Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Kesempatan


__ADS_3

Anjani lalu menarik Devan pergi mendekat Abimanyu. Dia berniat untuk mengenalkan dia pria itu.


''Devan kenalkan ini Pak Abimanyu, ayah dari anak-anak yang kudidik. Pak Abi kenalkan ini Devan ketua komunitas ini, sekaligus pacarku," terang Anjani mempertegas hubungannya dengan Devan karena tidak ingin melukai hati Abimanyu dengan penolakannya.


"Oh, I see," kata Abimanyu terlihat santai mengulurkan tangannya. "Abimanyu Wijaya Kusuma."


"Devan Sanders. Kalau tidak salah apakah Anda pemilik dari Kusuma grup?" tanya Devan sembari menjabat tangan Abimanyu.


"Ya, bersama dengan adik dan keluarga yang lain,'' jawab Abimanyu.


"Anda terlalu rendah hati. Senang berkenalan dengan orang sehebat Anda. Nama Anda selalu wara wiri di majalah bisnis."


Abimanyu hanya tersenyum tipis.


"Oh ya, ada beberapa barang yang akan kami berikan untuk anak-anak hanya masih ada di luar. Bisakah aku meminta tolong teman-teman untuk membawanya kemari," pinta Abimanyu.


"Wah Anda repot-repot Tuan kehadiran Anda kemari saja sudah memberikan angin segar untuk kami."


"Aku hanya ingin mengajariku tentang berbagi dengan orang lain. Mengajarkan mereka tentang mensyukuri kehidupan yang telah mereka miliki saat ini."


Devan menganggukkan kepalanya salut dengan pemikiran Abimanyu.


"Mari kita ke kamp belajar, tempat anak-anak berkumpul," ajak Devan. Abimanyu lantas mengikuti Devan. Mereka lantas membicarakan tentang masalah pendidikan anak di tempat ini dan perkembangan komunitasnya.


Sedangkan Anjani berjalan beriringan bersama dengan Bayu dan Tirta.


"Ibu tidak menyangka kau mau bermain bersama anak-anak sini."


"Mereka pernah menolongku sewaktu aku dikeroyok oleh remaja lain saat tawuran. Semenjak itu aku mengenal baik mereka," jawab Bayu menatap teman-temannya yang berjalan di belakang mereka.


Mereka sampai di suatu ruangan lebar yang terbuat dari tripleks dicat warna warni beberapa anak muda berada di sana. Satu orang sedang maju untuk mengajarkan anak-anak tentang pentingnya membaca.


Devan lalu maju ke depan.


"Anak-anak kita ada tamu. Namanya bapak Abimanyu Wijaya Kusuma. Dia membawa tiga anaknya yang ingin berkenalan dengan kalian."


Abimanyu lalu maju ke depan memberi satu dua patah kata.


"Bumi anak terkecil ku membawa sedikit hadiah untuk kalian semoga kalian suka dengan pemberian kami yang tidak seberapa," Abimanyu mengakhiri sambutannya.


Lalu anak-anak muda teman-teman Anjani mulai membagikan semua yang Abimanyu bawa. Bumi terlihat antusias ikut membagikan buku dan alat tulis sembari dipangku Abimanyu. Bayu dan Tirta ikut memberikan makanan kecil dan minuman buat anak-anak itu sedangkan nasi kotak dibagikan ke anak-anak juga warga sekitar. Acara hari ini jadi berlangsung meriah.


Abimanyu dan keluarganya ikut makan siang nasi kotak bersama dengan anak-anak itu. Bumi yang pemilih soal makanan menjadi mau ikut makan mengetahui bagaimana cara anak-anak itu makan yang semangat sekali dengan lauk sederhana.

__ADS_1


Devan dan Anjani sendiri duduk di sudut ruangan lain bersama Anjani. Dari gesture tubuh mereka terlihat sangat mesra terkadang mereka juga terlihat bercanda dan memberi perhatian. Abimanyu hanya bisa melihat dari jauh tanpa bisa berkomentar ataupun marah. Karena pada kenyataannya dia bukan siapa-siapa Anjani.


Anjani merasakan tatapan Abimanyu yang dilayangkan ke arahnya tetapi dia bersikap seolah tidak tahu. Dia bersikap manja pada Devan bukan tanpa sebab dia ingin agar Abimanyu menjauhinya.


Devan sendiri merasa janggal dengan sikap berlebih Anjani. Biasanya dia tidak semanja ini dan seperhatian ini. Apapun itu dia menyukainya.


