Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Sang Mentor


__ADS_3

"Anjani tunggu," panggil Anggun dari dalam mobil.


Anjani yang sedang keluar dari kompleks sekolah menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah asal suara.


"Ya, ada apa, Bu," kata Anjani.


"Aku di telepon oleh Abi katanya kau bisa mulai bekerja hari ini," kata Anggun.


"Tapi saya belum mengambil barang-barangnya Bu? Lagi pula apakah orang itu benar-benar mau menerima saya sebagai mentor anaknya?" tanya Anjani tidak percaya diri.


"Dia pasti akan menerimamu karena kau dekat dengan Bumi, dia itu kuncimu untuk mendapatkan pekerjaan ini." Mendengar kata dari Anggun membuat semangat Anjani menyala lagi. Dia lalu masuk ke dalam mobil Anggun menuju ke tempat kostnya yang berada di dalam gang sempit.


"Ibu tunggu di sini saja, saya hanya akan mengambil tas dan beberapa pakaian karena saya tidak punya banyak barang di tempat kost," kata Anjani berlari pergi ke tempat kostnya yang berada di belakang sebuah rumah di pinggir jalan.


Anggun yang sedang menunggu Anjani mendapatkan telepon dari Abimanyu.


"Hallo, Anggun, kau jangan pergi dahulu sebelum aku datang ke sana. Sepertinya aku pulang terlambat. Ada pekerjaan yang tidak bisa kutunda."


"Ya, aku akan menunggumu pulang tapi jangan terlalu malam karena aku punya janji dengan seseorang," kata Anggun.


"Apakah seorang pria?" tanya Abimanyu dari balik telephon. Anggun tersenyum ingin mendengar nada cemburu dari pria itu jika memang pria itu memerhatikannya.


"Ya, dia seorang pria dan tampan pula," kata Anggun melebihkan.


"Kalau begitu selamat, semoga kau menemukan kebahagiaanmu dengan orang yang tepat. Aku berharap bisa mengenal pria itu dengan baik."


"Dia Rudi, mengajakku untuk membahas masalah buku yang akan dikirim ke sekolah," terang Anggun cemberut. Keinginannya untuk mendengar nada jealous dari pria itu musnah sudah. Abimanyu memang tidak punya perasaan apapun padanya.


"Oh aku kira menindak lanjuti dari pernyataannya kemarin," kata Abimanyu.


"Ngawur, aku itu sudah menganggap kalian seperti saudara," kata Anggun munafik pada hatinya sendiri.


"Ya, sudah aku masih ada pertemuan dengan klien lagi. Bye." Abimanyu terdengar mematikan sambungan telepon sebelum Anggun sempat menjawabnya.


Anggun mendesah kecil lalu melihat Anjani sudah keluar dari gang sempit menuju ke arah mobil. Dia memakai kaos dan celana jins ketat seperti layaknya anak muda seumuran dia. Dia terlihat natural dan menarik tanpa sapuan make up. Apakah Abimanyu akan tertarik padanya jika mereka sering bertemu? Pertanyaan itu menggelitik dalam hati Anggun.

__ADS_1


Anjani masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Anggun.


"Sudah?" tanya Anggun. Anjani mengangguk, mobil pun berjalan meninggalkan tempat itu.


Satu jam kemudian mobil memasuki gerbang sebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Rumah itu sangat besar dan terlihat asri. Banyak pepohonan besar di dalamnya dan kebun bunga yang terawat rapi.


"Ini Bu rumahnya?" tanya Anjani takjub. Dia melihat ke sekeliling.


"Wah, besar sekali."


"Aku harap kau diterima bekerja di sini dan betah."


"Jika melihat rumah seindah ini saya merasa berada di sebuah istana kerajaan," ujar Anjani. Anggun menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Rumahnya juga tidak kalah besar dengan rumah Abimanyu jadi melihat rumah Abi itu seperti hal yang biasa untuknya.


"Ayuk kita keluar dari mobil dan masuk," ajak Anggun. Anjani lalu membuka pintu mobil dan keluar. Dia berjalan di belakang Anggun.


Seorang pelayan mendekat dan memberi salam pada mereka.


"Hallo, Nona Anggun," sapa wanita dengan rambut pendek tapi terlihat menarik.


"Hai Lina, aku membawa teman kerja untuk membantumu mengurus para pangeran dan putri dari kerajaan Kusuma," gurau Anggun melihat ke arah Anjani. Anjani menyengir kuda.


