Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Terpaut Jarak Umur


__ADS_3

Boleh ya Authornya kasih visual orang indo aja yang macho.



visual hot Daddy yang masih ganteng dan macho walau udah punya anak besar. Ibu Anjaninya belum dapat yang klik di hati.


Selama dalam perjalanan Anjani lebih banyak terdiam sembari menjawab beberapa pesan yang membuat Abimanyu penasaran. Apakah pesan itu dari pria semalam. Suara desa- Han terdengar dari mulut Abimanyu. Anjani sekilas melirik tetapi dia abaikan hingga mereka sampai di sebuah taman kota.


Anak-anak langsung keluar dengan senang bersama Anjani sedangkan Abimanyu memarkirkan kendaraannya terlebih dahulu.


"Ibu ayo kita berlari," ajak Tirta.


Bayu sendiri tidak berani mengajak karena tahu luka Anjani pasti masih sakit. Abimanyu mendekat ke arah mereka.


"Ayuk," ajak Abimanyu pada anak-anak.


"Anjani kau mau ikut atau menunggu?"


"Baiklah aku ikut," kata Anjani malas. Dia lalu berlari kecil di taman bersama Bumi sedangkan Abimanyu dan dua anaknya memutari taman itu. Beberapa wanita genit mulai mendekati Abimanyu dan meminta kenalan atau berfoto bersamanya. Membuat Anjani memutar bola matanya malas melihat hal itu. Dasar duda genit. Pikir Anjani.


"Hai, Anjani," panggil seorang pria.


"Hai, Sam," jawab Anjani.


"Kau ada di sini?" tanya Samuel.


"Huum," jawab Anjani pendek.


"Ini adikmu?" tanya Samuel.


"Ibu, aku mau itu," ucap Bumi menunjuk pada jajanan sosis bakar jalanan.


Samuel menaikkan kedua alisnya ke atas.


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan," kata Anjani mengerti pikiran Samuel.


"Matilah aku," rutuk Anjani.


"Ibu ayo cepat," tarik Bumi ke arah pedagang itu.


"Sam maaf," kata Anjani meninggalkan pria itu.


"Tidak masalah," kata pria itu. "Aku juga ingin membelinya.''


Akhirnya mereka bertiga membeli sosis itu.


"Dengan siapa kau kemari, Anja?" tanya Samuel sembari menunggu pedagang itu memasak.


"Dengan Ayah," jawab Bumi membuat Anjani meringis menahan kesal.


"Ayah?" beo Samuel. Pria ini adalah kawan Devan, Anjani takut jika ada salah paham nantinya pada hubungan Devan dengannya.


"Ini tidak seperti yang engkau pikirkan," kata Anjani lagi dengan menyeka keringat di dahi.

__ADS_1


"Ibu aku juga ingin," teriak Tirta dari jauh. Sedangkan Bayu dan Abimanyu masih berlari.


"Wow, kau sudah punya dua anak?" ujar Samuel. "Aku kira kau masih sendiri, hanya berhubungan dengan Devan saja."


"Aku memang... ."


"Neng ini pesanannya sudah matang, anaknya cantik kaya neng," kata penjual itu.


"Ibu punyaku mana?" tanya Tirta tiba-tiba. Anjani menyerahkan wadah berisi beberapa sosis itu.


"Wah, Ayah marah tidak ya kita makan ini?" ucap Tirta sambil memakan sosisnya.


Anjani tersenyum kaku pada Samuel.


"Sam, ini tidak seperti yang kau pikirkan aku hanya," perkataan Anjani terhenti lagi ketika Abimanyu dan Bayu mendatangi mereka.


"Yah, kata Ibu boleh?" kata Tirta.


Abimanyu sendiri lebih fokus melihat Anjani dengan Samuel. Dua pria ini saling menatap.


"Mas, ini pesanannya," kata pedagang itu. Samuel lalu mengalihkan tatapannya dan membayar pesanannya itu.


"Anja, aku tunggu nanti di tempat biasa ya, kau harus menjelaskan semuanya," kata Samuel memegang bahu Anjani. Dengan lesu Anjani menganggukkan kepalanya.


Pasti nanti ada perang dunia ketiga antara dirinya dengan Devan. Tetapi sebelum itu terjadi Anjani lupa jika ada yang menatapnya tajam karena kejadian ini.


"Jadi itu pria semalam yang menemuimu?" tanya Abimanyu tidak tahan.


"Aku lapar," kata Bayu melihat ke arah sekeliling.


