GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Siapa Pun Tidak Boleh Menghina Wanita Milik Raihan Saloka


__ADS_3

"Apa yang nenek katakan?"


Tanya Raihan geram, meski yang dia ajak bicara itu neneknya, tapi dia tidak akan diam saja saat seseorang menghina wanitanya, termasuk nenek tua sekali pun. Apalagi saat ini dia tidak mengerti arah bicara neneknya, apa yang dia maksud?


"Katakan, dimana kamu memungut wanita kotor ini?"


"Nenek...!"


Pertanyaan nenek tua sontak membuat Raihan berteriak dengan nada penuh penekanan.


"Heh, kamu bahkan meneriaki nenekmu demi wanita tidak jelas sepertinya?"


Nenek tua berjalan mendekati Pitaloka, dan membuat Raihan refleks memasukkan Pitaloka dalam pelukannya.


"Wanita yang berasal dari tempat pe**cu**n sepertinya, wanita rendahan dan kotor, kamu perkenalkan sebagai kekasihmu?"


Perkataan nenek tua sontak mengejutkan Raihan dan Sesil.


"Siapa yang mengatakan itu?"

__ADS_1


Raihan bertanya pada nenek tua, tapi melihat Vina saat mengatakannya.


Dia sekarang bisa menebak, kenapa wanita itu juga ada disana. Itu karena wanita itu sudah tau kalau malam ini dirinya akan membawa Pitaloka kesana. Dan wanita itu pasti telah merencanakan ini, dia memberi tau nenek besar tentang penyakit Pitaloka yang beberapa waktu lalu berkonsultasi dengannya.


Tapi yang membuat Raihan bingung, Vina hanya tau jika Pitaloka mengalami ketergantungan obat itu, lalu bagaimana dia tau asal-usul Pitaloka dan masa lalunya? Seseorang pasti telah bekerja sama dengannya dan menyelidiki semua tentang Pitaloka, tebak Raihan.


Vina sontak mundur saat mata tajam Raihan seakan menembusnya.


"Bukan tentang siapa yang mengatakannya, tapi ini tentang kehormatan keluarga kita yang akan hancur karena wanita ko..."


"Berhenti...! Jangan ulangi kata-kata itu lagi. Siapa pun tidak ada yang boleh menghina wanita milik Raihan Saloka... Kalian paham...?"


Kata-kata nenek tua terhenti oleh suara tajam Raihan yang penuh dengan amarah.


Setelah mengatakan itu, Raihan memeluk Pitaloka yang masih terkejut dari sana.


Sesil yang melihat kepergian Raihan dan Pitaloka sangat geram.


Dia ingin mengejar keduanya, tapi dia juga memikirkan ibunya yang masih sakit.

__ADS_1


Sesil meninggalkan empat orang yang mematung karena ucapan Raihan tadi, dan naik ke lantai atas.


...


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak membawamu kesana malam ini." Ucap Raihan sambil terus memeluk Pitaloka, dia bisa merasakan tubuh gadis itu dari tadi tak berhenti bergetar.


Keduanya kini berada di tepi danau, tempat Raihan sering berenang.


"Hiks hiks...!"


Akhirnya Pitaloka menjatuhkan air mata yang sejak tadi berusaha dia bendung.


Pitaloka memeluk Raihan erat, dia bukan sedih karena dikatakan rendah dan kotor. Pitaloka sudah biasa dengan hinaan itu, dan dia tentu bisa menerimanya, karena menyadari masa lalunya.


Tapi entah kenapa, saat hinaan yang sudah biasa dia terima itu keluar dari mulut nenek tua, dia merasa hatinya teriris.


Raihan tidak tau harus berkata apa sekarang, dia tidak biasa membujuk seseorang.


Dia hanya bisa mengutuki dirinya sendiri, yang dengan bodohnya membawa Pitaloka menemui keluarga yang sudah dia kenal sifatnya. Meski nenek tua tidak mengetahui masa lalu Pitaloka, Raihan yakin, nenek tua akan tetap mencari-cari kesalahan dan kekurangan Pitaloka. Seperti itulah yang dia lakukan pada ibu Sesil beberapa tahun lalu.

__ADS_1


"Maaf, maafkan aku."


Raihan hanya bisa meminta maaf sambil memeluk Pitaloka sampai gadis itu tenang dengan sendirinya.


__ADS_2