
Akhirnya Abimanyu memperlihatkan kedekatannya dengan Anjani setelah ibunya memberi restu, dia langsung membawa Anjani keluar rumah dengan dalih akan mengantarnya ke universitas. Alasan yang sengaja dibuat padahal dia ingin menuntaskan masalah mereka di kantornya.
Sepanjang perjalanan ke kantor mereka hanya terdiam tidak mengatakan apapun. Anjani lebih suka menatap keluar jendela. Jika biasanya mereka akan menepi untuk makan pagi kali ini Abimanyu terus saja mengendarai kendaraannya.
"Kita akan kemana?" tanya Anjani.
"Kita akan ke kantorku!" ujar Abimanyu pada Anjani.
"Kantormu? Kau gila nanti apa yang akan mereka katakan?" Anjani memegang dahinya karena terkejut. "Mereka akan mengira jika aku sugar baby-mu," cetus Anjani menatap Abimanyu.
"Kau memang anak gula kesayangan," ujar Abimanyu menyentuh dagu Anjani lembut.
"Mas Abi ini bukan perkara yang lucu!"
"Yang lucu itu kau, ingin menutupi hal ini dari semua orang."
"Bukan begitu, aku hanya ingin...." Anjani meninju udara karena kesal.
"Kita bicarakan ini nanti setibanya di kantor. Aku sedang mengemudikan kendaraan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kita."
__ADS_1
Mereka akhirnya terdiam. Sesekali Abimanyu mengusap kepala Anjani pelan membuat wanita itu luluh lalu bersandar di lengannya.
"Aku lapar," ucap Anjani melihat ke arah Abimanyu.
"Kita akan di kantor saja, Okey. Aku sudah menyuruh sekretarisku untuk menyiapkan sarapan."
"Kau selalu pengertian," kata Anjani manja.
Menikahi yang lebih dewasa memang lebih mudah, mereka lebih mau mengerti kita dan menekan ego mereka masing-masing. Pikir Anjani.
Satu jam kemudian karena jalanan yang padat mereka baru sampai di kantor Abimanyu. Pria itu langsung membawa Anjani melalui lift khusus petinggi kantor. Ketika lift mulai terbuka mereka keluar. Di sana duduk beberapa wanita cantik dan seksi di depan ruangan. Sedangkan beberapa pria berdiri untuk memberi salam pada bos mereka.
Mereka menyapa Abimanyu, sedangkan pria itu lebih suka menggenggam tangan Anjani dari pada membalas sapaan anak buahnya. Semua mata tertuju ke arahnya. Wanita biasa yang dibawa oleh Presiden direktur mereka.
"Selamat pagi, Pak!" sapa Ratu dan assisten sekretaris dari Abimanyu.
"Pagi, apakah kau sudah menyiapkan sarapan untukku!" tanya Abimanyu.
"Sudah saya siapkan di dalam," jawab Sekretaris itu.
__ADS_1
"Katakan pada semua karyawan jika rapat diundur setengah jam lagi. Satu lagi saya sedang tidak ingin diganggu."
"Baik, Pak Presiden."
Abimanyu menarik tangan Anjani. Wanita itu terkejut karena sedang melihat ke sekeliling ruangan itu yang terlihat menakjubkan tatanannya. Anjani tidak menyangka jika dia sudah menikahi pria pemilik dari gedung tiga puluh tujuh lantai. Seketika Anjani merasa menjadi orang yang beruntung.
Suasana di dalam ruangan Abimanyu malah terlihat lebih artistik. Anjani tidak tahu harus bagaimana cara menggambarkannya tetapi sangat bagus dan indah.
Abimanyu membawanya di kursi sofa. Di mejanya sudah ada beberapa hidangan dengan menu sarapan pagi.
"Kau mau memilih yang mana?" tanya Abimanyu.
"Aku mau bubur ayam ini saja," ujar Anjani tanpa sungkan lagi melahap habis makanan itu dengan cepat.
"Kalau mau lagi tinggal ambil saja yang lain," kata Abimanyu. Anjani menggelengkan kepalanya.
"Rupanya bermain olah raga malam membuat perutku lapar di pagi hari," ucap wanita itu.
"Kau tidak harus berada di tempat fitness untuk melakukannya cukup denganku saja maka kau sudah banyak mengeluarkan keringat."
__ADS_1
"Mas Abi ini," kata Anjani malu dengan wajah memerah.
"Anja, aku ingin bertanya soal obat penunda kehamilan itu," kata Abimanyu membuat tegang Anjani.