Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Sebuah Alasan


__ADS_3

Anjani masuk ke dalam tempat kuliahnya dengan tersenyum sendiri mengenang kejadian tadi. Dia mengabaikan Devan yang berdiri di sebelahnya terus saja berjalan.


Hingga akhirnya satu tangan Devan memegang tangannya.


"Lepaskan aku!" geram Anjani tertahan.


"Kita harus berbicara," ucap Devan memelas.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan!" ujar Anjani marah berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Devan. Namun, pria itu tetap menggenggamnya erat.


"Anjani aku ingin minta maaf atas memperlakuanku semalam," lirih Devan.


"Aku sudah memaafkanmu sekarang lepaskan aku!" ujar Anjani. Lalu tangan Anjani dilepaskan oleh Devan. Namun, wanita itu berjalan cepat meninggalkan Devan tanpa menoleh ke belakang. Devan hanya bisa memandangi kepergian Anjani dengan nanar.


Di saat itu Yoola datang, tangannya dia letakkan di bahu Devan.


"Kau sudah tidak menarik lagi setelah wanitamu menemukan pria tua kaya raya itu. Lihatlah, aku yang selalu menunggumu dengan setia."


Devan menurunkan tangan Yoola lalu berlalu pergi sembari menatapnya tajam.


"Devan! Ikh... kok dia pergi sih, apa belum bisa melek lihat seperti apa wanita murahan itu?" Yoola menghentak kakinya ke tanah dengan kuat.


"Sudahlah Yoola, biarkan saja Devan mengejar perempuan itu. Toh dia sudah tidak akan dipedulikan," kata Moy.


"Tapi... ," ujar Yoola keberatan.


"Cobalah jadi temannya Devan, lalu kau mulai mendekatinya dan ibunya. Kau akan memenangkan pertarungan ini. Jika kau tetap bersikap seperti ini niscaya Devan akan illfeel. Pakai otak untuk menjatuhkan pria."


"Kau benar... , aku akan mengikuti saranmu. Aku akan menjadi teman dia yang paling setia sehingga dia tidak ingat lagi pada Anjani."


"Begitu baru namanya Yoola. Kita hanya perlu membuat malu si Anj ... itu biar tidak berani masuk kampus ini lagi karena malu," ucap Moy.


"Betul kita permalukan dia saja sampai mati kaku berdiri," kata Moy.


"Otakmu memang selalu cair kalau mikirin hal licik," puji Yoola.


"Aku tidak suka saja lihat gelagatnya yang shock yes," ujar Moy.


"Aku juga tidak suka, masih miskin tapi sok belagu," tanggap Yoola menarik satu bibirnya ke samping.


Devan hendak mendekati Anjani ketika wanita itu keluar dari ruang dosen. Namun, salah seorang preman kampus mendekatinya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba mendekatinya," kata Roni, preman itu.


"Emang apa urusan loe," ujar Devan hendak menyingkirkan pria itu.


"Urusan gue adalah gue nggak suka jika larangan gue diterjang." Roni maju ke depan seperti menantang duel membuat Devan terkejut. Sekilas, Devan melihat Anjani sedang berjalan menjauh darinya.


"Loe kenapa sih, kita nggak pernah punya urusan," kata Devan semakin meninggi.


"Kata siapa? Kita punya urusan, jika sampai elo dekatin dia lagi, gue nggak segan-segan kasih peringatan keras nantinya. Bener nggak?" kata Roni pada kelima temannya yang ikut mengelilingi Devan.


Devan lalu menyingkirkan Roni ke samping dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Roni sendiri langsung menelfon seseorang.


"Bos, pokoknya beres semua masalah teratasi, anak itu nggak bakalan berani mengganggu Anjani lagi," kata Roni.


"Anjani nggak tahu, Boss, jadi tidak usah khawatir."


"Yang penting transferannya kan? Oh sudah, Okey terimakasih Boss. Kapan pun jika butuh bantuan aku akan selalu membantu asal ada bayarannya."


Roni lalu menutup panggilan telephon itu.


"Sepuluh juta bro, cuma buat jaga cewek itu di kampus."


"Mang gadis itu punyanya Om berduit ya sampai rela ngeluarin duit banyak asal ceweknya aman?"


