
Setelah tiga hari Bumi di rawat di rumah sakit akhirnya anak itu pulang kembali ke rumahnya. Dia sudah terlihat sangat baik bahkan sudah berlari menuju ke rumahnya ketika dia turun dari mobil.
"Selamat siang, Nona Cantik," sapa Marsellina tersenyum lebar. Wajahnya terlihat berseri-seri.
"Namaku Bumi bukan Cantik," kata Bumi, songong. Entah mengapa dia sangat tidak suka jika berhubungan dengan Marselina. Dia lalu pergi begitu saja mencari keberadaan kakaknya.
"Kak Bayu, Kak Tirta," panggil Bumi rindu pada sosok mereka.
Marsellina begitu terkejut ketika melihat Anjani sudah berada di dekat mobil bersama dengan Abimanyu. Mereka terlihat dekat.
"Biar aku saja yang membawakannya," pinta Abimanyu pada Anjani.
"Biar saya saja yang membawa tas milik saya, lagi pula ini tidak berat. Bapak bisa membawa tas berisi pakaian Bumi," kata Anjani.
"Biar saya saja Tuan Presiden," kata Marsellina maju membuka bagasi dan mengambil tas Bumi.
"Kau lihat biar aku bawa punyamu. Kau sudah lelah menunggu Bumi dari kemarin sekarang ijinkan aku membantumu," pinta Abimanyu.
Anjani lalu menyerahkan tas besarnya kepada Abimanyu. Mereka tadi sempat mampir ke tempat kostnya dan membawa semua pakaian Anjani serta berpamitan pada pemilik kost sedangkan barang lainnya akan Anjani bereskan besok dan dikirim ke rumah orang tuanya.
Anjani dan Abimanyu lalu berjalan beriringan sedangkan Marselina menghentakkan kaki jengkel melihat semuanya tidak seperti yang dia inginkan.
Sejenak langkah Anjani memelan ketika melihat kamar Abimanyu, terdengar hembusan nafasnya yang kuat.
"Maaf," kata Abimanyu merasa bersalah mengerti apa yang Anjani pikirkan. Anjani hanya tersenyum kecut meneruskan kembali langkahnya.
Anjani lalu membuka pintu kamarnya. Masih sama seperti saat dia tinggalkan belum ada yang berubah sama sekali. Dia berjalan membuka korden jendela dan menghirup udara kamar itu lagi.
Abimanyu meletakkkan tas yang dia pegang di atas tempat tidur. Dia menatap Anjani dengan berbeda kali ini. Baginya Anjani adalah sumber kehidupan rumah ini jadi sebisa mungkin dia mempertahankannya entah bagaimana caranya.
"Ibu Anja," panggil Tirta dan Bayu masuk ke dalam kamar. Mereka lalu mendekati Anjani dan memeluknya bergantian.
"Ibu apakah akan kembali kemari?" tanya Tirta senang. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan Anjani setelah insiden keluarnya wanita itu dari rumah ini.
__ADS_1
"Sepertinya iya, jika kalian berjanji tidak akan nakal," jawab Anjani.
"Yang nakal di sini Ayah," jawab Bumi. Wajah Abimanyu terlihat lesu ketika mendengarnya.
Anjani melihat pada Abimanyu lalu mendekati Bumi dan berjongkok. Satu tangannya memegang lembut dagu Bumi.
"Kami belum saling mengenal jadi wajar bila bertengkar. Seperti kau dan kakakmu terkadang kalian bertengkar lalu kembali baik lagi." Bumi menganggukkan kepalanya mengerti.
Mereka lalu bercerita tentang Bumi yang berada di rumah sakit. Dari jauh terdengar suara gelak tawa membuat semua pelayan yang mendengarnya ikut merasa bahagia. Akhirnya rumah ini kembali ceria. Hal berbeda dirasakan Marsellina di dalam kamar Bumi. Dia duduk di tempat tidur Bumi sembari menangis sedih.
Pengabdiannya selama ini terasa sia-sia. Dia tetap diabaikan oleh anak-anak Abimanyu apalagi Bumi. Itu terasa sangat menyakitkan untuknya. Padahal dari bayi Bumi dia ikut mengasuhnya. Mengapa ketika Anjani datang semua beralih padanya? Tidakkah mereka berpikir tentang hatinya?
***
Sedangkan di sebuah apartemen di tengah kota Jakarta. Citra sedang memangku tangan melihat ke arah jendela luar.
"Apa kau tahu betapa malunya Ibu karena perbuatan Abimanyu?" ucap lirih wanita itu.
