
Anjani terlihat menggendong Bumi. Dia menyuruh Abimanyu untuk menerima Bumi. Di depan Anjani ada nyala api yang besar dari kabel-kabel yang terbakar. Mereka tidak bisa melewatinya begitu saja.
"Tangkap dia," teriak Anjani seraya melempar tubuh Bumi keluar. Abimanyu lantas meraih anak itu dan memastikan dia baik-baik saja.
"Oh, anakku," teriak Marsellina membuat Abimanyu terpaku tetapi tetap menyerahkan Bumi pada Marsellina. Wanita itu langsung mendekapnya.
Kini giliran Tirta yang berlari dan melompat menjadikan tubuh Bayu sebagai pijakannya. Semua menahan nafas. Anak itu lantas bisa melewati api itu dengan cekatan. Tepuk tangan riuh terjadi mereka bisa bernafas lega.
"Sekarang giliranmu, Bayu," ucap Anjani.
"Bagaimana dengan Ibu?" tanya Bayu dengan kata yang merebak.
"Ibu bisa melakukannya yang terpenting kalian selamat terlebih dahulu," ungkap Anjani.
"Ibu saja, aku ini pria lebih gesit." Bayu tidak tega melihat Anjani mengorbankan dirinya.
"Cepat atau kau ingin membuat kita berdua terbakar di sini!" teriak Anjani. Bayu lalu memeluk Anjani.
"Aku sayang, Ibu," ucapnya. Anjani membalasnya dengan menyentuh acak rambut Bayu.
"Kau pasti bisa, ayo," kata Anjani menahan haru.
Bayu sebenarnya tidak tega meninggalkan wanita itu sendiri tanpa handuk basah sementara api menjilat bangunan ini dengan cepat. Namun, jika mereka bertengkar mereka berdua tidak akan selamat.
Anjani berjongkok dan Bayu berlari menjadikan tubuh Anjani sebagi tumpuannya. Dia meloncat keluar melewati pecahan dinding kaca yang tajam.
"Dimana Ibu Anja?" tanya Abimanyu.
__ADS_1
"Ibu, masih di dalam," ucap Bayu khawatir.
"Ya, Tuhan ada apa ini? Kenapa rumahku bisa terbakar." Suara Citra mulai terdengar, wanita itu baru pulang dari rumah Evangeline dan dikejutkan dengan keadaan rumah yang ramai.
"Tenang Bu, jangan panik," beberapa orang mulai menenangkan Citra. Abimanyu sendiri hanya melihat sekilas dia lebih khawatir terhadap keadaan Anjani di dalam. Abimanyu lalu mengambil kain yang dipakai oleh anak-anaknya dan membasahi di kolam renang dijadikannya jubah untuk menutupi tubuhnya dari api yang menyambar. Namun, sebelum itu kakinya yang panjang menendang sisa-sisa kaca yang masih tertancap di pinggiran tembok sehingga menjadi rata. Dia melewati tembok yang tingginya hanya sebatas lutut saja.
"Awas," teriak Anjani melihat suaminya malah masuk ke dalam ruangan itu.
"Hati-hati," ucap wanita itu. Abimanyu melihat Anjani terjebak diantara kayu besar yang menghalangi jalannya.
"Tenang, Sayang, aku akan datang," ucap Abimanyu.
"Di saat genting seperti ini kau masih saja bercanda."
Abimanyu mulai menyingkirkan benda-benda yang menghalangi jalannya.
"Tidak akan, aku akan membawamu pergi dari sini."
"Tetapi api sangat besar," ungkap Anjani mulai terisak. Tadi dia sangat takut hanya saja menyembunyikan di depan anak-anak. Tubuhnya mulai menggigil.
Tanpa Anjani duga Abimanyu menyingkirkan kayu besar yang terbakar itu dengan tangannya. Anjani menjerit tertahan. Setelah kayu itu jatuh ke tempat lain Anjani langsung berlari memeluk Abimanyu.
"Kau baik-baik saja," tanya Anjani memegang tangan Abimanyu. Abimanyu menganggukkan kepala.
"Kita harus segera pergi dari sini," ucap pria itu, menyelimuti Anjani dengan selimut basah yang dia bawa dan membawa Anjani melewati api itu. Hingga akhirnya mereka bisa keluar bersama.
Sesampainya diluar Anjani memeluk balik Abimanyu.
__ADS_1
"Aku sangat takut tadi," ucap Anjani. Bayu dan Tirta datang.
"Ibu baik-baik saja," tanya mereka khawatir.
"Ayahmu," Anjani langsung melihat tangan Abimanyu yang melepuh karena terbakar.
"Tanganmu," kata Anjani. "Kita harus segera ke rumah sakit."
"Bumi dimana dia?'' tanya Anjani lagi.
"Dia tadi bersama Marsellina."
"Dia dibawa pergi dengan paksa oleh kepala Pelayan," teriak salah seorang pelayan.
"Sial! Cepat cari dia!" teriak Abimanyu.
"Kau harus diobati terlebih dahulu."
"Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada Bumi," kata Abimanyu. Dia takut Marsellina membawa pergi Bumi.
"Marseillina sangat menyayangi Bumi, tidak mungkin dia akan melukainya."
"Justru karena itu, dia ibu Bumi jadi dia ingin. membawa anak itu pergi."
Anjani menutup mulutnya.
"Kau harus diobati terlebih dahulu masalah ini biar Ibu yang atasi," ucap Citra tiba-tiba. Anjani menganggukkan kepalanya.
__ADS_1