"Ya, dari dulu itu aku suka Anjani karena kelihatan cewek baik-baik ternyata akhirnya dia pun sama Ama cewek lainnya."


"Hidup itu perlu duit, bro, jadi kita g bisa seidealis itu. Gue nggak tahu tentang kehidupan wanita itu, yang jelas gue ikut senang dengan kehidupannya yang lebih baik karena ikut kecipratan senang dengan duit ini."


"Betul ... betul ... ," seru yang lainnya.


***


Malam harinya setelah mengajarkan tugas sekolah pada anak-anak giliran Anjani menggarap tugas skripsi yang baru dimulainya. Dia lalu mulai asik menulis namun tiba-tiba laptop nya mengalami eror.


"Tidak .... tidak ... jangan sekarang, no ...." Anjani menarik rambutnya ke belakang. Tidak berharap laptopnya yang sudah berumur lebih dari lima tahun itu rusak tiba-tiba. Dia sadar jika mungkin ada komponen yang rusak karena tahun pembuatannya sudah lebih dari delapan tahun. Ayahnya membeli laptop second untuknya dahulu.


Anjani mengusap kasar wajahnya dan menggigit bibir tidak tahu harus melakukan apa?


Akhirnya setelah berpikir lama, Anjani mendatangi kamar Abimanyu mengetuk pintu. Abimanyu membuka pintu kamar dan terkejut melihat Anjani berdiri di depannya.


Kepalanya disandarkan ke kusen pintu.

__ADS_1


"Apa kau mulai merindukanku hingga harus mengetuk pintu kamar di tengah malam?" tanya Abimanyu. Anjani memutar bola matanya malas.


"Aku bukan ingin merayumu seperti wanita murahan dengan mendatangi kamar seorang pria di tengah malam. Tetapi aku punya sedikit masalah dan aku tidak bisa mengatasinya."


"Masalah apa yang membuatmu membangunkan ku di tengah malam?"


"Anu ituku ... "


"Kenapa dengan itumu?" potong Abimanyu menahan tawa.


"Ih, dengarkan dulu hingga selesai, Pak," kata Anjani mulai kesal.


"Jangan panggil, Pak," ujar Abimanyu.


"Mas Abi, komputerku sedang eror. Aku tidak tahu harus melakukan apa? Padahal semua tugas dan catatan ada di dalamnya," terang Anjani. "Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa."


Anjani memperlihatkan komputernya pada Abimanyu. Abimanyu lalu membolak balik komputer usang Anjani.


"Apakah tidak ada yang lebih buruk dari ini, ini sudah sepatutnya masuk ke tukang loak," ejek Abimanyu. Anjani mencebikkan bibirnya.


"Itu laptop sudah menemaniku dari aku SMU jadi itu sudah seperti belahan hatiku," ujar Anjani.


"Kita ke ruang kerja saja," ajak Abimanyu. Anjani lalu mengikutinya dan masuk ke dalam ruang kerja Abimanyu.


Di sana dia dipersilahkan duduk di sofa sedangkan Abimanyu mulai memakai kacamata dan terlihat serius dengan laptop itu.


"Pemrograman di komputer ini sudah lama jadi kau perlu pembaharuan, kau mungkin harus menghapus beberapa data yang tidak penting," kata Abimanyu.


Anjani lalu mendekat ke arah Abimanyu dan melihat apa yang harus di hapus.


"Sebaiknya kau beli saja laptop yang baru," ujar pria itu menghentikan gerakannya.


"Aku tidak punya uang," kata Anjani jujur.


"Tinggal minta saja padaku tidak sulit," ujar Abimanyu.


"Aku hanya ingin kau menolongku membuat komputer ini normal kembali bukannya mau minta di belikan laptop baru."


"Ehm aku punya beberapa laptop punyaku yang sudah tidak kugunakan," kata Abimanyu lalu menggeser kursi kebesarannya lalu berdiri hendak berjalan melewati Anjani tetapi wanita itu memegang tangannya.


"Tidak usah, aku tidak mau."

__ADS_1


Abimanyu menatapnya dalam lalu mendekatkan tubuhnya sehingga tubuh Anjani tersudut di sisi pinggir meja.


__ADS_2