
"Siapa namamu?" tanya Pak Polisi yang bertugas pada Anjani.
"Anjani Restuti," jawab Anjani.
"Umur!" tanya Polisi itu.
"Dua puluh satu tahun," jawab Anjani.
"Umur masih begitu muda kok mau bunuh diri, apa nggak sayang. Mbaknya cantik juga pasti banyak cowok yang naksir."
"Saya ke sana bukan untuk bunuh diri. Saya hanya ingin melepaskan penat dengan melihat pemandangan langit," bela Anjani.
"Melihat pemandangan langit tidak harus naik ke atap sebuah gedung tanpa ijin. Lagian mana ada orang yang mau naik ke atap gedung setinggi itu tanpa lift," sudut Polisi pada Anjani.
Anjani memegang kepalanya yang bertambah pusing. Ada permasalahan dalam keluarganya yang membuat dia pusing tujuh keliling, dekan yang akan meliburkan dia selama belum bisa membayar uang sekolah sehingga kemungkinan besar skripsi yang dia rancang akan mangkrak. Kini, ditambah dengan tuduhan keji yang dilancarkan oleh pria keparat itu, membuat masalahnya yang sudah menggunung berubah menjadi sebesar meteor yang seperti akan membuat otaknya pecah tidak berkeping.
"Saya tahunya dia itu hendak melakukan perbuatan asusila pada saya," ujar Anjani.
"Memperkosa," suara Abimanyu kembali terdengar dari belakang Anjani membuat wanita itu menundukkan kepala dalam bukan karena rasa bersalah tetapi karena kesal. Dia sangat sial bertemu dengan pria itu.
"Mana mungkin aku melakukan itu pada gadis belasan tahun yang tidak tahu apa-apa. Sedangkan wanita cantik dan seksi yang merengek untuk mendekatiku pun banyak. Dia tidak masuk kriteria sama sekali," ejek Abimanyu.
"Kau dengar? Pak Abimanyu tidak mungkin melakukan hal itu padamu. Dia terkenal sebagai pengusaha yang berbudi pekerti yang baik dan sopan jadi tuduhanmu itu terasa tidak mendasar apalagi tanpa bukti yang nyata," ungkap Pak Polisi itu.
"Aku kan hanya mengatakan mengira dia akan melakukan hal itu. Lagian mana Bapak tahu dia pria mesum atau tidak, dia bisa saja menyembunyikan kebenaran itu dari semua orang," sanggah Anjani tidak mau kalah.
"Kebenaran jika aku suka melecehkan perempuan begitu? Kau bisa saja dituduh melakukan pencemaran nama baik," kata Abimanyu.
"Bukankah dalam laporanmu sudah tertera jika aku melakukan pencemaran nama baik, ya sudah aku mandi sekalian. Toh apa yang kukatakan tidak mereka dengarkan. Mereka hanya mau mendengar perkataanmu saja," ucap Anjani menohok petugas yang ada.
Abimanyu menatap tajam pada wanita di hadapannya dengan geram. Anjani pun menyipitkan mata membalas tatapan Abimanyu tidak kalah sengit.
"Sudah, sudah sepertinya ini hanya salah pah saja," kata Pak Polisi menengahi.
__ADS_1
"Tetapi dia telah memukulku hingga tidak sadarkan diri, bukankah itu termasuk tindakan tidak menyenangkan," kata Abimanyu penuh kemenangan sambil menunjuk luka perban di kepala.
Anjani memalingkan wajah ke samping dengan kesal sembari melipat tangan di dada. Wajahnya terlihat sinis dan penuh dendam.
"Nona benar Anda memukul Pak Abimanyu? Bagaimana bisa seperti itu? Anda hebat bisa melakukan itu pada orang sepenting dirinya," puji Pak Polisi sembari tertawa. Tetapi, ketika mendapat tatapan menghunus dari Abimanyu Polisi itu terdiam. Abimanyu adalah orang terkaya di kota ini semua orang tahu tentangnya dan menghormati. Dia juga sering menyumbang banyak uang untuk kegiatan amal atau pembangunan kota. Sehingga banyak aparatur negara di kota ini yang segan terhadapnya.
"Aku memukulnya dengan botol minuman," jawab Anjani santai.
"Oh, ini buktinya, saya sedang bertanya dalam hati kaitan apa masalah Anda dengan botol ini?" kata petugas itu menahan geli. Pak Abimanyu di pukul oleh botol minuman hingga pingsan pasti akan menjadi trend center di dunia Maya. Namanya akan melejit jika membawa wartawan kemari. Wajahnya akan terpampang di televisi ketika memberi pernyataan. Pikir Polisi itu.
