
"Pak, kau jangan meledek," ujar Anjani.
"Aku serius, aku hanya menunggu kau mengatakan ya dan aku akan meminangmu," kata Abimanyu.
"Pak sebaiknya aku tidak akan menerima uangmu itu," kata Anjani hendak keluar mobil tapi tangan Abimanyu mengunci seluruh pintu mobil secara otomatis.
"Ambil atau kau tidak akan pergi ke kampus," kata Abimanyu tegas meraih tangan lembut Anjani dan meletakkan uang itu di tangannya.
"Kau sungguh keterlaluan."
Abimanyu tersenyum lalu kembali duduk dengan tenang. Anjani akhirnya memasukkan uang itu ke dalam tasnya dengan perasaan dongkol.
Di saat itu, Abimanyu mulai membuka kunci pintu mobil, lantas Anjani keluar dari sana. Di saat yang sama Devan lewat dan berhenti di depan Anjani.
"Anja!?" panggil Devan terkejut dan bertanya dalam hati mengapa Anjani datang bersama sebuah mobil mewah. Apakah itu mobil Abimanyu. Punya hubungan apa mereka hingga pria itu mau mengantar pengasuh anaknya hingga ke kampus? Jika bukan hubungan spesial tidak mungkin.
Anjani menutup mobil Abimanyu. "Hai," sapa Anjani sumringah pada Devan. Tetapi Devan malah menatapnya mobil itu dengan tajam lalu berganti menatap Anjani dengan tidak senang.
Abimanyu membunyikan klakson agar motor Devan minggir setelah itu dia pergi dari kampus dengan perasaan tidak senang melihat kebersamaan Anjani dan Devan.
Mobil Yoola yang berada di belakang mobil Abimanyu tadi sempat mengklakson Anjani sewaktu melewatinya.
"Wow kau diantar siapa Anjani?" teriak Yoola dan berlalu pergi.
"Anjani kau bisa jelaskan?" tanya Devan.
"Nanti akan kujelaskan tetapi aku harus ke ruang dosen dulu untuk menyerahkan tugas ini. Maaf Van," kata Anjani lalu berjalan pergi masuk ke kampus dengan cepat.
Dia langsung pergi ke ruang dosen untuk mengumpulkan tugasnya. Setelah semuanya selesai dia keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan Devan yang tadi mengiriminya chat jika sedang menunggunya di kantin.
Anjani melihat Devan sedang duduk sendiri sembari melamun dan mengaduk isi minumannya.
"Hai, Van," kata Anjani duduk di sebelah Devan.
"Bu, aku pesan es jeruk," kata Anjani pada pemilik kantin.
"Beres, Neng," kata penjaga kantin itu.
"Anjani, boleh aku tanya sesuatu denganmu?'' tanya Devan.
Anjani memegang dua pipi Devan. "Tentu saja kau boleh bertanya tentang apapun."
"Eh, ada Nona baru di kampus ini," teriak Yoola yang baru datang ke dalam kantin. Semua orang melihat ke arahnya.
"Siapa La?" tanya May. Yoola lalu berjalan ke arah Anjani dan memegang bahu wanita itu
__ADS_1
"Ini dia Nona barunya," seru Yoola membuat semua mata terarah pada Anjani.
"Dia tadi turun dari mobil mewah dan kalian lihat pakaian yang dia kenakan adalah pakaian dari brand ternama." Yoola lalu membuka handphonenya dan memperlihatkan model pakaian yang Anjani kenakan.
"Kalian lihat harga pakaiannya, sembilan juta empat ratus sembilan puluh sembilan ribu. Uwow... dan kalian lihat sepatu yang dia kenakan?"
"Enam juta lebih," jawab Moy menutup mulut dan membelalakkan matanya lebay.
"Kalian tahu jika sekitaran bulan lalu dia skors karena belum membayar uang kuliah selama beberapa semester dan uang itu sudah dia bayar lunas sekarang hingga lulus nanti? Wah dia dapat uang dari mana itu?"
Anjani menelan Salivanya dalam-dalam yang terasa tercekat di tenggorokan. Dadanya terasa sesak.
"Mungkin dari daddy-nya," imbuh May yang terkenal dengan fitnahnya.
"Ya dari papi... papi gula... ha... ha ... ," seru Yoola tertawa keras. Sebagian mahasiswa ikut tertawa sebagian lagi hanya diam menatap miris pada Anjani.
"Kau tidak tahu apa-apa jangan memfitnah sembarangan," ucap Anjani sembari bangkit dan berdiri tegak di depan Yoola.
