
Sesampainya di luar Cindy bingung melihat tingkah Abimanyu yang sedang terlihat panik. Wajahnya memerah dengan telinganya yang putih berubah menjadi pink di pinggirannya.
"Kau kenapa, Nak?" tanya Cindy.
"Oh, untung ada Ibu di sini. Itu Anjani ingin melepas kebayanya tetapi aku tidak bisa," kata Abimanyu kikuk.
"Kenapa?" wajah Cindy terlihat serius.
"Itu karena ehm ... ehm ... sebaiknya ibu saja yang membantunya," kata Abimanyu meninggalkan Cindy sembari menundukkan wajahnya sedangkan Cindy menahan tawanya hingga perutnya sakit. Dia lalu membuka pintu kamar.
"Anja kenapa dengan suami?" tanya Cindy.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Bu," kata Anjani pura-pura tidak mengerti.
"Tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu."
"Dia seperti anak bujang saja. Ku suruh menolongku membukakan baju kebaya ini malah ketakutan."
"Ya, iya dia ketakutan," kata Cindy mendekat lalu membuka kancing baju yang ditutupi oleh Bros besar emas. "Dia takut burungnya tegak dan ini belum waktunya untuk melepaskan."
"Ish ibu berterus terang sekali," kata Anjani.
"Kau beruntung mempunyai pria yang terlihat bertanggung jawab. Dia bahkan tidak berani menyentuhmu sebelum menikah. Tidak seperti ayah Elang. Dia dulu mengumbar janji akan menikahi ibu dan ibu dengan rela menyerahkan harta ibu paling berharga. Nyatanya sampai Elang lahir pria itu tidak bertanggung jawab malah pergi entah kemana."
__ADS_1
Anjani mendengarkan cerita Cindy dengan seksama selama ini mereka tidak pernah seakrab ini. Biasanya tetap ada sekat yang menghalangi kebersamaan mereka.
"Lalu ibu melihat ayahmu sedang menggendongmu sembari bekerja. Waktu itu ayahmu hanya bisa berjualan koran agar bisa menghasilkan uang tanpa harus meninggalkanmu. Kau dibawanya panas-panasan setiap hari. Ketika hujan ayahmu akan membawamu berteduh di warung milik nenek lalu menitipkanmu sementara dia menyelamatkan dagangannya. Hampir seperti itu keseharian kami hingga akhirnya aku merasa iba lalu menyuruh dia berjualan saja sedangkan kau dan Elang ku asuh bersama-sama. Di situ timbul suatu hubungan ketergantungan tanpa kami sadari hingga akhirnya kami merasa saling membutuhkan. Ayahmu lalu menikahiku agar bisa bekerja tenang tanpa harus memikirkan keadaanmu nantinya dan aku memutuskan menikahinya karena ingin agar Elang punya sosok ayah yang baik dan bertanggung jawab sepertinya. Sehingga dia menjadi pria sejati bukan pria pengecut seperti ayahnya." geram Cindy.
Tiba-tiba Anjani memeluk Cindy dan menangis.
"Maaf Bu, selama ini aku pikir ibu penyebab Ibu pergi dari hidup ayah," kata Anjani.
"Tidak apa-apa, Ibu ikhlas melakukannya. Yang penting sekarang kau sudah tumbuh besar dan bisa berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Aku juga tidak tahu bagaimana cerita ayahmu dan ibumu karena kami sudah berjanji untuk tidak membuka masa lalu kami ke depannya. Bagi kami Elang dan kau adalah anak kami tidak ada perbedaan. Ayahmu menyayangi Elang dan Ibu pun selalu berusaha untuk berbuat sama walau kau terkadang mengatakan jika aku selalu membela kakakmu. Maafkan Ibu, Nak," kata Cindy ikut menangis.
"Aku yang salah sangka sehingga semua yang ibu lakukan terasa salah untukku. Maafkan kekhilafanku selama ini."
__ADS_1
"Ibu juga minta maaf," ucap Cindy, mereka berdua lalu menangis dan menyesali kesalahan mereka bersama-sama dalam hatinya.
"Mulai hari ini aku akan menganggap Ibu sebagai Ibu kandungku. Ayah benar setiap kali aku sedang marah dia akan selalu mengatakan jika Ibu adalah ibu sebenarnya karena Ibu yang bersusah payah membesarkan aku selama ini."