
Di rumah Abimanyu sendiri, Evangeline datang bersama ibunya, Citra atas perintah dari Abimanyu. Mereka lalu langsung pergi ke kamar atas.
"Selamat malam, Nyonya Besar," sapa Marsellina yang bersiap untuk pulang kembali ke rumahnya.
Citra menganggukkan kepalanya.
"Selamat malam, Nona Eva." Eva lalu tersenyum manis pada Marsellina.
"Rumah kok sepi, pada kemana?" tanya Citra menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah.
"Oh, Tuan Abimanyu membawa anak-anak dan juga Anjani pergi berlibur."
"Anjani?" gumam wanit itu. "Kemana?" cecar Citra.
"Saya kurang tahu Nyonya."
"Sebelum pergi kau siapkan kamar untuk Eva karena kamarnya sudah dipakai oleh Anjani," ucap Citra.
__ADS_1
"Tidak usah Bu, biar aku tidur bersamamu saja," pinta Eva.
"Ya sudahlah, kalau begitu kita akan langsung saja naik ke atas."
"Lina suruh penjaga mengecek keadaan rumah ini sebelum kau pergi," perintah Citra lalu mengajak anaknya naik ke atas.
"Baik Nyonya," kata Lina membungkukkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan rumah dengan perasaan dongkol karena ditinggal berlibur oleh Abimanyu.
Citra sendiri naik ke kamar atas lalu langsung masuk ke ruang ganti Abimanyu melalui kunci pintu kamar itu. Pintu mulai di buka dan Evan langsung berdecak kagum ketika masuk ke dalamnya.
"Wow, amazing. Barang-barang Kakak ipar memang tidak usah diragukan lagi keasliannya."
"Itu memang hal istri," jelas Eva.
"Benar, itu memang hak dia namun dia juga harus tahu bahwa aku pun punya saham di perusahaan itu dan pembagian keuntungan saham itu masuk ke dalam rekening pribadi. Namun, ketika Abimanyu memberikannya padaku, Lara mengeceknya terlebih dahulu," kesal Citra.
"Dan ibu tidak terima?" tanya Eva.
__ADS_1
"Tentu saja walau dia memberiku lima puluh juta setiap bulan tetapi seharusnya lebih besar dari itu. Aku lebih suka keadaannya ketika Lara mati dan keuangan rumah ini dipegang oleh diriku. Aku bebas untuk melakukan semuanya termasuk membayar gaji pegawai dan kebutuhan rumah. Aku merasa dihargai dan di butuhkan." Citra lalu membuka etalase berisi sepatu Lara yang high quality dan mehong.
"Lalu bagaimana jika seperti yang Ibu katakan jika Kakak ingin menikahi Anjani?" tanya Eva.
"Untuk saat ini sifat Anjani berbeda jauh dengan Lara. Mungkin karena layar belakang keluarga. Jika Lara itu datang dari keluarga kaya biasa membeli apa yang dia inginkan dan menghabiskan uang Abimanyu setiap bulan."
"Kak Lara sangat baik dan rendah hati hany saj sifat borosnya yang membuat aku tidak suka secara keseluruhan dia tidak pernah punya masalah denganku."
"Lara memang baik dan penyayang pada anak-anak tetapi sifat ingin mengatur semuanya itu membuatku tidak betah tinggal di rumah ini. Aku merasa tidak bebas tetapi aku harus bersabar karena hanya Abimanyu yang mau menampungku," ujar Citra sedih lalu duduk di salah satu kursi yang berbentuk kotak persegi berwarna putih bersih.
"Kau pilihan yang muat untukmu lalu setelahnya barang-barang ini akan diberikan pada para pembantu dengan catatan tidak ada yang boleh mengatakan hal ini pada, Abimanyu tidak ingin melihat barang milik Almarhum istrinya dipakai orang lain."
"Apakah karena itu Kakak sampai mengusir pengajar itu?"
"Ya kau benar. Wanita itu marah karena Abimanyu melakukan hal tidak senonoh dengannya?"
"Ibu jangan bercanda kakak tidak pernah menyentuh wanita lain selain almarhum istrinya." Sejenak Evangeline berpikir.
__ADS_1
"Kakakmu sangat lemah bila berurusan dengan Anjani. Mengerti maksud Ibu?"