"Kenalkan nama saya Anjani Restuti," sapa Anjani mengulurkan tangannya sopan.


"Namanya saja kampungan seperti orangnya," batin Marselina.


"Oh nama saya Marsellina De Frans, panggil saja saya Lina. Saya adalah kepala pengurus rumah ini. Jadi semua yang ada di rumah ini atas sepengawasan saya," ucap Marsellina memperkenalkan kedudukannya di depan anak baru.


Anjani sedikit membungkukkan tubuh. "Kalau begitu mohon bimbingannya karena saya belum tahu tentang semua peraturan rumah ini," ucapnya merendah.


"Ajari dia tentang semuanya Lina," kata Anggun lalu mengajak Anjani masuk ke dalam rumah. Dia sebenarnya tidak terlalu sreg dengan kehadiran Marsellina ke dalam keluarga Abimanyu. Wanita itu terlalu ikut campur dalam urusan pribadi keluarga Abimanyu dan mengendalikan segalanya tanpa anggota keluarga lain menyadarinya. Untung anak Abimanyu tidak ada yang suka kepadanya jika tidak sudah dapat dipastikan Abimanyu pasti akan menikahi wanita ini. Anggun bisa menilai jika dia adalah wanita cantik yang licik bersembunyi dalam penampilan memelas.


"Di mana anak-anak?" tanya Anggun yang bertingkah seperti pemilik rumah ini membuat Marsellina jengah dan tidak suka.


"Mereka ada di dalam ruang bermain," jawab Marsellina sopan.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan ke sana bersama Anjani," kata Anggun.


"Hai, Anggun," sapa Citra yang akan turun dari tangga.


"Hallo, Bu," balik Anggun mendekati Citra dan memeluk serta mencium pipinya membuat hati Marsellina meradang dibuatnya.


"Lama sekali aku tidak melihatmu, Sayang," kata Citra. Dia lalu memegang wajah Anggun.


"Semakin hari kau semakin bertambah cantik dan muda, katakan rahasianya," kata Citra.


"Aku merawatnya seperti biasa Bu," jawab Anggun.


"Akh tidak mungkin, kau pasti melakukan perawatan," jawab Citra lalu mengajak Anggun untuk turun.


"Ya, aku kemarin diajak oleh seorang teman melakukan treatment masker berlian," bisik Anggun yang tahu kesukaan Citra berhubungan dengan kecantikan dan fashion. Maklum Citra adalah mantan artis jaman dahulu.


"Wah, dimana itu?" tanya Citra bersemangat. Anggun lalu mengambil brosur dari tas dan menyerahkan kepada Citra.


Seketika wajah wanita itu terlihat berbinar-binar sembari memegang pipinya yang masih terlihat kencang di umurnya yang telah memasuki 60 tahun.


"Aku akan kesana besok pagi tapi wah, ini bayarannya, apakah Abi mau memberikanku uang sebanyak itu untuk perawatan?" gumam Citra.


Anggun sebenarnya tidak melakukan perawatan itu tetapi dia mengatakannya untuk mengambil hati Citra saja.


"Dia anak baik pasti akan memberikannya," jawab Anggun.


"Oh, tidak mungkin. Yang dia transfer untukku sebulan saja sudah dijatah, tidak seperti dulu. Kau bayangkan, Abi hanya memberiku seratus juta mana bisa membeli banyak keperluanku setiap hari?"


"Seratus juta untuk satu bulan?" batin Anjani memegang dadanya karena terkejut. Dia bisa membelikan rumah baru untuk keluarganya dan membayar hutang mereka dengan yang itu.


"Ibu Anjani," teriak Bumi dari sebuah pintu, dia lalu berlari memeluk Anjani. Bayu dan Tirta yang bersama


"Ibu ... kenapa datang kemari?" tanyanya.


"Ibu Anjani akan tinggal di sini untuk menemanimu," terang Anggun.

__ADS_1


"Jadi gadis ini mentor yang akan mendidik Bayu, Tirta, dan Bumi biar jadi anak yang penurut!" seru Citra terkejut melihat penampilan Anjani yang tidak meyakinkan seperti mentor dalam benaknya.


Sedangkan Bayu dan Tirta sama-sama mengepalkan tangannya. Ayahnya kira dengan mendatangkan guru ini akan membuat mereka menjadi anak baik. Nyatanya, ayahnya salah, mereka hanya butuh waktu, perhatian dan kasih sayang darinya. Batin dua anak itu.


__ADS_2