Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Ibumu


__ADS_3

Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan setelah melewati perjalanan panjang. Suasana pantai itu sangat cantik, memiliki pasir pantai putih yang lembut dengan pemandangan bawah laut menakjubkan. Kata orang di sana, mereka bisa berenang bersama ubur-ubur tanpa sengat dengan tenang. Selain menjadi surga diving dan snorkeling karena lautnya yang jernih, wisatawan bisa menyaksikan penyu hijau dan penyu sisik langka bertelur. 


Kepulauan Derawan sendiri terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Anjani kira mereka akan ke pulau Sulawesi tempatnya Maldives Indonesia namun ternyata banyak Maldives lain yang ada di negri kita tinggal kita saja yang memilih mau kemana.


Mereka melewati jalan setapak atau juga bisa disebut jembatan yang terbuat dari kayu yang panjang. Di pinggiran jembatan setapak itu ada pondok-pondok yang di sewakan. Abimanyu menyewa tiga kamar untuk mereka. Satu Untuk Bayu dan juga Tirta, satu untuk Bumi dan Anjani dan satu lagi untuk dirinya dan Anjani ketika malam tiba saat anak-anak semuanya sudah tertidur. Begitu rencana yang telah dia siapkan.


Anak-anak terlihat bahagia mereka berlarian kesana kemari dan naik ke atas tempat tidur dan lompat-lompat. Setelah itu Abimanyu menyuruh mereka membersihkan diri dan mengganti pakaian karena dia sudah memesan meja di Restoran terdekat.


"Wah, kita akan mandi dan memakai pakaian yang bagus," kata Bumi antusias lalu menarik tangan Anjani masuk ke kamar mereka. Untuk menghemat waktu mereka berdua lalu mandi bersama di kamar mandi. Bumi berteriak girang sembari berceloteh.


"Ayo, Bumi kita tidak boleh lama mandinya nanti kamu sakit karena ini sudah malam," ujar Anjani mematikan air di shower.


"Yah, Ibu Anja," kata Bumi.


"Besok kita bisa melakukannya lagi, sekarang kita harus bersiap untuk makan malam."


"Kita pakai baju samaan," ucap Bumi.


Anjani lalu membuka kopernya dan koper Bumi, mulai memilih baju yang akan digunakan. Bumi ikut melihat baju Anjani.


"Baju Ibu bagus," celetuk Bumi. "Wah, ini baju apa, Bu?" Bumi memperlihatkan sebuah lingerie merah yang transparan.


Anjani berteriak keras karena terkejut dia lalu merebut baju itu dan menyelipkannya di antara tumpukan baju. Dadanya bergemuruh dengan cepat. Aduh semoga anak ini tidak mengatakannya pada orang lain. Batin Anjani.


"Itu baju dalaman ibu," jawab Anjani asal.


"Kok bentuknya seperti itu?" cecar Bumi.


"Kita memakai baju putih, lihat. Anjani berusaha mengalihkan perhatian Bumi dari lingeri itu dia mengambil baju putih milik Bumi dan mengambil gaun putih miliknya.


"Boleh," ucap Bumi antusias dan melupakan lingerie itu.


Abimanyu sendiri tidak sabar menunggu dua wanita yang dia sayangi keluar dari kamar. Dia hendak mengetuk pintu ketika melihat knop pintu bergerak. Pintu kemudian terbuka. Anjani terliaht mengenakan gaun berwarna putih dengan model kerah Sabrina, panjangnya selutut. Sangat cantik dan terlihat lebih muda dari usianya membuat Abimanyu menekuk wajahnya. Sedangkan Bumi memakai pakaian senada dengannya. Dia terlihat bangga memegang tangan Anjani.


Tirta dan Bayu sendiri mengenakan kaos dengan celana buntung selutut menunggu mereka di depan pondok mereka. Bayu juga membawa gitar kesayangannya untuk mengiringi makan malam kali ini. Tirta membawa kameranya untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka.


Mereka lalui berjalan di atas pasir putih ke sebuah restoran yang terletak di pinggir pantai. Anjani berjalan di belakang anak-anak yang sedang bercanda bersama dengan Abimanyu. Rambutnya yang panjang dan harum bunga menerpa wajah Abimanyu membuat pria itu terlena untuk sesaat.

__ADS_1


Beberapa pria di pinggiran pantai melihat ke arah Anjani. Dari sorot mata mereka, Abimanyu tahu jika penampilan Anjani menarik perhatian. Abimanyu mulai merasa gerah. Dia lalu meletakkan tangannya di pinggang Anjani.


