
Pagi harinya Anjani terbangun dengan terkejut dia melihat ke sekitar dan ini sudah siang lalu di mana dia?
Setelah nyawanya telah terkumpul kembali dan otaknya sudah bisa berpikir dia baru ingat jika ini adalah kamar Abimanyu. Tetapi tadi malam dia di ... .
Ketika Anjani mulai mengingat semuanya Abimanyu masuk ke dalam kamar.
"Akhirnya kau sudah bangun juga," kata pria itu duduk di pinggir tempat tidur.
"Bagaimana? " Anjani menunjuk ke tempat tidur.
"Kau tertidur dan aku masa harus masuk ke kamar gadis jadi aku membawamu ke kamarku tetapi aku tidak melakukan lebih hanya berbaring saja denganmu," terang Abimanyu.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Anjani.
"Jam tuju pagi," jawab Abimanyu. Mata Anjani melebar.
"Bagaimana dengan anak-anak? Kenapa kau tidak membangunkan ku terlebih dahulu? Lalu bagaimana jika ada yang tahu aku tidur disini?Ibu Kepala apakah dia telah masuk ke dalam kamar ini?" Perkataan Anjani terhenti ketika Abimanyu meletakkan jarinya di bibir manisnya.
"Sudah jangan pikirkan apapun tugasmu sekarang mandi dan bersiaplah karena aku akan membawamu ke suatu tempat?" bisik Abimanyu ditelinga Anjani.
"Kemana?" tanya Anjani tertegun.
"Ke rumah orang tuamu," kata Abimanyu.
"Sepertinya ayahku sedang bekerja," kilah Anjani.
"Orangku sudah terlebih dulu ke rumahmu agar mereka tidak pergi keluar hari ini."
"Kau?!" Anjani terkejut dan kesal menjadi satu mengapa pria itu melakukan sesuatu tanpa tanya terlebih dahulu padanya.
"Kita sudah sepakat tadi malam," ujar Abimanyu.
"Tapi tidak secepat ini?"
__ADS_1
"Aku ingin agar kau jadi istriku detik ini juga tetapi sepertinya tidak mungkin, mungkin tujuh hari lagi, atau lima atau tiga atau bahkan besok kita menikah. Kau tahu, aku takut kau tiba-tiba berubah pikiran." Abimanyu lalu merapikan rambut hitam dan legam Anjani.
Anjani terdiam. Dia lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Namun ketika dia membuka pintu terkejut melihat Marsellina sedang berdiri di depan pintu.
Dia tidak bisa bersembunyi atau kabur. Sudah terlanjur dia harus tetap maju. Anjani lalu berjalan melewati Marsellina tanpa mengatakan apapun. Sedangkan wanita itu membuka mulutnya lebar. Tidak percaya pada apa yang dia lihat.
Dia melihat Abimanyu melihat ke arah mereka. Marsellina memegang dadanya. Dia merasa sesak nafas dan kepalanya terasa pusing. Dia kalah dengan anak ingusan yang tidak punya selera sama sekali soal apapun. Dari kalangan rendah pula.
"Biar aku saja yang merapikan kau bisa mencari pekerjaan lain," kata Abimanyu lalu menutup pintu kamar. Tubuh Marsellina langsung melemas seketika. Cintanya hancur berkeping-keping. Impian yang telah dia bangun selama ini runtuh begitu saja. Masa depannya hanya jadi angan tanpa bisa dia gapai.
Tidak dia tidak boleh menyerah dia akan melakukan apapun agar semua kembali seperti semula seperti saat Anjani belum datang ke rumah ini. Dia harus bisa menyingkirkan Anjani dari rumah ini secepatnya, hidup atau mati.
Anjani lalu masuk ke kamarnya dengan menebalkan muka, beberapa pelayan yang sedang membersihkan lantai dua ini melihatnya keluar dari kamar Abimanyu. Mungkin nanti semua orang akan tahu dan membicarakannya. Terserah mereka mau mengatakan apa, yang jelas dia tidak seperti yang mereka pikirkan.
Anjani menutup kamar dan menguncinya dia lalu bersandar di pintu sembari memegang dadanya.
Gila ini gila, dia seperti wanita murahan yang tidur di kamar majikannya. Semua pasti akan berpikir seperti itu.
