Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Belanjaan Lamaran


__ADS_3

Anjani hanya membeli beberapa makanan untuk dibawa pulang ke rumahnya sementara itu, dia menunggu Abimanyu di sebuah mall.


Setelah setengah jam menunggu dan kopi yang dia pesan hampir habis akhirnya Abimanyu datang dengan menutup matanya dari belakang.


"Sudahlah kita bukan anak kecil yang harus main tebak-tebakan. Kita orang dewasa yang sedang," ucapan Anjani terhenti tatkala nafas Abimanyu mengenai lehernya.


"Di mabuk cinta," bisik Abimanyu di telinga Anjani.


"Ish, mencari jati diri."


"Anjani apa yang sudah kau beli?" tanya Abimanyu melihat bungkusan di atas meja.


"Kau hanya membeli makanan ini saja? Kau akan membuatku malu. Mereka mengira calon menantunya pria yang kikir," ujar Abimanyu. Dia lalu duduk di dekat Anjani.


"Orang tuaku bukan orang yang matre," kata Anjani.


"Kalau begitu aku adalah menantu yang baik hati akan memberi banyak hal untuk calon mertuaku." Anjani mencebikkan bibirnya.


"Kau mau kupesankan kopi?"


"Tidak kita cepat pergi karena ini sudah siang. Apa kau sudah makan?"


"Sudah tadi."


"Bagus. Sekarang kita pergi." Abimanyu lalu membayar pesanan kopi dan kue Anjani lalu menarik tangannya ke lift menuju ke lantai atas mall itu.


"Bukankah kita akan pergi ke rumah ayah," kata Anjani bingung. Setelah keluar dari lift tangan Anjani ditarik masuk ke dalam sebuah toko perhiasan.


"Kita mau apa?"


"Membeli cincin nikah," kata Abimanyu.


"Kita bahkan belum meminta restu orang tuku terlebih dahulu," kata Anjani.


"Menurut saja padaku," bisik Abimanyu.


"Selamat Siang Tuan dan Nyonya adakah yang bisa saya bantu?" tanya seorang pramuniaga toko.

__ADS_1


"Kami ingin sepasang cincin pernikahan dengan model terbaru," kata Abimanyu. "Saya sudah memesannya pada manager toko ini," imbuhnya lagi.


Pramuniaga itu lalu masuk ke dalam ruang kantor dan seorang pria tinggi serta kurus keluar dari ruangan.


"Tuan Kusuma. Cincin pesanan Anda telah saya siapkan terserah Anda mau memilih yang mana."


Pria itu lalu mengeluarkan tiga kotak berisi sepasang cincin bertahtakan berlian 2.5 karat.


"Ini harga sepasang ya berapa?" tanya Anjani penasaran dengan harganya bukan tertarik dengan bentuknya.


"Oh, yang ini 485 juta, kalau yang ini 650 juta sedangkan yang Tuan Kusuma pesan ini harganya bisa sampai delapan ratus jutaan."


Mendengar itu Anjani mau pingsan. Dia bisa membawa banyak uang di satu jari manisnya.


"Untuk sebuah cincin nikah kau tidak perlu membayar mahal," bisik Anjani melirik cincin itu. Kilauannya indah tetapi itu sesuai dengan harga yang harus dibayarkan.


Bukannya menjawab Abimanyu malah menarik jari manis Anjani dan mencoba pilihannya.


"Lihat memang pas untuk kau gunakan," kata Abimanyu. Anjani lalu melepaskan cincin itu.


"Kau bisa bangkrut dan tidak bisa membayar karyawanmu jika harus menghamburkan uang sebanyak ini," lanjut Anjani.


"Tolong bungkus ini saya akan mengambilnya. Pilihanmu memang bagus," ujar Abimanyu.


Manager itu tersenyum geli melihat perdebatan itu. Abimanyu sepertinya memilih istrinya yang sederhana untuk dirinya sendiri.


"Apa kau membelinya?"


"Itu bisa kujual jika aku membutuhkan uang untuk membayar karyawanku, tetapi sebelum itu kau gunakan nanti sebagai cincin nikah. Benar begitu manager?"


"Anda benar Tuan Abimanyu," jawab manager itu geli.


"Kau itu membuatku malu saja." Namun, Anjani masih terlalu sayang untuk menghamburkan yang sebanyak itu untuk membeli cincin saja.


