Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Cara Licik


__ADS_3

"Kau baru sehari di sini tapi berani melawan perintahku," kata Abimanyu yang sudah tidak suka pada Anjani dari awal.


"Aku hanya ingin memperbaiki sikapmu dan hubunganmu dengan anak-anakmu. Jika kau bersikap selalu keras pada mereka, yang ada mereka akan selalu melawanmu!'' kata Anjani dengan suara merendah.


Apa yang dikatakan Anjani memang benar, tetapi gengsi yang dimiliki Abimanyu melarangnya untuk mengiyakan perkataan wanita itu.


"Kau juga melawanku padahal aku adalah orang yang membayarmu," ejek Abimanyu.


"Semua tidak melulu soal uang, aku membutuhkannya tetapi aku juga ingin menolak pekerjaan ini. Namun, melihat sikap kerasmu pada anak-anak membuatku tetap berada di sini. Aku tidak bisa membayangkan hari yang mereka lalui selama ini bersamamu. Pasti buruk hingga membuat si sulung tidak betah di rumah, membuat Tirta lebih suka dengan gamenya dari pada bercanda denganmu dan membuat Bumi banyak melamun untuk anak seusianya," kata Anjani.


Batin Abimanyu bertanya bagaimana wanita tahu tentang anaknya padahal baru hari ini mereka bertemu.


"Kau lupa jika aku bekerja di kompleks sekolah yang sama dengan mereka? Para guru sering membicarakan kebandelan anak-anakmu. Ibu Anggun juga sedikit berbicara tentang putramu dan aku bisa melihat bagaimana interaksi dirimu dan mereka tadi," lanjut Anjani. "Semuanya menggambarkan kekakuan mu!"


Membuat mata Abiamanyu terbelalak.


"Kau sudah mengatakan aku lemah kemarin, sekarang mengataiku terlalu keras dalam mendidik putraku dan mengatakan aku kaku!" seru Abiamanyu dengan wajah menggelap.


"Kau memang seperti itu," tegas Anjani melipat tangan di dada.


"Aku tidak selemah yang kau katakan!" ujar Abimanyu tersinggung.


"Buktinya satu pukulan saja bisa membuatmu terkapar tidak berdaya. Dan dia sifatmu itu kau harus mengakuinya karena semua orang juga bisa merasakan hal itu," kata Anjani.


Kata Abimanyu memerah dan wajahnya sudah menggelap. Jika dalam film kartun keluar asap dari kepalanya. Tiba-tiba timbul sebersit ide dalam pikirannya bagaimana cara menghajar mulut wanita itu agar bungkam dan tidak mengejeknya lagi.


"Apa kau pernah belajar ilmu bela diri?" tanya Abimanyu.


"Memang kenapa?"


"Kalau begitu lawan aku, jika kau bisa menjatuhkanku maka aku mengakui kelemahanku." Abimanyu menyeringai jahat.


"Jika aku bisa melakukannya?"

__ADS_1


"Kau bebas melakukan pekerjaanmu tanpa intervensi dariku," tantang Abimanyu tersenyum miring.


"Lalu jika aku kalah?"


"Kau harus menuruti semua yang aku inginkan tentang anak-anakku," kata Abimanyu yakin jika dia yang akan memenangkan pertarungan ini.


"Baiklah," kata Anjani sedikit ragu melihat cara pandang Abimanyu yang menyiratkan kemenangan sebelum pertandingan dimulai.


"Namun dengan pakaian ini?" kata Anjani.


"Ikuti aku," kata Abimanyu. Anjani lalu mengikuti langkah kaki Abimanyu menuju ke arah belakang rumah mereka hingga melewati halaman belakang dan sampai di sebuah pintu besar. Abimanyu membuka ruangan itu dan masuk.


Anjani mengikuti langkah kaki pria itu memasuki ruangan gelap. Lampu mulai dinyalakan dan terlihat sebuah aula yang lumayan luas tempat ruang latihan kebugaran. Ada beberapa alat fitness di sudut ruangan lain dan tempat arena bertarung di tengah ruangan.


Netra Anjani tertuju pada deretan piala dan medali emas yang ada di sebuah lemari kaca di salah satu sudut ruangan.


Sebuah foto terpampang jelas saat Abimanyu memegang medali emasnya di podium.


