Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Misskomunikasi


__ADS_3

Anjani yang sedang bingung karena permasalahan hidupnya pergi ke sebuah gedung bertingkat. Masalah dengan keluarga membuatnya tertekan karena merasa tidak diharapkan. Lalu masalah ancaman dari dosen yang membuat semangat hidupnya turun.


Anjani masuk ke gedung itu lewat pintu belakang berjalan menuju rooftop, naik ke atas melalui tangga darurat. Dia beberapa kali diajak oleh salah satu temannya yang bekerja di gedung ini ke atas hanya saja lewat lift. Kini dia mencoba naik lewat tangga darurat. Walau ada 25 lantai.


Tadi Ibu tiri Anjani menelfon dan mengatakan jika para penagih hutang dari bank datang dan memintanya untuk membayar angsuran yang sudah enam bulan ini mereka tidak bayarkan. Dia meminta bantuan Anjani dengan suara memelas serta meminta maaf karena telah membuat kesalahan ini. Anjani diam namun pikirannya kalut.


Dia ingin meluapkan kekesalannya dengan berada di rooftop itu dan berteriak sekencang-kencangnya. Melepaskan kemarahan dan penat pikirannya.


Anjani menapaki satu demi persatu tangga. Berhenti ketika merasa lelah. Lalu naik kembali hingga akhirnya dia melewati tangga ke 20. Seorang pria sedang berada di lantai dibawah Anjani, memeriksa kerusakan tangga yang dilaporkan oleh anak buahnya.


Dia mendengar derap langkah naik ke atas tangga darurat yang terbuat dari besi. Abimanyu melihat ke atas dan melihat seorang wanita memakai celana jeans naik terus ke atas. Abimanyu yang melihat tulisan 'Awas berbahaya tangga rusak' lalu pergi mengikuti gadis itu.


"Hei kau," teriak Abimanyu pada Anjani. Anjani lalu melihat ke bawah mengira jika pria itu adalah petugas gedung langsung menghindari.


"Hei berhenti kataku," teriak Abimanyu mengejar Anjani. Bukannya berhenti Anjani terus naik ke atas mengabaikan suara derit tangga yang tidak normal. Dia terus saja berlari.


"Tidak mungkin pria itu adalah penjaga gedung, dia memakai pakaian jas lengkap," gumam Anjani terengah-engah namun tetap menaiki tangga demi tangga ke atas.


"Atau dia bos mesum yang sering diceritakan Mawar. Atasan temannya yang suka melecehkan pegawai wanita bawahannya," tebak Anjani dalam hati. Dia lalu melihat ke bawah. Sudah lima lantai dia lewati setelah melihat pria itu. Bukannya berhenti pria itu malah makin getol mengejarnya.


Abimanyu terus saja berlari mengejar Anjani takut sesuatu terjadi pada wanita itu tetapi semakin di kejar gadis itu malah berlari semakin cepat.

__ADS_1


"Berhenti, kataku!" teriak Abimanyu kesal dan jengkel. Dalam hatinya bertanya bagaimana bisa gadis itu punya kekuatan lebih untuk naik tangga secepat itu dan tidak merasa lelah.


"Apa wanita itu ingin bunuh diri?" tanya Abimanyu dalam hati dia mempercepat larinya ke atas untuk memotong pergerakan wanita itu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


Bukan kemarin ada pria yang bunuh diri terjun dari gedung sebelah. Dia takut jika hal serupa terjadi di gedungnya. Dia bertanggung jawab penuh atas keselamatan orang-orang di gedung ini karena dia pemiliknya.


Rasa cemas, takut dan khawatir terpatri jelas di wajah Abimanyu. Dugaannya semakin kuat ketika dia melihat wanita itu ketakutan dan panik ketika melihatnya, itu jelas menggambarkan jika wanita itu kepergok ingin melakukan hal gila seperti terjun dari lantai atas misal untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


"Tangga lantai terakhir, bagaimana ini?" kata Anjani pada diri sendiri. Dia merasa sudah terpojok dan tidak tahu harus kemana lagi untuk menghindari pria mesum itu. Dia masih melangkahkan kaki, menaiki tangga walau nafasnya tinggal separuh sambil memegangi dadanya dan mendorong pintu rooftop dan berlari keluar mencari tempat bersembunyi namun tidak ada celah yang bisa membuatnya merasa aman.


