Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Tertarik


__ADS_3

Hari-hari dilalui oleh keluarga Abimanyu dengan bahagia. Tidak ada keributan semua berjalan dengan baik. Hubungan Anjani dengan Abimanyu pun semakin dekat. Tidak jarang mereka latihan di ruang kebugaran ketika anak-anak sedang tertidur sembari mengobrol.


Abimanyu seperti memiliki seorang teman untuk diajak bicara tipe sepertinya yang sulit bergaul dengan mudah Anjani bisa mendekatinya. Mungkin karena sikap wanita itu yang hangat membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa nyaman.


Seperti kali ini mereka latihan bersama di ruangan itu. Marsellina mengintip kebersamaan mereka dari luar jendela.


"Lebih keras pukulanmu, Anjani." Abimanyu mengarahkan Anjani sembari menepis pukulannya dengan mudah.


Anjani lalu menendang tubuh pria itu dengan cepat Abimayu bisa memegangnya namun gerakan selanjutnya Anjani melayangkan pukulan ke wajah Abimanyu. Abimanyu yang terkejut lalu menendang satu kaki Anjani yang lain sehingga wanita itu limbung dan hampir jatuh namun dia memegang baju Abimanyu hingga akhirnya mereka terjatuh bersamaan.


Abimanyu jatuh diatas tubuh Anjani. Kulit wajah mereka saling bersentuhan. Deru nafas mereka saling bertemu. Entah setan apa yang merasuk tiba-tiba Abimanyu memberanikan diri menempelkan bibirnya ke bibir ranum Anjani.


Melihat tidak ada reaksi entah karena wanita terkejut atau apa, Abimanyu mulai membuat gerakan kecil dengan lembut. Menggodanya dengan membelai bibir Anjani dengan lidahnya, mengigit bibir manis itu pelan.


Anjani begitu terkejut melihat tatapan Abimanyu yang menggelap dan penuh hasrat. Tangan yang menumpu tubuhnya tiba-tiba memeluk tubuh mantap dan begitu cepat, membuatnya terkesiap kaget. Belum sampai di situ bibir pria itu menyentuh bibirnya.


Pelukan itu semakin kuat dan payudara Anjani tertekan tubuh kokoh dan berat Abimanyu. Entahlah tetapi Anjani merasa seperti terlindungi meskipun rasanya seperti melangkah masuk ke dalam lubang hitam penuh emosi dan dia merasa aman walau dirinya terancam dengan keadaan ini. Jantung dada mereka saling berdetak kencang seirama, bisa saling merasakan di kulit masing-masing.


Abimanyu mulai menggigit bibir bawah Anjani menelusuri hingga bibir Anjani terbuka. Tanpa ragu lidah Abimanyu masuk menjelajah ke mulut Anjani menjelajah dan menggoda. Nafas Anjani terengah-engah begitu pula nafas Abimanyu. Seluruh tubuh Anjani panas tetapi tempat yang disentuh Abimanyu menggelenyar.


Sementara sebelah tangan Abimanyu memeluk tubuh Anjani semakin mantap, satu tangan lainnya menangkup ke belakang kepala Anjani membuat kontak bibir mereka semakin dalam.


Entah mengapa Anjani pun hanya terdiam, dia ingin memberontak tetapi perlakukan lembut pria itu membuatnya terhanyut. Dia pernah melakukan ini dengan Devan tetapi tidak selembut dan semanis ini serta sepanas itu.


Di saat kabut sensual wanita itu tengah naik, dia membiarkan Abimanyu menguasainya. Abimanyu menurunkan ciumannya turun kebawah melewati pipi hingga ke telinganya lalu mengulum bagian bawah telinganya lembut.


Setelah melakukan itu Abimanyu lalu menggerakkan kepalanya sedikit ke bagian sensitif, persis di bawah telinga. Tiap-tiap gelenyar di tubuh Anjani berubah menjadi kenikmatan. Erangan kecil terdengar dari tenggorokan Anjani. Dia tidak bisa menahan diri apalagi menyuruh pria itu menghentikan ciumannya.

__ADS_1


"Anjani," kata suara pria itu serak.


Hembusan nafas pria itu menerpa Anjani, menggelitik, menggoda dan membuat punggungnya mengigil.


"Apa yang kita berdua lakukan?" Pria itu masih menatap Anjani dengan pupil mata yang menggelap.