"Matilah aku," batin Anjani. Ternyata dia salah memilih lawan.


"Ti-tidak, demi masa depan anak-anakmu," sindir Anjani. Entah mengapa dia miris melihat nasib ketiga anak Abimanyu yang terlihat tertekan selama ini.


"Justru karena mereka anak-anakku, aku takut jika dia akan menjadi orang yang tidak sepertimu," ejek Abimanyu.


"Kau," tunjuk Anjani.


"Ini ganti pakaianmu," kata Abimanyu melemparkan pakaian bertarung.


"Kau ikut taekwondo?" tanya Anjani.


"Aku ikut perguruan silat dan Taekwondo," jawab Abimanyu membuat wajah Anjani memucat.


"Mampus kau, Anjani," rutuknya dalam hati sembari berjalan menuju ruang ganti.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian mereka telah berada di tengah aula bersiap untuk bertarung. Lama Abimanyu tidak memperoleh lawan karena sibuk di dunia kerja dan mengurus anak membuatnya bersemangat kali ini walau hanya bertarung dengan seorang wanita.


"Aku tidak akan memukul seorang wanita terlebih dahulu," kata Abimanyu santai


"Baiklah jika itu maumu," kata Anjani lalu mulai maju dan melancarkan tendangan ke depan. Kaki Anjani dipegang pria itu dan di lemparkan lagi.


"Kau tidak pernah berlatih sehingga tendanganmu sangat lemah," kata Abimanyu.


Anjani lalu mundur mengambil sikap kuda-kuda dan dia maju untuk memukul ke arah depan lurus.


Tubuh Abimanyu mengelak ke samping dan dia menangkap tangan wanita itu dengan satu tangan dan tangan yang lain memegang pinggang Anjani sehingga tubuh mereka tanpa sengaja saling bersentuhan, dengan Abimanyu yang berada di belakang Anjani.


"Kau harus pusatkan pukulanmu ke arah yang dituju, kaki kurang kuat, badan kaku, badan tidak seimbang, pukulan kurang kuat dan tangan kurang mengepal."


Di saat keadaan terdesak gunakan akalmu agar menang. Pikir Anjani. Dia lalu lebih merapatkan tubuhnya pada tubuh Abimanyu dan menoleh tersenyum manis, membuat pria itu hilang konsentrasi karena terkejut.


Anjani langsung menginjak keras kaki Abimanyu membuat pria itu kesakitan dan melepaskan pegangannya. Anjani lalu melakukan pukulan siku ke belakang tepat mengenai ulu hati pria itu.


"Akh!" erang Abimanyu mendapat serangan mendadak yang bertubi-tubi.


Tubuh Anjani terlepas dari badan tegap Abimanyu. Dia tersenyum menang kali ini.


"Kau itu sangat licik," kata pria itu.


"Semua diperbolehkan dalam perang, nyatanya aku bisa memukulmu dan kau harus penuhi janjimu itu untuk membiarkanku mendidik anakmu dengan caraku sendiri."


"Baiklah tapi aku setuju tetapi aku masih penasaran dengan kekalahan ini. Berikan aku satu kesempatan lagi untuk melawanmu dan membuktikan jika aku bukan pria lemah."


Sejenak Anjani nampak berpikir. Dia sadar jika dia menang tadi bukan karena keahliannya dalam bertarung tetapi dia memakai cara wanita yang merayu lawannya.


"Aku belum pernah kalah dari seorang pun hingga saat ini apalagi seorang wanita. Akan sangat memalukan jika pertarungan dimenangkan olehmu hancur nama baikku," kata Abimanyu.


"Kau jangan khawatir, tidak ada yang melihat dan tahu akan kejadian ini," kata Anjani ingin segera pergi dari tempat ini dia sudah mencium tanda bahaya yang akan datang.

__ADS_1


"Satu kali serangan darimu jika aku kalah, aku mengakui kehebatanmu," kata Abimanyu yang ingin memberikan pelajaran bagi Anjani karena sudah berani bermain-main dengannya.


"Baiklah satu serangan lagi dan aku akan pergi dari arena ini," kata Anjani dengan dada berdebar tanpa sebab, ketika melihat manik mata pria itu yang telah menggelap.


__ADS_2