
"Ayah kami mau Ibu Anjani yang jadi mentor kami," kata Bayu dan Tirta bersamaan. Membuat Abimanyu terkejut.
"Dia wanita yang tidak baik bagi kalian," tolak Abimanyu tidak mau kalah.
"Tapi Ayah kami yang membutuhkan seorang mentor bukan Ayah, jadi kami yang akan memilihnya," ujar Bayu.
"Ini tidak lucu Bayu kau tidak tahu siapa dia?"
"Apakah Ayah juga sudah mengenalnya? Ayah tidak mengenalnya? Ayah hanya menilai dari luarnya saja," kata Bayu. Abimanyu lalu melihat ke arah Anjani yang berjongkok memeluk Bumi yang menangis tersedu.
"Ayah bilang tidak, ya tidak," tegas Abimanyu.
"Ayah tidak bisakah kau melihat Bumi, dia sangat menyayangi Kakak ini sama seperti menyayangi Ibu, itu artinya Kakak ini memberikan kasih sayang tulus buat Bumi," kata Tirta yang selalu membela Bumi dan bermain dengannya. Dia adalah orang yang paling dekat dengan Bumi di rumah ini.
Abimanyu menarik rambutnya yang lurus ke belakang dan mulai berpikir. Lalu menatap lagi kebersamaan Anjani dan Bumi. Bayu dan Tirta yang sulit untuk menerima orang baru dalam kehidupan mereka malah mendukung kedatangan mentor baru ini. Adakah yang istimewa?
Abimanyu teringat akan pukulan wanita itu dan kemarahannya tadi. Itu sangat menyeramkan. Seperti kiamat baginya. Akan sangat berbahaya untuk memasukkan wanita ini ke dalam kehidupannya.
"Ayah, kami berjanji akan jadi anak penurut dalam kelas jika kau mengijinkannya tinggal di sini," kata Bayu.
Abimanyu menarik kedua alisnya ke atas terkejut. "Baiklah, tapi janji kau tidak akan membuat masalah lagi di sekolah hingga akhir tahun."
"Aku berjanji," jawab Bayu.
"Kalau begitu dia boleh tinggal di rumah ini tapi ingat jika kalian membuat masalah di luar, aku akan memberhentikannya menjadi mentor. Oleh karena, dia tidak bisa mengendalikan tingkah laku kalian."
"Marsellina perintahkan pelayan lainnya untuk membawa dia ke kamar pelayan," perintah Abimanyu pada Marselina.
"Ba... ," perkataan Marselina terpotong ketika Bumi berkata lain.
"Ayah bolehkah ibu Anjani tidur bersamaku saja," pinta Bumi.
"Tidak bisa itu adalah kamarmu, kamar pelayan ada sendiri di belakang," ujar Abimanyu.
"Kalau begitu aku akan tidur di kamar ibu Anjani saja setiap malam," kata Bumi.
Abimanyu menarik nafas panjang ketika melihat tatapan tajam dari dua putranya.
"Baiklah, dia akan tidur di kamar sebelahmu," ucap Abimanyu.
__ADS_1
"Berarti bekas kamar Aunty Eva?" tanya Bumi.
"Iya," kata Abimanyu.
"Yeay, Ayah memang Ayah terbaik, aku Sayang Ayah," ucap Bumi mendekat pada Ayahnya untuk menciumnya sesuatu yang tidak pernah dia lakukan setelah kematian Lara.
"Dia berada di sana agar bisa memantau tingkah laku kalian dua puluh empat jam," ujar Abimanyu melirik ke arah Anjani.
"Aku bukan seorang diktator yang akan mengekang kebebasan kalian. Aku hanya ingin mengajari kalian cara berpikir 'orang dewasa'," ucap Anjani sembari menggerakkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.
Abimanyu lalu merapikan jasnya dan naik ke atas tangga menuju kamarnya. Bayu dan Tirta langsung beradu dada. Bumi berteriak girang.
Marsellina merasa cemburu melihat kedekatan Bumi dan Anjani dalam senyumnya dia mengepalkan tangan keras. Lalu pergi ke kamar Abimanyu untuk membantu pria itu menyiapkan air mandi.
Citra dan Anggun lalu turun kembali ke bawah. "Benar kau tidak mau makan malam di rumah ini?" tanya Citra.
