pelajaran pada para brengsek itu?"


Raihan yang baru memasuki rumah langsung disambut oleh pertanyaan Sesil yang tak sabar mendengar bagaimana pamannya itu berhasil menghancurkan orang-orang yang telah membuat sahabatnya menderita.


"Iya, mereka semua sudah paman atasi."


Jawab Raihan, dia memang merasa bersalah pada Pitaloka, dan memang dia yang paling bersalah.


Raihan memerintahkan orang-orangnya membakar habis tempat itu, agar tidak ada gadis lainnya yang senasib dengan Pitaloka, dan agar tidak ada pria bodoh lainnya yang melakukan kesalahan seperti dirinya lagi.


Raihan juga meminta orangnya memastikan keselamatan semua gadis yang ada disana dan menyediakan fasilitas untuk semua gadis itu agar mereka tidak perlu bekerja dengan cara kotor itu lagi.


"Waw, paman aku senang sekali. Pitaloka pasti akan sangat bahagia mengetahui ini. Kini dia tidak perlu takut dan bersembunyi lagi."


Sesil saking girangnya langsung mengambil ponselnya dan ingin menghubungi Pitaloka.

__ADS_1


"Jangan!"


"Kenapa?"


Sesil bingung kenapa Raihan menahannya, dan kalau dia tidak salah lihat sepertinya wajah pamannya itu sangat kusut. Bukankah seharusnya pamannya itu senang karena telah membantu mengatasi masalah Pitaloka?


"Saat ini dia sedang syuting, jangan ganggu konsentrasinya. Tunggu saja sampai dia kembali baru kita katakan semuanya."


"Siapa yang kalian tunggu kembali?"


Nenek tua yang mendengar perbincangan mereka menghampiri keduanya.


"Seseorang yang sangat istimewah. Iyakan paman?"


Sesil malas banget melihat Nenek tua, terlebih sekarang bibinya juga datang.


"Kamu naiklah, lihat apa tante Camelia sudah minum obat."


Raihan tidak mau Sesil membicarakan Pitaloka pada keluarganya saat ini, dia menyuruh Sesil naik ke lantai atas dan melihat apakah ibu Sesil sudah minum obat atau belum.

__ADS_1


Ibu Sesil kemarin tiba-tiba saja sakit, namun tidak mau dibawah ke rumah sakit.


__ADS_2