Anjani membuka netranya. Dadanya masih naik turun tidak beraturan. Tubuhnya masih bergetar hebat dan kedua kakinya melemas setelah apa yang terjadi pada mereka berdua.


Abimanyu lalu duduk di sebelah Anjani. "Maaf, aku harus pergi karena aku bisa saja tidak bisa mengendalikan diri. Ku mohon jangan tersinggung ataupun marah. Kita bisa membicarakan ini besok."


Pria itu lalu berdiri meninggalkan Anjani sendiri di ruang itu. Sedangkan Anjani duduk dan termangu sendiri. Apa yang dia lakukan tadi? Mengapa dia tidak menolak dan bahkan menikmatinya?


Apa dia sudah gila? Dia bahkan telah mengkhianati Devan. Anjani menggaruk rambutnya sendiri dengan kesal. Di saat yang sama Marsellina masuk ke dalam ruangan itu dan bertepuk tangan. Suaranya terdengar hingga ke sudut ruangan.


Prok ... Prok ... Prok...


Anjani tertawa keras.


"Kenapa? Apakah kau cemburu? Apa kau berharap aku akan diam saja ketika kau hina? Sayangnya aku bukan wanita seperti itu!"


"Aku hanya tidak mengira wanita yang terlihat baik sepertimu menggoda pria baik-baik seperti Tuan Presiden seperti seorang ja. lang."


Dikatakan seorang wanita murahan membuat hati Anjani tidak terima. Dia bukan wanita yang akan diam saja ketika dihina.


"Jangan sok suci, kau juga menyukai Pak Abi dan kau cemburu ketika dia lebih memerhatikan aku dari pada dirimu?" tuduh Anjani.


Marsellina terdiam.

__ADS_1


"Jika kau menyukainya maka kejarlah dia dan rebut hati anaknya bukannya marah padaku karena kau kalah bersaing!"


Marsellina terdiam tetapi tangannya mengepal dengan kuat.


"Kau salah jika melawanku Anjani," geram Marsellina.


"Kau belum mengenalku Ibu Kepala Rumah Tangga," kata Anjani tidak takut. Bukan karena dia mencintai Abimanyu tetapi harga dirinya terluka oleh hinaan wanita itu.


"Kau," tunjuk Marselina ke arah wajah Anjani. Anjani lalu menurunkan tangan Marselina.


"Jangan menunjukku karena aku bukan makan dari pemberianmu," ucap Anjani lalu meninggalkan Marsellina sendiri.


Sesampainya di luar Anjani memegang dadanya yang berdegub kencang dan menghela nafas panjang mengisi penuh udara dalam dadanya.


Dia berjalan melewati pinggiran kolam renang dan masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti ketika melihat kamar Abimanyu yang tertutup rapat. Dengan langkah sangat pelan seolah enggan untuk menimbulkan suara. Anjani melewati lorong itu dan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci rapat. Setelah itu tubuhnya luruh ke lantai. Sembari memegang bibirnya sendiri.


Mengapa rasanya berbeda dan mengapa dia menerimanya? Pertanyaan itu yang terus berputar dalam otaknya.


Anjani menyentuh telinga yang tadi di gigit oleh Abimanyu. Dia bahkan tidak pernah merasakan gelora ini ketika bersama Devan.


Ini salah, batin Anjani berdebat. Dia tidak bisa mengkhianati Devan karena dia mencintai pria itu sepenuh hati.


Hal berbeda di lakukan oleh Abimanyu. Dia berdiri di depan jendela ketika Anjani keluar dari ruang kebugaran dan melihat wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah itu dia duduk di tempat tidur, menunduk dan memegang kepalanya dengan kedua tangan.


Dia telah lepas kendali. Tetapi yang membuatnya heran adalah Anjani tidak menolaknya sama sekali. Haruskah dia bahagia atau merasa takut. Takut dengan perasaannya sendiri. Padahal dia telah menekan perasaannya kuat-kuat namun nyatanya akhirnya dia tidak bisa mencegahnya. Anjani terlalu menarik.


Namun, apakah wanita itu akan membalas perasaannya? Jika iya apakah dia akan menjadi seperti Lara suatu hari nanti. Masa lalunya kembali membuat dia enggan untuk melangkah maju.

__ADS_1


__ADS_2