
Mendengar nama Anjani disebut Abimanyu langsung menoleh ke samping.
"Aku tadi bertemu dengan Pak Slamet diluar dia sedang menerima telephon penting jadi aku diminta membawa baju Anda kemari," kata Anjani.
Abimanyu langsung berdiri. "Kau ... ," kata Abimanyu terpotong ketika Anjani mendekat ke arah Bumi yang terbaring lemah.
Dia menghela nafasnya panjang. Mendekat ke arahnya. Bagi Anjani, nasib Bumi sama sepertinya yang sudah ditinggal ibunya dari kecil sehingga dia dari awal sudah menyayangi anak itu.
Bayu yang duduk di sebelah Bumi langsung berdiri menyingkir untuk memberi ruang lebih pada Anjani.
Anjani lalu memegang tangan Bumi serta mencondongkan tubuh dan mencium keningnya pelan. Seketika mata Bumi terbuka dan tersenyum melihat Anjani datang.
"Ibu datang," katanya hampir tidak bersuara. Anjani menganggukkan kepalanya. Kedua netranya berkaca-kaca melihat hal itu.
Seketika tangan kecil Bumi memeluk Anjani erat membaut wanita itu terkejut. Tetapi dia langsung menyambut dekapan Bumi. Isak tangis kecil mulai terdengar.
"Kenapa Ibu pergi? Apa ibu marah padaku atau kakakku, kami janji akan jadi anak baik, asal ibu tidak pergi meninggalkan kami." Walau terdengar lirih dan serak, ucapan Bumi membuat haru suasana di ruangan itu.
"Ibu tidak marah Ibu hanya ada kepentingan diluar sehingga harus pergi dalam beberapa hari ini," kata Anjani berbohong.
"Tetapi nanti Ibu akan kembali lagi ke rumah kan?" tanya Bumi. Anjani lalu memandangi Abimanyu yang berdiri di seberangnya.
Bumi lalu melihat ke arah ayahnya.
"Ibu Anjani akan kembali ke rumah jika dia ingin," kata Abimanyu melemparkan pertanyaan kembali pada Anjani.
"Ibu pasti mau kembali kan?'' tanya Bumi lagi.
Anjani menganggukkan kepalanya dengan berat. Dalam hatinya berharap semoga pria itu tidak bertindak kurang ajar lagi padanya. Dia tidak mungkin membiarkan anak kecil itu menderita karena kepergiannya.
Tidak lama kemudian Pak Slamet datang mengabarkan jika dia harus kembali ke rumahnya karena istrinya sedang mau melahirkan di rumah sakit.
"Kau pulang saja bersama Bayu ke rumah lalu ambil mobil Avanza untuk kau bawa pulang siapa tahu kau membutuhkannya untuk membawa barang-barang atau membawa istrimu pulang ke rumah."
"Terimakasih, Tuan Presiden," ujar Pak Slamet. Abimanyu lalu membuka dompetnya dan memberi semua uang yang ada di dalam sana pada Pak Slamet.
"Aku hanya punya ini sekarang, bawa saja terlebih dahulu. Nanti biaya kelahiran anakmu biar aku yang menanggungnya," ucap Abimanyu.
"Tidak usah, Tuan," tolak Pak Slamet.
"Sudah ambil saja, kau sudah bekerja untukku dari Bayu masih kecil, jadi tidak perlu sungkan. Kita itu seperti keluarga."
"Terimakasih banyak Tuan," kata Pak Slamet dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
"Semoga Neng Bumi lekas sembuh. Pak Slamet mau pulang dulu," kata pria itu dengan logat jawanya yang kental. Pak Slamet lalu berpamitan pada semua orang yang ada di sana dan mogok doa untuk kelancaran kelahiran anaknya yang kedua.
__ADS_1
Bayu juga berpamitan pada Anjani. Dia memeluk Anjani dengan tiba-tiba. Tubuh anak itu yang lebih tinggi dari Anjani membuat wanita itu terkejut.
"Aku senang Ibu kembali lagi dan aku berharap setelah ini Ibu tidak akan pergi lagi," kata anak itu terdengar tulus.
Dia lalu berpamitan pada ayahnya. "Ayah aku titip Ibu, jangan dinakali lagi," ujar Bayu. Lalu meninggalkan ruangan itu.
Seorang perawat mendorong troli berisi makanan untuk Bumi.
"Adik manis makan dulu biar cepat sembuh," kata perawat itu menyerahkan wadah berisi makanan.
"Terima kasih," kata Anjani menerimanya. Perawat itu lalu pergi lagi.
"Makan dulu," kata Anjani pada Bumi. Dia membuka penutup makan yang terbuat dari stainless steel. Ada tumis brokoli dicampur dengan jagung dan bakso lalu ada menu ayam kecap.
Bumi langsung menutup mulutnya. "Aku tidak suka."
"Kenapa?"