"Maaf Bu, aku ada janji dengan orang lain," terang Anggun.
"Hm. Ya sudah," Citra lalu melihat Anjani berjalan di seret oleh Bumi sedangkan seorang pelayan berada di belakang mereka.
"Mau di bawa kemana Bu guru cantik ini?" tanya Citra.
"Kenapa, Oh kenapa harus kamar putriku?" tanya Citra bingung dan tidak terima.
"Aunty kan sudah punya apartemen sendiri, Oma tidak memerlukan kamar itu lagi. Sayang kan jika harus dikosongkan. Nanti malah ditinggali hantu kuntilanak," kata Bayu yang tahu jika Omanya sangat takut dengan namanya makhluk ghaib tidak kasap mata.
Mereka bahkan berkali-kali mengerjai Omanya dengan pura-pura menjadi pocong atau makhluk lain di malam hari.
"Hantu, aku jadi ingat terakhir kali aku melihatnya ada dibawah jendela rumahku," kata Citra gugup, membuat Bayu dan Tirta menahan tawanya setengah mati. Anggun yang melihat keanehan dua orang anak itu menajamkan matanya melihat ke arah mereka.
"Karena itu sebaiknya kamar aunty digukana dulu oleh Kakak cantik ini," kata Bayu.
"Cantik, ciye, Bayu udah tahu mana yang cantik mana yang tidak," goda Anggun.
"Tante, orang buta pun bisa merasakan kakak ini cantik kayak artis film," kata Bayu.
"Memang benar," tambah Tirta.
"Panggil dia ibu Anjani bukan kakak?" ujar Anggun.
__ADS_1
"Dia masih sangat muda tidak pantas jadi Ibu pantasnya jadi kakakku," kata Bayu.
"Ya sudahlah, kalian bisa memanggilnya sesuai keinginan hati kalian."
"Tunggu dulu soal hantu itu, aku melihatnya beberapa kali di rumah ini," kata Citra lagi.
"Setelah Anjani ada di sini permasalahan hantu tidak akan ada lagi."
"Apa dia seorang seorang cenayang atau indigo yang bisa mengusir hantu?"
"Tidak hanya saja dia bisa mengusir hawa negatif dengan kasih sayangnya," ucap Anggun.
"Oh begitu syukurlah." Citra membenarkan letak rambutnya. "Kesalahan para hantu itu satu, mereka tidak merawat diri sehingga terlihat seram," imbuh Citra lagi.
***
Malam harinya ketika Abimanyu keluar untuk makan malam dia terkejut melihat seorang wanita dengan rambut hitam lebat sepinggang yang diikat rapi ke belakang. Wanita itu memakai rok sebatas lutut yang ketat dan kaos sweater turtleneck berwarna putih, menampilkan lekukkan tubuhnya yang indah.
Entah mengapa hal itu membuat Abimanyu menelan ludahnya. Selama ini tidak pernah ada wanita yang bisa membuat dirinya tertarik sama sekali.
"Sudah siap," kata Anjani setelah mengepang rambut Bumi.
"Seperti Elsa dalam film Frozen," teriak Bumi riang membuat hati Abimanyu menghangat. Sudah lama dia tidak mendengar tawa riang Bumi.
Anjani lalu menggendong tubuh mungil Bumi dan membawanya keluar. "Aku akan memamerkannya pada Oma, dia pasti akan meminta dibuatkan yang seperti ini," cerita Bumi.
Anjani membalikkan tubuhnya dan terkejut ketika melihat Abimanyu ada di depannya. Dia masih sedikit tidak enak pada pria itu atas kejadian tadi siang yang menegangkan urat leher mereka.
"Bapak," lirih Anjani.
"Ayah lihatlah rambutku ini, baguskan? Ibu Anjani yang membuatkannya untukku," ungkap Bumi.
Abimanyu tersenyum kaku. Dia mengulurkan tangan untuk menggendong Bumi.
"Aku mau dengan Ibu Anjani saja," ucap Bumi menolak ayahnya.
Abimanyu lalu menarik tangannya dan mempersilahkan Anjani berjalan terlebih dahulu.
"Pria ini jika tidak sedang galak sebetulnya tampan. Hanya saja, wataknya yang keras membuat semua orang hilang rasa padanya," batin Anjani.
__ADS_1