"Aku tidak fitnah itu kenyataannya. Kau mau lihat buktinya. Kalian mau lihat...." Yoola lalu membuka galeri di handphonenya dan menyetel sebuah video singkat dimana Anjani berada di sebuah Mall dengan seorang pria yang tidak terlihat jelas siapa. Mereka tampak mesra karena sangat dekat dan intim.
Anjani meneteskan air matanya dan pergi meninggalkan kantin itu. Devan hanya terdiam. Dalam hatinya dia juga mulai ragu setelah melihat apa yang Yoola sampaikan. Fitnah memang kejam serta mudah untuk diucapkan oleh seseorang. Sedangkan bagi korban, sulit untuk membuktikan sebuah kebenaran. ( Authornya curhat pernah ngerasain di fitnah juga)
Anjani lantas menghentikan sebuah taksi dan berhenti di sebuah taman. Dia mulai jalan-jalan di sepanjang jalan tanpa arah. Memikirkan semua yang telah terjadi. Salah apa dia pada Yoola dan May. Apa karena Devan memilihnya mereka jadi membencinya setengah mati? Mereka sangat keterlaluan, namun dia bisa apa? Semua orang pasti berpikir seperti itu. Devan pun terlihat tidak membelanya.
Entah sudah berapa lama Anjani berjalan di tengah terik panas. Sebuah mobil berhenti di dekatnya. Mobil itu lantas membuka pintu bagian penumpang. Anjani berhenti untuk melihatnya sembari menutupi matanya dengan tangan.
"Pak Abi?" gumam Anjani.
"Sedang apa kau disini?" tanya Abimanyu yang baru saja kembali dari makan siang dengan klien.
"Aku ... ," kata Anjani.
"Cepat masuk," perintah Abimanyu pada Anjani.
"Ayo, cepat!" Anjani lantas masuk ke dalam mobil itu.
Abimanyu lantas memberikan tissu pada Anjani. Sedangkan mobil kembali menembus padatnya jalanan ibu kota.
"Kau baru saja menangis?" tanya Abimanyu.
"Hah!"
"Tidak usah bohong, ada bekasnya di sudut mata. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa," kata Anjani berbohong.
__ADS_1
"Bertengkar dengan pacarmu?" tebak Abimanyu
"Tidak," kata Anjani menyeka wajahnya dengan tissu. "Kami sudah bersama selama kuliah dan tidak pernah bertengkar," ungkap Anjani.
"Sayang sekali," ujar Abimanyu melihat ke depan sembari menarik jas dan merapikannya. Sedangkan Anjani menatapnya.
"Iya, sayang sekali kalian tidak bertengkar jika saja itu terjadi aku orang yang akan paling bahagia diatas tangismu itu."
Anjani yang kesal lantas memukul lengan Abimanyu keras.
"Sakit, Anja," ujar Abimanyu mengusap lengannya.
"Kau itu tidak berperasaan, tertawa diatas penderitaanku."
"Aku malah sangat sensitif bila mengenaimu. Jika kau patah hati maka aku akan siap menyediakan dadaku untukmu bersandar," kata Abimanyu.
Anjani memutar matanya malas. Dia lalu duduk bersandar di mobil.
"Apa kau sudah makan?" tanya Abimanyu.
"Apa kau akan mengajakku makan siang?" balik Anjani.
"Tidak, aku baru saja makan siang dengan klienku."
"Lalu untuk apa kau bertanya?" ketus Anjani yang sedang kesal dengan keadaan dan dia melampiaskannya pada Abimanyu.
"Hanya bingung ingin bertanya tentang apa padamu," jawab Abimanyu lalu menyalakan i pad-nya dan mulai fokus pada pekerjaannya.
Beberapa waktu kemudian Anjani merasa aneh dengan jalan yang sedang ditempuh.
"Kita akan kemana?" tanya Anjani.
"Kita akan ke Bogor karena aku harus menemui klienku yang ada di sana," kata Abimanyu.
"Kalau begitu turunkan aku," seru Anjani panik.
"Untuk apa?"
"Bagaimana dengan anak-anak, mereka akan pulang satu jam lagi. Sedangkan Bumi juga mungkin sudah sampai di rumah."
"Kau tidak perlu cemaskan mereka karena di rumah ada pengasuh dan pelayan. Yang perlu kau cemaskan adalah dirimu sendiri."
"Memang kenapa?"
"Aku akan membawamu ke villaku dan menghabiskan waktu denganmu," jawab Abimanyu ambigu.
__ADS_1