
Marsellina sangat marah mengetahui kenyataan jika Abimanyu dan Anjani sudah menikah. Dia mulai membuat siasat untuk menghabisi wanita itu.
Malam itu, dia melihat Anjani sedang berjalan ke arah ruang oleh raga. Dengan cepat Marsellina mengambil bensin dan menyiramkannya di sepanjang tembok ruangan itu yang berseberangan dengan rumah utama.
Dia lalu mematik api. Seketika api mulai menjalar dengan cepat mengepung ruangan itu. Terdengar seruan dari dalam ruangan itu. Itu bukan suara Anjani tetapi Bumi dan tiga orang anak Abimanyu lainnya. Seketika, Marselina jadi panik. Dia berteriak keras.
"Kebakaran tolong, kebakaran!" teriak Marsellina. Anjani yang tadi ingin masuk tetapi kembali lagi ke dalam rumah terkejut mendengar teriakan seseorang dari arah belakang rumah. Dia lantas berlari cepat.
Di sana beberapa pelayan sudah mulai terlihat panik menatap ke arah pintu satu-satunya ruangan itu.
"Bumi, tolong anakku, Bumi di dalam sana," teriak Marsellina. Anjani terkejut mendengarnya dia lalu melihat ke arah pintu yang telah tertutup oleh api yang besar. Dia hendak masuk tetapi di cegah oleh satu pelayan.
"Jangan berbahaya!" teriak mereka. Anjani lantas mengerahkan tenaganya mendorong keras pelayan itu sehingga terjatuh.Dia lalu masuk ke dalam kobaran api itu.
__ADS_1
"Anak-anak, dimana kalian?" tanya Anjani terbatuk-batuk karena asap hitam mengepul dan membuat pemandangan tidak jelas.
"Ibu kami disini," teriak mereka yang sedang saling berpelukan di tengah ruangan. Api mulai menjilat seluruh isi dalam ruangan itu dengan cepat.
"Oh, syukurlah kalian tidak apa-apa," Anjani mendekat. Matanya mulai mencari sesuatu untuk mereka gunakan. Raina melihat handuk besar di lemari kaca. Dia langsung berlari cepat ke arah lemari itu namun tubuhnya sempat hampir terkena sambaran api.
"Awas Ibu," teriak ketiga anak Abimanyu. Rasa panas mulai mengenai kulit Anjani yang terkena kobaran api tetapi dia tidak merasakannya. Pikirannya kali ini adalah bagaimana caranya menyelamatkan ketiga anak sambungnya itu. Dia lalu menendang keras lemari kaca mengambil beberapa handuk dan membawanya ke dekat galon air minum.
"Bayu bantu, aku," teriak Anjani. "Bawa adikmu kemari!" Ketiga anak itu mengikuti perintah Anjani.
"Ibu?"
"Yang penting kalian," ucapnya. Mata Anjani mulai melihat ke sekeliling. Dia melihat salah satu jendela kaca api tidak begitu besar. Anjani mengambil barbel dan melemparkannya ke kaca tebal itu.
__ADS_1
Prang!
Abimanyu yang baru pulang kerja terkejut mendengar teriakan dari rumahnya. Asap hitam terlihat mengepul naik ke langit yang gelap. Abimanyu lantas berlari cepat masuk ke tempat kejadian.
"Tuan tolong anakku ada di dalam," ujar Marsellina menangis keras memegang tangan Abimanyu.
"Anak-anak," gumamnya.
"Tuan, anak-anak dan Nyonya terjebak di dalam ruangan itu." Pelayan menunjuk pada ruangan yang sudah dipenuhi oleh api yang besar.
Abimanyu hendak masuk tetapi dicegah oleh beberapa orang.
"Terlalu berbahaya, Tuan, jangan seperti Nyonya yang memaksa masuk dan malah ikut terjebak.
__ADS_1
Beberapa pelayan terlihat mengambil air dari kolam untuk menyiram kobaran api itu.
Tiba-tiba suara pecahan kaca terdengar dari sudut ruangan itu yang dekat dengan tembok pembatas rumah. Abimanyu lantas berlari ke arah sana dengan perasaan kacau dan takut.