
Untuk sejenak anak-anak terpaku dengan kata 'Ibumu' namun mereka pada akhirnya tersenyum dan bergerak menuju meja yang dipesan.
Mereka makan malam dengan gembira dan tertawa layaknya seperti keluarga kecil yang bahagia. Abimanyu sangat senang ketika melihat bagaimana anaknya tidak mempermasalahkan panggilan Ibumu untuk Anjani. Mungkin tidak akan butuh waktu lama untuk merahasiakan hubungan mereka.
Setelah makan malam mereka lalu duduk di pinggir pantai menikmati malam yang cerah dengan bulan purnama yang menerangi langit.
Beberapa anak muda terlihat sedang mengadakan pesta dengan menyalakan api unggun. Merasa menyanyi bersama dan menari. Bayu lalu mengajak adiknya menjauh mereka menyanyi bersama dengan diiringi suara gitar Bayu. Bumi menepuk tangannya di pangkuan Anjani.
Tiba-tiba Bayu salah memetik nada. Abimanyu lalu mengambil gitar di tangan Bayu.
"Biar Ayah saja."
"Ayah bisa?" tanya Tirta yang lupa jika dulu ayahnya suka memainkan gitar ketika bersama ibu mereka. Bayu yang ingat akan hal itu lalu menganggukkan kepalanya.
"Dulu ibu yang menyanyi dan ayah yang memetik gitarnya."
"Sekarang biar ibu Anja yang menyanyi," kata Bumi bertepuk tangan.
"Aku, aku tidak bisa menyanyi," ucap Anjani rendah. Dia sadar suaranya tidak merdu. Kakaknya Elang suka mengejeknya ketika bernyanyi. Dia mengatakan jika suara kambing lebih baik daripada mendengar suara Anjani yang sedang menyanyi.
"Sayang sekali, bagaimana jika kita bernyanyi bersama saja," usul Abimanyu.
"Lagu apa ayah," teriak Tirta antusias.
"I'm yours," kata Abimanyu.
"Itu lagu kesukaan Ibu," celetuk Bayu membuat wajah Anjani mengkerut. Entah mengapa hal itu membuatnya tidak nyaman.
Almarhum istri Abimanyu sudah meninggal tetapi bayangannya tetap ada di keluarga ini. Ini tidak semudah yang terlihat. Pikirnya.
"Aku tahu lagu itu, kakak suka menyetelnya di kamar," kata Tirta. "Sekarang aku mengerti mengapa itu selalu kakak lakukan. Itu karena lagu kesayangan ibu kan?"
Bayu tersenyum kecut.
"Ayah memainkan ini karena ini lagu terakhir yang Ayah kenal not-nya jika lagu kesini Ayah tidak tahu," kata Abimanyu mencoba mengalihkan perhatian mereka pada sosok ibu mereka mengingat Anjani yang mulai menundukkan wajahnya.
"Anjani kau ingin lagu apa?"
__ADS_1
"Apapun aku akan menyukainya," jawab Anjani tersenyum kecut.
Abimanyu lalu mulai memetik lagu milik Jason Mraz. Bayu dan Tirta mulai bernyanyi bersama.
Well open up your mind and see like me
Buka pikiranmu dan lihatlah seperti aku
Open up your plans and damn you're free
Bukalah rencanamu dan kau pun bebas
Look into your heart and you'll find love love love love
Lihatlah ke dalam hatimu dan kau kan temukan cinta
Listen to the music of the moment people dance and sing
Dengarlah musik saat orang menari dan bernyanyi
Kita ini satu keluarga besar.
Abimanyu tidak melepaskan pandangannya dari Anjani ketika menyanyikannya. Hingga membuat Anjani merasa bahwa lagu itu untuknya bukan diperuntukkan bagi almarhum istrinya. Bagaimanapun Lara akan tetap menjadi bagian dari diri keluarga ini dan dia tidak bisa mencegah mereka mengingat sosoknya. Dia bukan wanita seegois itu.
Beberapa orang mulai mengelilingi mereka bahkan ada yang mengabadikannya lewat video di handphonenya.
Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar di sekeliling mereka tatkala lagu itu telah habis. Mereka saling memandang tidak percaya dan tertawa.
