
Raihan dan Richard berangkat bersama menuju Kantor Raihan.
Hari ini keduanya ada meeting untuk membahas kerjasama perusahaan mereka.
...
Sampai saat jam pulang kampus, Raihan dan Richard telah menunggu pasangan mereka masing-masing di depan gerbang.
Para mahasiswi yang keluar duluan, melihat dua pria tampan berdiri di depan gerbang.
Sebagian ada yang mengenali Raihan dan tentunya tidak berani memandang pria itu. Namun ada juga yang tidak. Terlebih Richard, sama sekali tidak ada yang mengenalnya.
"Hei, apa kalian sedang menunggu sesorang?"
Seorang mahasiswi tersenyum mendekati Richard dan Raihan.
Raihan tentu tidak akan melihat gadis seperti itu.
Namun, Richard yang lebih sopan dan ramah dari pada Raihan yang arogan menjawab mahasiswi itu.
"Iya, kami menunggu kekasih kami."
Perkataan Richard sontak membuat senyum mahasiswi itu musnah.
__ADS_1
Dan saat itu juga Pitaloka dan Sesil menuju mereka dengan bergandengan tangan.
Sesil langsung masuk ke tengah Richard dan mahasiswi itu, lalu Sesil merangkul lengan Richard.
Sesil tidak seterbuka itu, terlebih di hadapan paman kecilnya. Tapi tadi dia melihat dari jauh jika mahasiswi yang bernama Alena itu mencoba mendekati prianya. Bahkan Alena berdiri dengan jarak satu senti meter saja dari Richard.
Pitaloka juga satu pemikiran dengan Sesil. Alena memang terkenal sebagai perusak hubungan para pasangan di kampus mereka.
"Ayo sayang!"
Pitaloka menarik Raihan, dan Raihan tentu akan mengikutinya dengan segera. Terlebih ini pertama kalinya Pitaloka memanggilnya dengan sebutan sayang, sehingga Raihan menjadi sangat senang.
Raihan membukakan pintu mobil untuk Pitaloka dan tak lama Richard juga melakukan hal sama untuk Sesil yang dari tadi nempel seperti maghnet pada Richard.
Saat dua pasangan itu pergi dari sana, Alena berkata dengan tersenyum.
Alena menatap mobil Richard, dan berpikir jika pria itulah yang akan menjadi targetnya.
Alena adalah wanita yang sangat menyukai hal yang menantang, dan tentunya termasuk dengan merebut kelasih orang.Terlebih pasangan itu seromantis Richard dan Sesil. Itu membuat wanita seperti Alena semakin tertarik.
...
Malam hari, Sesil bertukar pesan dengan Pitaloka, hingga obrolan mereka sampai pada topik tentang Ramlah, pelayan nenek tua yang kabur setelah ibu Sesil masuk rumah sakit karena keracunan.
__ADS_1
"Aku sangat yakin, pelayan itu kuncinya." Balas Sesil.
"Apa kamu akan mencarinya sendiri? tidakkah sebaiknya kamu mengatakan ini pada Raihan?" Balas Pitaloka.
"Tidak. Aku tidak bisa terus bergantung pada paman. Aku yakin aku akan menemukan bukti dari rasa curigaku." Balas Sesil.
Sesil berencana untuk mencari Ramlah, dan membuatnya mengakui jika seseorang menyuruhnya meracuni ibunya.
Sampai kali ini, mungkin ibunya beruntung dan selamat. Tapi Sesil tidak mau mengambil resiko dan memberi kesempatan baru buat penjahat yang kini sedang bersembunyi di dalam keluarga Saloka.
Penjahat itu harus sesegera mungkin dibereskan, dan Sesil akan melakukannya.
"Baiklah, tapi jika butuh bantuan jangan sungkan beri tahu aku." Balas Pitaloka.
"Tentu."
Keduanya mengakhiri obrolan mereka.
"Faris!"
Sesil sangat yakin jika suami bibinya itulah dalang dari kecelakaan-kecelakaan yang selama ini ibunya alami.
"Sepintar apapun kamu bersembunyi dan mencoba mengecoh semua orang, aku pasti akan menangkapmu."
__ADS_1
Sesil sangat yakin, jika Faris sengaja menyuruh Ramlah, pelayan kepercayaan nenek tua untuk menjadi kaki tangannya. Itu agar saat Ramlah ketahuan, yang menjadi kambing hitam adalah nenek tua, yangbmemang juga tidak menyukai ibunya. Dengan begitu semua orang akan mempercayai hal itu dan Faris akan bebas.
Tapi tidak, Sesil sudah memantau gerak-gerik Faris jauh sebelum ibunya keracunan. Dan Sesil sering melihat Faris keluar masuk kamar Ramlah dilarut malam. Bahkan Sesil curiga, jika Faris dan Ramlah bermain di belakang bibinya, Hestie.