"Anjani, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu," kata Abimanyu dia lalu menarik tangan Anjani lagi masuk ke sebuah toko pakaian pria dan wanita memilih beberapa baju untuk kedua mertuanya dan kakak tiri Anjani.


Setelah itu memberi sepatu, tas dan juga beberapa barang yang diperlukan untuk proses ijab qobul dia ingin semuanya atas pilihan Anjani. Namun dia memang benar-benar memilih Baju atau apapun yang murah. Abimanyu tidak bisa memaksanya.

__ADS_1


Setelah mereka memborong barang-barang itu Pak Slamet membantunya membawa ke mobil yang dia bawa sedangkan Abimanyu memilih menggunakan mobil lain untuk pergi dari sana.


Setelah itu, mereka pergi ke rumah Anjani. Anjani lebih banyak terdiam didalam mobil tidak mengatakan apapun. Padahal biasanya dia selalu bertingkah cerewet.


"Apa kau mulai ragu jika ragu kita tidak perlu teruskan lagi."


"Aku tidak tahu hanya saja cemas apa yang akan ayah katakan mengenai aku. Ayah pasti marah jika tahu aku mau menikah sebelum menyelesaikan kuliah.


"Dia tidak akan marah, percaya padaku." kata Abimanyu


"Kau itu ingin menenangkanku saja," ujar Anjani.


"Tidak akan ada ayah marah mendapat menantu sepertiku," lanjut Abimanyu.


"Kau itu terlalu narsis."


"Kau lihat saja nanti. Kami pasti bisa berteman dengan baik. Ayah Lara pun sangat bangga punya menantu seperti aku," kata Abimanyu.


"Kalau boleh tahu apakah Lara berasal dari keluarga kaya?"


"Ya, dia dari keluarga Cahyo Gumelar, apa kau pernah mendengarnya? Pemilik Cahyo grup. Perusahaan yang bergerak di pembuatan barang-barang kebutuhan rumah tangga."


"Aku tidak kenal orang kalangan atas," lirih Anjani lemah. Entah mengapa tiba-tiba dia menjadi kecil hati. Marsellina benar dia tidak pantas disamakan dengan Lara.


"Kau jangan sedih seperti itu. Aku tidak akan memandangmu dari mana kau berasal. Bagiku kau adalah wanita terbaik yang pernah ada," ujar Abimanyu yang bisa merasakan perasaan Anjani yang tidak enak. Dia menepuk pucuk kepala wanita itu.


"Aku suka orang mengenalmu sebagai istriku, hanya itu yang mereka tahu. Dari pada mengenal istriku yang anak pengusaha besar. Itu beban berat karena aku harus selalu berada di atas baru bisa membuat istri dan kelurganya bangga," ungkap Abimanyu.


"Jika denganmu aku selalu merasa hebat bukan karena aku berada di atasku tetapi aku senang menjadi pahlawan untuk mengatasi semua masalahmu. Seolah aku menjadi pria yang sangat kau butuhkan." Abimanyu menggenggam tangan Anjani dan meremasnya. Anjani menoleh dan tersenyum padanya.


Mereka terus berpegangan tangan hingga mobil sampai di depan rumah Anjani. Anjani samasekali tidak terkejut mengetahui Abimanyu tahu letak rumahnya. Pria itu memang tahu semua hal tentang dirinya.


Mereka memarkirkan kendaraan di tepi jalan depan rumah Anjani. Mobil Pak Slamet ikut berhenti di belakangnya. Ukuran mobil yang besar tidak sesuai dengan badan jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Jadi salah satu warga meminta mereka parkir di tempat lain. Abimanyu setuju hanya saja dia akan menurunkan barang-barang bawaan mereka yang telah di susun dengan rapi di bagasi belakang mobil. Tadi Abimanyu memang meminta semua barang itu dibungkus dengan boks agar terlihat menarik.


Satu orang pegawai Abimanyu yang telah menunggunya mendekat dan ikut membawa masuk hantaran yang Abimanyu bawa sedangkan Cindy serta Andri hanya terdiam menatap itu semua.


"Banyak sekali Pak?" bisik Cindy. "Kayak seperti mau lamaran saja."

__ADS_1


"Ssst." Cindy langsung terdiam ketika melihat tatapan tajam Andri.


__ADS_2