"Kita pulang bersama lalu pergi ke danau terdekat, yuk," ajak Anjani.


"Maaf Anjani bukannya tidak mau hanya saja ibuku minta ditemani ke acara arisan keluarga nanti sore," kata Devan.


Anjani menaikkan bibirnya ke atas dan menghembuskan nafas keras.


"Berarti kita tidak jadi ngedate nih?"


"Kita ganti lain hari saja?"


"Kau tahu sendiri jika aku hanya libur di hari Minggu saja," kata Anjani.


Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak tahu harus bagaimana melihat kekasihnya mengambek. Dia lalu melayangkan satu kecupan singkat ke pipi Anjani dan sempat terlihat oleh Abimanyu.


"Sudah jangan marah Minggu besok aku janji akan pergi bersamamu."


"Janji."


"Kita ke Ancol Minggu depan."


Anjani tersenyum senang. Dia lalu memasukkan ayam panggang ke mulut Devan menyuapinya.


"Kalian ini dimana-mana terlihat mesra terus," celetuk salah satu sahabat Devan.


"Punya cewek cantik ya harus dijaga dan disayang kalau tidak diembat ma yang lainnya," ungkap yang lainnya.


"Jangan-jangan elu kemarin bertengkar dengan Samuel gara-gara Anjani lagi."


"Secara, Samuel itu udah lama ngincer Anjani cuma Anjaninya lebih milih Devan."


Anjani menatap Devan. Pria itu hanya tersenyum menanggapi celoteh temannya.


Setelah acara makan-makan maka mereka pulang ke rumah masing-masing. Devan berpamitan pulang terlebih dahulu karena ada acara setelah itu Anjani mengantarkan Devan hingga ke parkiran motornya. Sebelum pergi pria itu sempat mengecup kening Anjani.


"Jangan nakal dan jangan lihat pria lain," ucap Devan sebelum pergi dari tempat itu.


"Apaan sih," kata Anjani.

__ADS_1


"Aku itu susah mempunyai kekasih yang sangat cantik seperti dirimu. Kemana-mana banyak yang naksir dan ingin merebutmu dariku. Jadi aku harus tetap waspada," sindir Devan. Bagaimana pun dia bisa merasakan pandangan lain Abimanyu pada Anjani.


"Kamu ngomong apa sih aneh," tanggap Anjani.


"Cukup ingat jika ada orang yang akan selalu mencintaimu dan orang itu adalah aku," ucap Devan.


"Aku juga mencintaimu," jawab Anjani. Devan lalu menyalakan motornya dan beranjak pergi dari tempat itu.


Abimanyu sendiri sedang berjalan ke arah Anjani dan melihat kebersamaan dua orang itu.


"Kau tidak ikut bersama pacarmu?" tanya Abimanyu.


Anjani menggelengkan kepalanya. "Dia ada acara."


"Kita pulang ke rumah?" tanya Abimanyu.


"Kita keluar nonton saja, Yah," kata Bayu.


"Iya ada film Spiderman terbaru, aku ingin nonton, Yah," lanjut Tirta.


"Yeay, kita sudah lama sekali tidak melakukannya."


"Ibu Anja mau ikut bersama kami atau ada acara lain?''


Anjani nampak berpikir.


"Baiklah."


"Kita nonton di mall terdekat setelah itu kita belanja pakaian," kata Abimanyu ingin membelikan gaun untuk Anjani untuk membayar kesalahannya.


"Yeay," sorak sorai ketiga anak Abimanyu.


"Bumi, ayo turun dari tadi digendong ayah saja," ajak Bayu. Bumi terlihat enggan tetapi dua kakaknya mengajaknya balapan lari hingga ke mobil.


Bumi setuju dan minta turun dari gendongan ayahnya. Tetapi sebelum itu beberapa anak yang dekat dengan Bayu menghampiri mereka.


"Bayu terimakasih atas makanannya," kata anak-anak itu. Bayu menganggukkan kepalanya.


Abimanyu lalu membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembar pecahan uang berwarna merah pada mereka. Mereka terlihat senang lalu berjalan beriringan mengantarkan Bayu sampai ke mobil.


Tangan Abimanyu tiba-tiba diletakkan di bahu Anjani membuat wanita itu terkejut.


"Kata orang jika belum ada janur kuning melengkung maka masih ada kesempatan," bisik Abimanyu di telinga Anjani.

__ADS_1


__ADS_2