Mereka lalu diminta bergabung dengan anak-anak muda tadi. Abimanyu diminta untuk memetik gitar untuk mereka.
"Apakah dia ibu atau kakak kalian?" tanya seorang pria muda seumuran Anjani pada Bayu.
"Ibu kami," jawab Bayu dan Tirta itu serempak. Anjani sempat melihat kedua anak itu menatap mereka tetapi tidak tahu apa yang mereka bicarakan dengan orang asing.
Permainan gitar Abimanyu membuat mereka berdecak kagum. Hal itu membuat Anjani berpikir hal apa yang tidak bisa dilakukan oleh pria itu? Suaminya memiliki semua yang wanita inginkan Dia kagum dengan suaminya dan tidak malu jika disuruh mengatakan pada dunia bahwa dia istri dari Abimanyu.
Bumi terlihat mulai menguap beberapa kali. Abimanyu yang melihatnya lalu menghentikan petikan gitar itu dan berpamitan dengan orang-orang yang ada di situ. Mereka kembali lagi ke pondok. Bumi sendiri tertidur pulas sebelum mereka sampai ke pondok. Bayu dan Tirta langsung masuk ke kamar mereka karena merasa lelah.
__ADS_1
Sedangkan Abimanyu masuk ke dalam kamar Bumi. Pria itu lalu meletakkan Bumi di atas tempat tidur sedangkan Anjani langsung menyelimutinya.
"Aku menunggumu di depan, jangan lama! Ingat gunakan lingerie yang aku belikan, di balik piyama yang telah aku siapkan," bisiknya sebelum meninggalkan mereka berdua di kamar. Tubuh Anjani mulai tegang seketika.
Perlu waktu setengah jam untuk memutuskan apa yang akan dia lakukan. Haruskah dia menuruti perintah Abimanyu atau tetap tidur si kamar saja.
Sebuah panggilan masuk ke dalam handphonenya.
"Jangan tidur!" hanya dua kata itu yang dia dengar lalu penggilan di tutup. Anjani mengigit bibirnya lalu melihat ke arah koper itu.
Setengah jam kemudian pintu kamar wanita itu diketuk. Anjani tahu siapa yang mengetuknya. Dia mulai membuka pintu itu dan mendapati Abimanyu sudah berdiri menjulang tinggi di depannya.
"Kau lama sekali, aku kira kau akan melarikan diri dan bersembunyi di kamar."
Abimanyu tersenyum melihat penampilan Anjani. Wanita itu memakai piyama panjang rambutnya dia biarkan tergerai dengan indah hingga menutupi bahu dan punggungnya. Bibirnya terlihat merah dengan sapuan lipstik yang baru saja dia pakai karena warnanya lebih mencolok dari pada yang tadi dia kenakan.
"Bayu dan Tirta," ucap Anjani cemas.
"Tirta sudah terlelap sedangkan Bayu sedang bermain game."
"Apakah tidak berbahaya?" pikir Anjani.
Abimanyu lantas menarik tangan Anjani keluar. Dia menutup pintu kamar.
"Bagaimana jika Bumi terbangun?" kata Anjani dengan suara berbisik.
"Aku hanya ingin menikmati malam ini bersamamu kau bisa kembali lagi nanti," ucap Abimanyu tidak yakin seraya menarik tangan Anjani pergi masuk ke pondoknya.
Anjani terpukau ketika melihat deretan lilin sudah menyambutnya ketika pintu pondok milik Abimanyu terbuka. Bau aromatik yang keluar dari lilin itu yang kata orang bisa membuat hasrat orang naik mulai Anjani rasakan.
Abimanyu lalu menutup pintu itu dan menguncinya. Dia lalu berjalan mendekati Anjani layaknya singa jantan yang mendekati buruannya.
Jantung Anjani berdetak dengan kencangnya. Kakinya terasa lemas ketika tangan pria itu dengan cepat meraih pinggangnya sehingga tubuh mereka menempel satu sama lain.
Mereka saling beradu pandangan.
"Anjani bolehkah aku meminta hakku?" tanya Abimanyu. Pria itu melihat Anjani menganggukkan kepalanya. Dengan lembut Abimanyu memegang dagu Anjani dan mendekatkan wajah mereka sehingga nafas mereka saling menyatu.
__ADS_1