Teringat kembali apa kata Abimanyu membuat dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Apa dia serius mau menikahi pria itu? Pikirnya sepanjang waktu hingga selesai membersihkan diri dan terlihat rapi.
"Bu Anja saya diperintahkan oleh Pak Presiden untuk membawa Anda pergi dari sini sekarang," kata Pak Slamet hormat.
"Baiklah, lalu dimana dia?"
"Beliau sudah berangkat terlebih dahulu. Dia menyatakan Anda untuk pergi ke swalayan membeli beberapa kebutuhan rumah yang dibutuhkan oleh keluarga Anda. Anda bisa memakai berapapun yang Anda inginkan. Dia hanya berpesan untuk membeli apa yang bisa membuat bahagia orang tua," terang Pak Slamet lalu memberikan kartu kredit pada Anjani.
"Kenapa dia tidak memberikannya sendiri?" tanya Anjani.
"Dia tidak ingin menambah masalahmu dengan kecurigaan pelayan di rumah ini," kata Pak Slamet.
"Apa Bapak?"
"Saya tahu jika Tuan akan ke rumah Nona untuk melamar. Dia ingin Anda berbelanja hantaran lamaran yang bagus dan yang dibutuhkan oleh rumah. Setelah dia selesai rapat nanti dia akan menuju tempat nona berada untuk pergi bersama ke rumah Nona," kata Pak Slamet.
__ADS_1
"Pak. Apa Pak Abimanyu pernah mengamuk atau memarahi istrinya keras?" tanya Anjani untuk menegaskan pilihannya salah atau benar.
"Sepanjang sepengetahuan saja Pak Abimanyu tidak pernah membentak Nyonya Lara apalagi mengamuk. Walau dia kaku dan keras kepala tapi Pak Abimanyu itu lembut."
"Bapak tidak berbohong karena dia majikan Bapak kan?" tanya Anjani.
"Tidak," Pak Slamet tersenyum. "Kita pergi sekarang!" ajaknya.
Anjani lalu berjalan terlebih dahulu diiringi Pak Slamet mereka berbicara tentang anak sepanjang jalan keluar. Semua mata pelayan menatap kebersamaan mereka sembari berbisik namun mereka tetap acuh tidak peduli.
Anjani lalu masuk ke dalam mobil.
"Pak, tadi anak-anak bagaimana?"
"Maksud Ibu?" Pak Slamet menoleh sebentar ke arah Anjani ketika menyetir.
"Aku tidak keluar untuk menemani mereka tadi pagi,hhh," desah Anjani.
"Anak-anak khawatir karena Tuan mengatakan kau sedang sakit flu berat dan tidak boleh yang ada yang menengok takut mereka tertular. Mereka lalu menurut walau mereka sebenarnya ingin melihat keadaan Anda, Nona," kata Pak Slamet.
"Panggil saja aku seperti biasanya Pak. Bu Anja, lebih enak dari pada Nona," ujar Anjani.
"Anda akan menjadi calon istri Tuan sudah sepatutnya saya memanggil Nona."
"Pak, Saya tidak enak mendengarnya," kata Anjani. "Namun satu hal yang membuat saya heran adalah kenapa Bapak tahu masalah ini? Ehm rencana pernikahan ini?"
"Tuan Abimanyu yang mengatakannya sebelum berangkat kerja tadi. Mungkin karena saya adalah salah satu pegawai yang sudah sangat lama bekerja padanya maka dia mempercayai saya untuk memegang rahasia ini. Dia juga berpesan agar tidak ada orang rumah yang boleh tahu akan masalah ini."
"Apa lagi yang Bapak ketahui?" tanya Anjani penasaran.
Terdengar kekehan kecil dari Pak Slamet.
"Hanya itu yang saya ketahui Nona. Tapi Nona mungkin harus mempersiapkan hati dan jasmani untuk menikah dengan Pak Abimanyu secepatnya. Dia bisa melakukan itu kapan saja tanpa harus direncanakan."
__ADS_1
"Maksud Bapak?"
"Pak Abimanyu tidak suka membuang waktu jadi dia suka bergerak cepat untuk mengatasi setiap masalah yang ada. Termasuk masalah hatinya yang ingin segera melepas masa duda."