Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Pembelaan anak-anak Abimanyu


__ADS_3

Anjani terkejut melihat Bayu ada di belakangnya. Dia datang bersama dengan Abimanyu dan dua adiknya yang lain.


"Siapa yang kau bilang tidak punya harga diri. Dia itu ibuku, jadi jangan berani menghinanya jika tidak kau berhadapan denganku."


"Kick...," imbuh Tirta dengan menggerakkan tangan ke samping. Bumi tersenyum memegang bibirnya.


Abimanyu hanya terdiam menatap Devan dengan santai. Mantan kekasih Anjani hanya menatap Abimanyu dengan tatapan benci namun kemudian dia berpaling ke arah lain.


"Ibu...." ucap Yooja gagap.


"Ya, dia ibuku, kau mau apa? Bagaimana bisa kau sebut dia tidak punya harga diri karena bersama dengan suaminya."


"Betul, kau yang tidak punya harga diri karena berpakaian minim seperti itu dan menggandeng pria yang bukan suamimu?" lanjut Tirta.


"Eh kalian anak tidak tahu diri, beraninya mengatai yang lebih tua dengan perkataan kasar, apakah kalian tidak pernah dididik dengan perkataan baik."


"Yang tidak baik itu kau karena menuduh seseorang di depan umum tanpa bukti yang memadai," seru Abimanyu


Devan yang tidak ingin melihat pertarungan Yooja dan Anjani meninggalkan tempat itu tanpa kata.

__ADS_1


Yooja mati kutu, dia tahu berurusan dengan siapa. Lagi pula Anjani sudah menjadi istrinya itu lebih menyulitkannya untuk menghina wanita itu karena punya dekingan kuat.


"Jangan sampai aku melaporkanmu karena tindakan yang tidak menyenangkan telah menyebarkan fitnah yang kejam."


Desak Abimanyu membuat Yooja mati kutu. Yooja lalu terdiam, dia menengok ke samping dan kebelakang mencari pembelaan dari Devan namun pria itu sudah tidak ada.


"Aku yakin dia sudah muak denganmu." ungkap Anjani tanpa melihat ke arah Yooja. Dia lalu menyeruput minumannya dengan santai.


"Pergilah lari seperti seorang pengecut Yooja," kata Anjani membalikkan tubuhnya. "Karena sekarang kau sendiri dan aku kini bersama dengan keluargaku."


Yooja lalu menghentak Kakinya dan pergi dari sana dengan perasaan jengkel, marah dan dendam.


"Lihat saja Anjani suatu hari akan kubalas kau lebih dari ini."


"Kami rindu, kapan Ibu Anja pulang ke rumah."


"Ibu baru saja pergi satu hari," terang Anjani.


"Tetapi kami takut jika ibu meninggalkan kami seperti ibu kandung kami," ujar Tirta.

__ADS_1


Bayu lalu maju ke depan.


"Ibu, maafkan aku," ucap Bayu menundukkan kepalanya.


"Tidak ada yang salah hanya waktunya saja yang tidak tepat."


"Aku yang salah karena mengira...," perkataan Bayu terhenti ketika Anjani menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Bayu.


"Sudah jangan dibahas lagi. Barang basi tidak enak untuk dimakan..Masalah yang telah lampau jangan pernah di bahas lagi. Biar itu jadi cerita hidup yang menyenangkan. Bagi ibu kalian tetap menjadi anak ibu yang menyenangkan."


"Tunggu kenapa kau tadi bilang aku ibu kalian?"


"Tidak tahu mengapa Kak Bayu mengatakannya." Bumi menyalahkan kakakny.


"Aku yang sudah menjelaskan hubungan kita. Aku kira dia sudah dewasa dan tahu apa yang baik dan salah. Tidak baik menyembunyikan pernikahan kita yang ada hanya salah paham saja yang membuat perpecahan di keluarga kita."


Anjani membuka mulutnya.


"Sungguh kau sudah tahu tentang itu?"

__ADS_1


Bayu menganggukkan kepalanya.


"Tunggu dulu jika Ibu sudah jadi Ibu kami itu artinya.... Akh! Ayah curang, kenapa hanya Kak Bayu saja yang diberitahu." seru Tirta, merengek.


__ADS_2