"Aku tidak suka sayuran," ujar Bumi menolak. Abimanyu ingin mengatakan sesuatu tetapi Anjani memberi tanda agar pria itu menahan diri. Abimanyu lalu kembali duduk di tempat semula melihat bagaimana cara Anjani merayu Bumi.
"Apa kau pernah merasakannya?"
Bumi menggelengkan kepalanya.
"Bumi tidak sayang pada makanan berarti," kata Anjani. Bumi menaikkan alisnya ke atas.
Bumi terlihat berpikir.
"Coba kau tutup mata dan buka mulut mu lalu bayangkan ini adalah yang makanan kau sukai," kata Anjani.
Bumi mengernyitkan dahi.
"Ya, sudah ternyata Bumi ini tidak mau mengenal kalian, Tuan jagung dan ibu brokoli sepertinya kau hanya akan jadi makanan yang terbuang nantinya. Maaf," ujar Anjani sembari menekuk bibirnya pura-pura bersedih.
"Baiklah," suara Anjani terdengar lemah." Aku akan menutup mataku. Tetapi jika itu tidak enak, aku akan memuntahkannya," ujar Bumi.
Abimanyu menaikkan satu alis ke atas terkejut.
Anjani lalu mulai menyuapi Bumi dengan menceritakan dongeng tentang Pak Jagung serta Ibu Brokoli.
Abimanyu mendengarkannya sembari tersenyum sendiri. Anjani memang seperti pawang bagi anak-anaknya. Mereka sangat menurut pada wanita itu.
Setelah makan Bumi meminum obatnya lalu tertidur lagi. Mungkin itu karena efek obat yang dia konsumsi.
Setelah itu Abimanyu memanggil Anjani untuk duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah makan?" tanya Abimanyu penuh perhatian.
"Sudah," jawab Anjani. Dia tadi makan siang bersama Devan di sebuah cafe.
"Aku bertanya makan malam bukan makan siang," tegas Abimanyu.
"Diammu mengatakan tidak." Abimanyu mulai memesan makanan dari aplikasi.
"Nasi Padang, itu makanan terlezat," request Anjani.
"Baiklah, kita akan memesan itu."
Setelah memesan makanan Anjani mulai sibuk dengan handphonenya.
"Aku tidak mengira jika kau akan datang kemari," celetuk Abimanyu tiba-tiba.
"Ibu Anggun menelfonku dan memberitahu jika Bumi berada di rumah sakit jadi aku ingin melihat keadaannya."
"Secepat ini? Kau bisa saja melakukannya esok hari," ujar Abimanyu.
"Entahlah, mendengar dia sakit mambuat hatiku gelisah dan kakiku langsung saja berlari kemari," kata Anjani. Sejenak mereka terdiam.
"Lalu mengapa kau tidak mengatakan hal itu padaku?"
"Karena aku tidak mau, kau mengira aku menggunakan Bumi demi kepentinganku sendiri." Anjani menatap mata Abimanyu lekat. Ucapannya terdengar tulus. Dia lalu menghela nafas.
"Apa kau akan pulang malam ini, jika iya nanti aku akan pesankan taxi untukmu," kata Abimanyu ragu dan takut jika melakukan kesalahan.
Anjani lalu memiringkan tubuhnya dan satu kaki ditekuk di sofa. "Jika boleh aku ingin menunggu Bumi disini," pinta Anjani. Abimanyu tersenyum cerah.
Satu tangan Anjani ditekuk ke sandaran sofa dan kepalanya di tumpu diatasnya.
"Aku akan memaafkanmu tapi dengan syarat kau tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi."
"Satu lagi, bisakah kau bersikap seperti orang pada normalnya?" tanya Anjani.
Abimanyu menautkan kedua alisnya.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan ini lama tetapi aku takut dipecat olehmu. Namun, sekarang tidak lagi terserah kau akan marah dan memecatku nantinya."
"Katakan, aku janji tidak akan marah," ucap Abimanyu penasaran dia tetap duduk dengan posisi yang sempurna.
"Aku bosan melihatmu bertingkah seperti Tuan yang sempurna, aku ingin kau jadi pria normal yang kadang punya sikap konyol ataupun membuat kesalahan. Yang bebas dalam bertindak dan berkelakuan."
Anjani mencondongkan tubuhnya dan menarik bahu Abimanyu agar menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Sekarang cobalah duduk bersila layaknya seorang sahabat yang sedang saling berbicara satu sama lain dengan lainnya. Kau terlalu kaku, rileks." Anjani mengangkat paha Abimanyu agar mengikuti instruksinya membuat wajah Abimanyu memerah dan tegang. Nafasnya terhenti seketika. Apakah wanita ini tidak tahu apa yang dia lakukan itu salah. Dia membangunkan sesuatu yang sudah lama mati suri.
"Ayolah bersikaplah biasa jangan tegang seperti itu," ujar Anjani.