"Bu, kau harus bersabar. Kau tahu sifat kakak itu kaku," kata Evangelin.
"Kau memilih hidup bersamanya karena masih sayang dengan rumah itu," gerutu Evangelin duduk di sebelah ibunya.
Kepala wanita muda itu di tonyor oleh Citra.
"Bagaimana lagi, itu adalah rumah warisan dari suamiku dan aku ikut membangun rumah itu. Kau dan Robin sudah pergi dari rumah itu haruskah aku menyerahkannya begitu saja pada anak itu. Dia bahkan tidak pernah memikirkan aku," rutuk Citra.
"Jika dia tidak memikirkanmu dia tidak akan mentransfer uang seratus juta setiap bulan ke rekeningmu," ucap Evangelin ketus. Ibu suka tidak bersyukur jika sudah diberi kehidupan lebih oleh Abimanyu.
"Namun itu memang hakku. Sewaktu dulu ayahmu masih hidup aku bahkan diberi yang empat kali lipat dari yang diberi oleh kakakmu," kata Citra tidak mau kalah."
"Itukan dulu, sekarang berbeda Bu. Anak-anak mu sudah bisa bekerja menghasilkan uang sendiri. Sekarang kau hanya hidup untuk dirimu sendiri," terang Evangelin santai sembari mengambil apel di dekatnya dan menggigit.
"Apa kau sudah mulai bekerja lagi?" tanya Citra.
__ADS_1
"Belum," jawab Evangelin santai.
"Ya Tuhan jika kau keluar dari perusahaam itu maka kakak mu Robin tidak ada yang mendukungnya. Abimanyu akan semakin berkuasa di sana," kata Citra memegang kepalanya.
"Bekerja itu lelah Bu, aku akan mencari suami kaya seperti kakak saja yang bisa membiayai hidupku ke depannya."
"Bekerja sembari mencari suami kaya. Kau tahu jika kau bekerja kau akan terlihat seperti wanita pintar yang energik. Bisa membuat para petinggi perusahaan besar berminat menjadikanmu menantu mereka."
"Aku tidak mau menikah dengan mereka, jika saja aku menginginkannya aku sudah dijodohkan oleh kakak dari dulu. Aku ingin mencari pria seperti kakak yang kaya dan sangat mencintai istrinya," ujar Evangelin.
"Kau terlalu memuja Abimanyu, padahal kakakmu Robin tidak kalah hebat dengan Abimanyu. Dia hanya tidak bisa mengembangkan dirinya karena dalam tekanan Abimanyu," kata Citra.
"Kata siapa? Kemarin Kak Robin membuat masalah di perusahaan dia menggelapkan dana pembangunan proyek di Sulawesi dan mengakibatkan kerugian yang amat banyak untung saja Kak Abimanyu menutupnya."
"Robin melakukan itu? Untuk apa? Apakah uang yang dia dapatkan masih kurang? Seharusnya dia tidak melakukan kesalahan itu. Hal itu akan membuatnya jauh dari kursi kepemimpinan."
"Buah tidak jatuh dari pohonnya," kata Evangelin.
"Apa maksudmu? Kau menyindir ibumu ini dan membela si dingin itu?"
"Bukan begitu Mom, kau tadi berteriak apa yang yang dia dapatkan itu kurang sehingga harus melakukan itu? Hal sama tadi aku pun katakan pada Ibu, apa uang yang Abimanyu itu kurang hingga membuat Ibu marah-marah? Robin melakukan itupun punya alasan tersendiri."
Citra lalu membelalakkan matanya untuk mendengarkan alasan apa yang digunakan Robin sehingga menghabiskan uang sebanyak itu.
"Lalu alasannya apa?"
"Karena dia kalah judi di Singapura dan dua harus menggadaikan properti perusahaan," kata Evangelin.
"Dan kau bukannya membantu kakakmu malah keluar dari perusahaan itu?''
"Aku malu punya kakak seperti dia, Bu," ungkap Evangelin. Citra mengehela nafas panjang.
"Ibu rasa bukan itu alasannya dia hanya ingin haknya di perusahaan itu dia dapatkan. Ibu juga ingin hak ibu dirumah itu ibu dapatkan!" ucap Citra dia lalu bangkit dan mengambil tasnya.
__ADS_1
"Ibu mau kemana?"
"Melakukan pekerjaanku!" Evangeline mengernyitkan dahinya. Memangnya ibunya punya pekerjaan apa yang penting?