"Kita makan di warung tenda ya Ayah?" ajak anak itu.


"Itu tidak higienis," jawab Abimanyu. Hal membosankan yang sering orang kaya katakan tentang warung pinggir jalan.


"Kita coba dulu, jika enak kita makan," kata Anjani.


"Aku setuju," teriak Tirta.


"Bumi?"


"Aku ikut Ibu," jawab Bumi.


"Empat lawan satu, Bapak mau ikut atau tinggal di sini?" kata Anjani sembari berjalan melewati berbagai warung tenda mereka sedikit berdebat lalu akhirnya memilih makan Opor lontong.


Anjani menyuapi Bumi yang terlihat lahap memakan lontong itu. Sedangkan Abimanyu terlihat ragu untuk memakan itu. Bayu menambah lagi karena sangat lapar.


Anjani yang kesal melihat hal itu lalu memberikan satu suapan pada Abimanyu.


"Coba Pak, ini lezat," kata Anjani. Abimanyu melihat sendok di tangan Anjani.


"Iya Yah, coba," kata Bayu lalu mengedipkan alis pada Tirta.


"Ya sudah kalau tidak mau," kata Anjani kembali menyuapi Bumi.

__ADS_1


"Biar aku saja yang menyuapi Bumi kau makan sendiri saja," pinta Abimanyu. Anjani nampak berpikir lalu menyerahkan piring itu pada Abimanyu.


"Yah, kami keluar dulu," kata Bayu dan Tirta yang telah menyelesaikan makanannya.


"Benar Pak, tidak mau ini enak lho," iming Anjani lagi sembari mengaduk opor dengan sambal.


"Memang enak Bu," jawab Bumi. "Tapi aku sudah kenyang," lanjutnya.


"Tidak kau habiskan?" tanya Abimanyu.


"Buat ayah saja sambil menemani Bu Anjani makan," ujar Bumi turun dan berlari mengikuti kedua kakaknya yang berada di luar tenda.


"Habiskan Pak, pamali membuang makanan," kata Anjani.


"Kau saja," jawab Abimanyu menyerahkan piring Bumi.


"Bapak bener nggak mau makan? Atau takut gemuk?" tanya Anjani melihat perut Abimanyu yang datar.


Abimanyu melihat ke arah yang dituju oleh Anjani. "Aku bukan takut gemuk hanya saja aku tidak pernah makan di pinggir jalan."


Anjani lalu menyuapi Abimanyu tiba-tiba. Abimanyu terkejut namun dia kunyah makanan itu. Tidak buruk atau senyum manis anak ini yang membuat rasanya enak. Gila jika aku memerhatikan anak yang terpaut jauh umur denganku. Dia dua puluh tahun lebih muda dariku. Batin Abimanyu.


"Enakkan?"


"Tidak buruk," kata Abimanyu gengsi.


Karena penasaran dengan alasan apa orang kaya menolak makan di pinggir jalan, Anjani menyuapi Abimanyu lagi. "Ini enak coba lagi."


Abimanyu lalu makan lagi.


"Enakkan, sekarang pesan sendiri saja," kata Anjani mengambil sendok baru dan makan dengan sendok baru itu.


Abimanyu menghembuskan nafas kasar.


"Kenapa kau suka punyaku, kalau iya buat aku pesan yang lainnya saja," ujar Anjani yang hendak makan tapi di tatap oleh Abimanyu.


Anjani lalu memesan satu porsi opor lontong lagi untuknya sedangkan Abimanyu menghabiskan punya Anjani. Mereka makan sembari bercerita tentang anak-anak.


"Mereka harus sering diajak berkomunikasi walau ditengah jadwal padamu di kantor. Kau bisa meluangkan waktu dengan menonton TV bersama di malam hari dengan mengajak mereka belajar.


Tiba-tiba handphone Anjani berdering. Anjani langsung mengangkatnya.


"Hallo Devan, maaf aku lupa, aku baru saja berolahraga di taman. Tunggu, aku akan tiba satu jam lagi," jawab Anjani.


"Pak, aku harus pergi, aku ada janji dengan teman," kata Anjani.


"Teman atau teman," tanya Abimanyu dengan nada bercanda tetaplah garing karena dia tidak bisa.


"Mungkin calon suami masa depan, doakan saja," jawab Anjani santai.


***


Masukkan ke favorit, vote dan like jangan lupa, syukur mau komentar karena author paling menunggu komentar dari kalian bikin semangat nulis selain rupiah.

__ADS_1


__ADS_2