"Dia saja yang terlalu lemah, baru dipukul sekali langsung pingsan," sindir Anjani.
"Terlalu lemah katamu?" murka Abimanyu dengan wajah menggelap. Tidak ada pria di dunia ini yang suka dikatakan lemah sekalipun dia pria jadi jadian.
"Coba saja Bapak tanding denganku pasti akan bisa saya jatuhkan dengan mudah," sesumbar Anjani.
"Kau," tunjuk Abimanyu seperti ingin mencekik wanita itu. Bukannya takut Anjani malah menantang.
"Bapak itu pasti sudah punya anak kalau emosian seperti ini, saya yakin anak Bapak pun akan menuruni sifat negatif ini karena Bapak yang mengajarkannya tanpa Bapak sadari," kini giliran Abimanyu yang memalingkan wajah kesal. Apa yang dikatakan wanita ini benar. Bayu dan Tirta kerap bertengkar dengan orang lain. Apa sikap kerasnya yang mendasari sifat mereka?
"Saya ingin Anda memenjarakan dia atas tuduhan kekerasan dan tindakan tidak menyenangkan," kata Abimanyu pada Polisi.
"Mana bisa seperti itu, ini hanya salah paham," kata Anjani membela diri.
"Salah paham katamu, ini bukti kau melakukan tindakan kekerasan," tunjuk Abimanyu pada lukanya.
"Semua orang tertawa kalau tahu seorang Abimanyu pengusaha terbesar kita ini terluka akibat pukulan dari botol yang dilayangkan oleh seorang wanita. Dia melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib, nama Anda yang akan tercoreng karena terlihat jelas jika And pria lemah yang tidak bisa membela diri," kata Anjani yang satu pemikiran dengan Polisi itu.
"Kau itu wanita paling menyebalkan yang pernah kulihat," seru Abimanyu kesal dikatakan lemah lagi. "Jika ini bukan kantor Polisi aku sudah akan membuktikan keperkasaanku padamu."
"Kau dengar Pak dia bermaksud memperkosaku," teriak Anjani girang.
Abimanyu mengepalkan tangan penuh kekesalan.
__ADS_1
"Aku akan meminta bantuan atasanmu Irjen Soetoyo untuk memenjarakan wanita itu saat ini juga." Abimanyu lalu berjalan meninggalkan tempat itu tetapi sebelumnya dia berbisik pada Anjani.
"Jika aku bertemu lagi denganmu akan kubuktikan keperkasaanku hingga kau bertekuk lutut di depanku." Abimanyu lalu tersenyum smirk sembari meninggalkan tempat itu. Anjani sendiri bergidik ngeri ketika nafas Abimanyu menerpa kulit lehernya.
"Aku lebih baik mati daripada bertemu dengan pria sialan seperti dirimu lagi," teriak Anjani yang masih sempat di dengar oleh Abimanyu.
"Kau tidak akan mati sebelum merasakannya Nona," gelak tawa Abimanyu terdengar membuat semua orang ditempat itu tercengang dan membuka mulut.
"Nona, ancaman pria itu sangat mengerikan untukmu," kata Opsir Polisi itu.
Anjani menelan Salivanya. Terus terang dalam hati dia takut jika semua itu terjadi tetapi dia yang telah membunyikan genderang perang terlebih dahulu.
"Dia tidak akan bisa melakukannya," kata Anjani tidak yakin.
"Dia pria yang berkuasa," imbuh Opsir itu semakin membuat Anjani ketakutan. Wanita itu meremas tangannya sendiri.
"Bapak jangan menakutiku," kata Anjani.
"Tetapi apa yang dikatakan Abimanyu itu benar. Mana ada pria yang dikatakan lemah, aku jika dikatakan seperti itu juga akan membuktikan kekuatan ku pada orang yang mengatakannya."
"Semoga aku tidak akan bertemu pria itu lagi," gumam Anjani.
"Semoga saja jika tidak," Polisi itu menggerakkan tangannya yang ada di leher ke samping. "Kau akan habis olehnya!"
"Sekarang saja aku telah habis," batin Anjani.
"Sekarang kau masuk ke sel atas tuduhan yang dilayangkan Pak Abimanyu."
"Saya dipenjara Pak?"
"Iya!"
"Matilah aku," sesal Anjani mengejek pria itu
__ADS_1