"Pak nanti anak-anak melihat." Anjani terkejut dengan perlakuan Abimanyu tersebut.


"Tidak apa-apa, mereka tahunya ayahnya sedang pe de ka te dengan ibu gurunya yang cantik."


"Ih, Bapak."


"Jangan panggil Bapak berasa saya menjadi orang tuamu saja," tolak Abimanyu. Anjani yang melihat wajah Abimanyu ditekuk seperti anak kecil jadi menyentuh pipi pria itu dengan lembut.


"Jangan seperti itu akh!"


"Panggil Mas saja," pinta Abimanyu.


"Maaaas," panggil Anjani manja membuat Abimanyu tersenyum.


"Ih, Ayah kok peluk Ibu Anja," kata Bumi pada kakaknya membuat dua remaja itu menoleh ke belakang.


"Biarin saja. Biar mereka dekat," tanggap Bayu.


Kedua adik Bayu menganggukkan kepalanya.


"Ayah juga sekarang jadi suka bercanda," imbuh Bumi.


"Ayah suka mengajariku bermain game kalau kita tidak ada tugas sekolah."


"Ya, Ayah berubah semenjak ada Ibu Anja lebih suka tersenyum dan tertawa. Entah semenjak kapan aku tidak melihat Ayah tertawa lepas sebelum bertemu Ibu Anja."


"Kalau Ibu Anja jadi ibu kita bagaimana Kak?" tanya Tirta.


"Aku setuju dari pada wanita lain yang dekat dengan Ayah."


"Seperti Marselina itu, ih aku nggak suka," lanjut Tirta.


"Aku juga tidak suka dia, lebih suka Ibu Anggun atau Ibu Anja," kata Bumi.


"Harus pilih salah satu!"

__ADS_1


"Ibu Anja saja deh," kata Bumi. Mereka lalu berhenti di sebuah restauran di pinggir pantai dengan pohon kelapa yang mengitarinya. Suasana restoran itu ramai semua bangku terlihat sudah penuh.


Seorang pelayan lalu berjalan mendekati mereka.


"Maaf anak-anak, sendiri atau bersama orang tua," tanya penjaga restauran itu ramah. Tiga anak itu lalu menunjuk pada Anjani dan Abimanyu yang berjalan tidak jauh dari mereka.


"Oh, mereka orang tua kalian," kata pelayan itu.


Abimanyu lalu mendekat. "Ada apa ini?"


"Maaf Tuan restauran sudah penuh." Seorang manager mendekat ke arah mereka.


"Saya sudah reservasi atas nama Abimanyu."


Pelayan itu lalu melihat buku tamu dan menutupnya kembali. Dia lalu menepuk kedua tangannya memanggil salah satu temannya.


"Antar Tuan ini dan keluarganya ke meja VVIP." perintah manajer itu pada pelayan yang tadi bertanya pada Bayu.


Mereka lalu berjalan ke arah meja yang di pesan tetapi Abimanyu sempat mendengar bisikan orang.


"Itu istrinya atau anaknya?"


"Sugar baby-nya mungkin," jawab pelayan lain yang masih tertangkap telinga Abimanyu membuatnya mengepalkan tangannya.


Anjani yang melihat lalu memegang tangan Abimanyu.


"Sudah biarkan orang berbicara yang penting kita menikmati liburan ini," bidiknya sembari berjinjit karena tubuhnya hanya sebatas bahu pria itu.


"Tetapi mereka menghinamu."


"Yang penting kau tidak, itu sudah cukup untukku," kata Anjani lirih dengan pandangan lembut membuat Abimanyu terpana.


"Ayah, Ibu cepat!" teriak ketiga anaknya tidak sabar membuat semua orang melihat ke arah pasangan itu. Dua pelayan tadi yang berbisik membuka mulutnya lebar. Wanita itu ternyata ibu dari ketiga anak itu. Kenapa masih terlihat sangat muda?


Semua orang berbisik seraya memandangi mereka. Hal itu membuat angin segar bagi Abimanyu dia lalu memeluk pinggang Anjani erat lagi membuat wanita itu terkejut.


"Ibumu ini sangat lamban jika berjalan." Anjani membuka mulutnya lebar sedangkan Abimanyu mengerlingkan satu matanya.

__ADS_1


__ADS_2