Abimanyu sudah mulai memelankan langkahnya. Sembari melihat situasi. Dia masih mengikuti gadis itu ikut berjalan mendekati wanita itu.


"Jangan dekati aku!" teriak Anjani sambil mundur ke belakang menghadap Abimanyu, sesekali dia menengok ke belakang. Takut jika terjatuh ke bawah.


"Nona, jangan bergerak," seru Abimanyu tegang karena di belakang wanita itu hanya ada pagar setinggi panggil saja bisa-bisa wanita itu meloncat turun ke bawah sana dan mati. Abimanyu bergerak maju dengan pelan, mencoba meraih tubuh Anjani agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak.


"Jangan mendekat atau aku ... ," Anjani sudah tersudut dengan tembok pembatas itu. Pilihannya adalah ditangkap pria itu atau mati. Dua pilihan yang sama-sama sulit dan tidak mudah untuk dilakukan.


"Nona, jangan bertindak bodoh menyerah lah, " kata Abimanyu membuat hati Anjani tambah ketakutan. Dia panik. Tangannya lalu masuk ke dalam tas yang terselempang di bahunya. Merogoh ke dalam. Berharap ada senjata yang bisa dia gunakan untuk menjatuhkan lawannya. Sesuatu yang bisa menolongnya dari pria itu.


"Jangan mendekat atau aku akan berbuat nekad," ancam Anjani membuat Abimanyu bertambah was-was. Dia pikir bahwa tebakannya jika wanita itu akan bunuh diri adalah benar. Dia harus cepat meraih tubuh wanita itu agar tidak bertindak macam-macam. Mencegah peristiwa buruk terjadi di depan matanya.

__ADS_1


"Kasihan sekali muda dan cantik, sayang menderita depresi," batin Abimanyu mencari celah dari kelalaian Anjani sehingga dia bisa menarik tubuh wanita itu ke dalam dirinya.


Tangan Abimanyu meraih tangan Anjani dan menariknya. Wanita itu lalu mengeluarkan botol minum yang terbuat dari stainless steel dan memukul kepala Abimanyu dengan keras.


"Kya... !" Botol itu tepat mengenai pelipis Abimanyu.


"Akh!" Seketika pandangan Abimanyu langsung kabur. Beberapa anak burung berputar di depan matanya. Tubuh pria itu lalu terhuyung ke belakang dan roboh, jatuh tidak sadarkan diri.


Badan Anjani bergetar hebat. "Apakah dia meninggal?" Kakinya terasa lemas sembari memegang dadanya yang seperti terlepas dari tempatnya.


Dengan langkah pelan Anjani mendekati Abimanyu yang tergeletak di lantai, matanya membelalak lebar ketika melihat darah segar mengalir dari kening pria itu. Anjani menutup mulutnya. Bibirnya bergetar hebat. Matanya memanas seketika.


Dia tidak bermaksud melukai pria itu apalagi membunuhnya. Dia hanya membela diri.


"Kau membunuhnya, kau membunuhnya," gumamnya sendiri. Kaki Anjani menyentuh tubuh Abimanyu untuk mengecek apakah pria itu hanya berbohong? Tidak ada respon. Anjani lalu berjongkok.


"Maaf," ujar Anjani menggoyang tubuh pria itu.


"Hei, bangun!" ucapnya dengan rasa yang cemas sembari memegang dahinya.


Namun pria itu tidak bergerak sama sekali.

__ADS_1


"Sepertinya dia mati betulan. Aku telah menjadi seorang pembunuh. Ayah, tolong aku," ucap wanita itu dengan suara serak dan gemetar. Anjani mengerang pelan. Dia menangis dan berlari keluar dari tempat itu mencari bantuan melalui pintu lift.


__ADS_2