Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Kecemburuan Devan


__ADS_3

Satu jam kemudian Anjani telah siap pergi. Dia memakai celana jeans dan kemeja yang diikat di bagian depannya. Sepatu sneaker perpaduan warna biru dan putih menghiasi kakinya. Rambutnya dia biarkan tergerai indah dibelakang punggung.


Anjani menabrak tubuh kekar Abimanyu sewaktu mereka bertemu di persimpangan lorong.


"Maaf!" ucap Anjani tersenyum. "Aku mau keluar dulu mungkin sampai malam," pamit wanita itu.


"Hingga malam?" ulang Abimanyu.


"Ya, aku ada acara amal dengan Devan bersama anak-anak kolong jembatan hingga sore. Karena letak tempatnya yang lumayan jauh dari rumah ini jadi aku akan pulang malam."


Abimanyu terkejut dengan perkataan Anjani. Dia kira wanita itu mau menonton dan berkencan layaknya anak muda biasanya. Namun tidak, dia malah akan keluar untuk acara amal.


"Kau tidak mengatakan akan melakukan itu tadi, jika aku tahu, mungkin aku bisa membantu kalian memberikan sumbangan yang mungkin bisa kalian butuhkan di sana?"


"Sungguh! Jika begitu nanti akan kukatakan hal ini pada teman di komunitasku," kata Anjani. "Kita bisa melakukan sumbangan itu, lain waktu karena acara ini dilakukan setiap satu bulan sekali sedangkan untuk mengajar di sana di lakukan seminggu tiga kali. Namun, aku sudah tidak ikut mengajar di sana," ucapnya sedih.


"Kenapa?"


"Karena waktuku sudah tersita untuk pekerjaan ini dan kuliah," jawab Anjani. "Sudahlah, aku harus segera pergi Devan menungguku di depan."


"Permisi, Pak," pamit Anjani sembari menundukkan kepala sejenak lalu berlari pergi dengan cepat.


"Anak yang baik," pikir Abimanyu. Dia lalu kembali ke kamarnya untuk mandi setelah tadi melakukan sedikit latihan bela diri bersama Tirta dan Bayu.


Sedangkan Anjani keluar dari pagar rumah dan melihat Devan ada di depan pintu menaiki motor sportnya seperti biasa.


"Hai!" sapa Anjani.


"Hai juga," jawab Devan lemas.


"Kau kenapa? Tidak enak badan?" tanya Anjani.


"Sedikit," kata Devan berbohong. Padahal dalam hatinya sakit setelah mendapat kiriman video dari Samuel tentang Anjani dengan seorang pria yang jauh lebih tua darinya. Anak-anak pria itu juga memanggil Anjani Ibu, cerita Samuel.


Devan berniat akan mempertanyakan ini pada Anjani nanti, setelah semua kegiatan usai yang mereka rencanakan usai.

__ADS_1


Sepanjang kegiatan Devan terlihat seperti mendiamkan Anjani. Samuel biang kerok dari masalah ini malah pura-pura tidak tahu dengan. apa yang telah terjadi. Jika pun Devan berpisah dengan Anjani dan ternyata pria itu bukan suami Anjani maka dia sendiri berniat mendekati wanita itu. Sudah lama dia suka pada Anjani hanya saja wanita terkesan cuek dan tidak memerhatikannya. Dia lebih peduli pada Devan.


"Kalian bertengkar?" tanya Samuel pada Anjani.


"Tidak? Mengapa kami harus bertengkar?" balik Anjani.


"Aku kira kalian bertengkar, biasanya kalian berdua kelihatan kompak dan ramai sekarang saling diam."


"Perasaanmu saja, tadi aku juga datang kesini bersama Devan, andai kami bertengkar aku pasti akan kesini sendiri," ujar Anjani.


"Ada apa?" tanya Devan mendekati Anjani.


"Tidak apa-apa, Samuel hanya bertanya tentang buku yang akan dibagikan ini jika lebih akan kita apakan?" kata Anjani.


"Oh, kita simpan lagi nanti. Jika ada anak baru kita akan bagikan lagi pada anak itu," kata Devan sebagai ketua dari pergerakan ini.


