GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Malaikat Pencabut Nyawa


__ADS_3

(Haha)


Suara tawa semua orang disana membuat tubuh Pitaloka lemas.


"Iya, semalam aku juga melihat dia di gendong masuk ke kamarnya oleh pria asing, pasti itu salah satu pria langganannya." Seorang mahasiswi yang merupakan tetangga kos Pitaloka menambahi.


"Iya, kami semua melihatnya." Tambah seorang mahasiswi lainnya lagi.


"Tidak, aku bukan wanita seperti itu, aku bukan wanita bayaran, aku..." Pitaloka tidak tau bagaimana cara menghadapi orang-orang itu lagi, sekarang dia berada di posisi yang terpojokkan.


"Apa yang membuat kalian menilainya seperti itu?" Semua orang disana gemetar saat sebuah suara seperti petir tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.


Raihan yang awalnya hanya lewat untuk memastikan keadaan Pitaloka, sudah tidak tahan melihat wanitanya dihina turun dari mobil dan mendekati mereka.


"Video ini?" Raihan mengambil ponsel Sonya yang dari tadi masih mengulang video Pitaloka yang keluar dari hotel lalu menginjaknya hingga tak berbentuk.


Semua orang kaget dan ketakutan, mereka bertanya-tanya siapa pria tampan namun seperti malaikat pencabut nyawa itu?


"Atau perkataan wanita-wanita ****** itu?" Raihan menyapu semua gadis yang tadi mengatakan telah melihat Pitaloka bersama pria asing semalam.


Para gadis itu gemetar hebat, mereka sangat ketakutan melihat tatapan Raihan yang seakan ingin mencabut nyawa mereka. Mereka mengingat jika pria di depan merekalah yang semalam bersama Pitaloka.


"Raihan!"


Pitaloka berlari dan masuk ke pelukan Raihan sambil menangis. Dia sangat kebingungan tadi, tidak ada seorang pun yang membelanya, bahkan Sesil sahabat baiknya entah dimana saat ini. Biasanya Sesil selalu bersamanya, dan jika Sesil ada disana pasti Sesil telah membungkam mulut mereka semua.


"Sudah, aku disini oke!"

__ADS_1


Raihan mengusap rambut Pitaloka, terlihat jelas bagi semua orang disana jika pria itu pasti sangat menyayangi Pitaloka. Dan dari mobil mewah dan pakaian pria itu, maka mampuslah mereka, pasti pria itu merupakan seorang yang sangat hebat.


Raihan kembali mengangkat wajahnya dan menyapu semua orang disana dengan mata tajamnya.


"Ini bukan peringatan, tapi kepastian. Jika ada seorang pun yang menghina dan menyakiti wanita Raihan Saloka, maka aku pasti akan menghancurkannya sama seperti handohone itu." Kata Raihan lalu menunjuk ponsel Sonya yang sudah hancur.


Semua orang sontak melangkah mundur. 'Raihan Saloka' Jarang yang mengenali wajahnya, tapi semua orang tau jika dia adalah CEO Saloka Grup. Jangankan mereka, orang tua bahkan nenek moyang mereka saja takut dengan nama itu.


Mereka sangat menyesal telah ikut-ikutan merendahkan Pitaloka. Sebagain dari mereka mengutuki Bagas dan Sonya yang telah memulai hal itu.


Tubuh Bagas dan Diky merinding saat ini.


Satu persatu mahasiswi tadi meminta maaf kepada Pitaloka lalu bergegas pergi dari sana.


"Kalian? aku akan mengingat wajah sampah kalian itu."


Raihan membawa Pitaloka masuk ke mobilnya dan meninggalkan empat patung disana.


"Aku harus kuliah."


Saat Pitaloka agak tenang, dia berpikir jika seharusnya dia berada dikampus sekarang, bukan ikut bersama Raihan.


"Aku akan bicara pada Rektor kampusmu. Tenang saja, lagian saat ini kamu juga pasti tidak bisa fokus belajar."


Raihan mengemudikan mobilnya ke sebuah Rumah sakit besar.


"Kita ngapain kesini?" Tanya Pitaloka.

__ADS_1


Raihan menatap Pitaloka lalu menjawab "Aku tau kamu sangat ingin bebas dari obat itu, jadi sekarang kita akan menemui dokter dan berkonsultasi dengannya."


"Terima kasih."


Pitaloka sangat tersentuh dengan perhatian Raihan.


...


"Apa sesulit itu?" Tanya Raihan pada dokter Vina.


"Iya, karena pemakaian dalam waktu yang sudah sangat lama, maka diperlukan waktu yang lama juga agar bisa bebas dari obat tersebut."


Dokter Vina melirik Pitaloka, dia tidak menyangka seorang Raihan akan membawa gadis dengan penyakit ketergantungan obat murahan seperti itu padanya. Dan siapa dia? dimana Raihan menemukan gadis kotor seperti itu? Pikir Dokter Vina, sedikit merendahkan Pitaloka.


"Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang?" Tanya Raihan, pada dokter Vina yang merupakan temannya itu.


"Hah? Oh, pasien harusnya berkonsultasi pada spesialis kedokteran jiwa atau psikiater."


Vina terkejut mendengar Raihan menyebut diri mereka 'kami'. Sedekat itukah mereka? pikir Vina.


"Dia tidak gila segingga harus di bawa ke spesialis kedokteran jiwa apalagi psikiater." Raihan merasa kesal mendengar saran Vina.


"Meski pun begitu, tapi itu penting dilakukan. Atau jika mau menunggu lebih lama maka lakukan tappering off, yaitu melakukan pengurangan penggunaan dosis obat agar bisa berhenti secara bertahap." Saran Vina kemudian.


Raihan menatap Pitaloka, lalu berkata "Baik, kami akan memikirkannya lagi nanti."


Raihan menggandeng tangan Pitaloka keluar dari sana, di depan mata Vina.

__ADS_1


__ADS_2