Samuel menganggukkan kepala lalu pamit dari tempat itu.


"Devan, ini sudah siang, kita akan makan dimana?" tanya Anjani.


Anjani seperti merasa ada yang aneh dengan Devan tetapi dia tidak tahu apa itu. Anjani lalu bergabung dengan yang lain untuk membeli makan siang.


Dia membeli makan siang dengan uang lebihan jajan yang diberikan Abimanyu. Dia membungkusnya dan membawa ke kamp. tempat mereka berkumpul.


"Devan aku membawa es Boba kesukaan kita dan nasi Padang dengan full rendang." Anjani meletakkan itu di atas meja depan Devan. Devan lalu melihat sekitar yang sepi.


"Anja, kau memakai uang apa untuk membeli makanan itu?" tanya Devan yang sudah tidak tahan memendam perasaannya.


"Kau itu kenapa, ya uangku sendiri," kata Anjani.


"Anjani, sebenarnya kau berkerja di rumah itu untuk menjadi mentor atau apa?" selidik Devan.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar Anjani curiga. Devan lalu menyerahkan rekaman kebersamaan Anjani yang dikirimkan Samuel padanya. Di dalam rekaman itu terlihat jika Anjani sedang menyuapi Abimanyu.


"Ini pasti pekerjaan Samuel," kata Anjani geram. Meremas nasi bungkus di tangannya. Samuel yang sedang menguping pembicaraan mereka dari luar lalu bergerak menjauh dari tempat itu. Tidak ingin menjadi bulan-bulanan Devan jika ternyata dia yang salah kali ini. Dia sendiri tidak yakin jika Anjani akan menjadi istri muda pria berumur itu.

__ADS_1


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku tidak mungkin bersama pria yang umurnya dua kali lipat umurku. Lagi pula dia punya tiga anak dan aku masih ingin meraih masa depan yang lebih cerah lagi."


"Lalu arti video itu?"


"Kau lihat ada anak kecil di tengah kami. Itu namanya Bumi dia salah satu murid di sekolahku dan sudah kuceritakan sebelumnya tentang itu padamu. Nah, waktu itu terjadi si majikanku ini tidak mau makan ditempat itu karena dengan sejuta alasan. Alasan yang biasa diberikan orang pada makanan pinggir jalan. Aku suapi dia agar dia bisa merasakan jika makanan itu tidak kalah nikmat dengan makanan di restoran berbintang lima. Setelah itu dia mau makan opor itu."


"Hanya itu?" kata Devan setengah tidak percaya.


"Jika kau tidak percaya datangi saja majikanku itu dan tanyakan tentang masalah ini."


"Lalu kata Samuel mereka memanggilmu Ibu?"


"Ibu Anjani terlalu panjang bagi mereka, jadi terkadang mereka memanggilku ibu."


Devan menghela nafas lega. Kecemburuannya kali ini sungguh tidak berdasar. Namun, melihat kedekatan Anjani dengan pria itu membuat Devan takut jika suatu hari Anjani akan jatuh cinta padanya. Cinta datang karena sudah terbiasa, begitu kata orang.


"Anjani, apa sebaiknya kau keluar saja dari tempat kerja itu?" saran Devan pelan.


Anjani menatap Devan. "Kenapa?"


"Terus terang aku takut hubungan kita akan berakhir karena kedekatan kalian?"


"Hubungan kita baru saja dimulai dan kau meragukan aku?" kata Anjani.


"Bukan begitu Anjani hanya saja, secara fisik pria itu masih menarik, dia mapan dan juga tampan duda pula. Aku takut jika dia tertarik padamu yang cantik dan menyukai anak-anak," kata.


"Aku bukan tipenya lagi pula dia sudah punya wanita lain yang akan melayaninya dengan baik."


"Dia sudah menikah?"


"Belum?" jawab Anjani hal itu makin membuat Devan was-was. Bagaimana jika pria itu genit pada Anjani dan merayunya.


"Sudah jangan berpikir macam-macam."


"Anja, bagaimana jika dia menyukaimu dan mengatakan hal itu padamu?"

__ADS_1


__ADS_2