Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Barang Lama


__ADS_3

"Anjani ada masa dalam pernikahan ketika mereka diuji oleh kebosanan, dan kejenuhan ketika semua telah dimiliki. Sebagian lebih suka berterus terang pada pasangannya mencari sebuah solusi sebagian lainnya mencari sebuah pelarian, mungkin dengan menghabiskan uang dan bersenang-senang atau mungkin juga berselingkuh," ucap getir Abimanyu.


"Aku tidak tahu tentang itu. Namun, di keluarga kami, walau ayah dan ibu tiriku hidup kekurangan, mereka selalu bersama, saling bahu membahu mengatasi kesulitan dan saling mendukung satu dengan yang lainnya hingga aku terkadang kesal karena ayahku lebih membela ibu tiriku dari pada aku anak kandungnya sendiri," ungkap Anjani.


Abimanyu mengusap kepala Anjani dengan sayang. "Itu sebuah contoh yang baik jadi lupakan apa yang kukatakan."


"Pak, boleh aku bertanya tentang hatimu sebelum melakukan semua ini?"


"Bertanya tentang hatiku?" Anjani mengangguk.


"Apa perasaanmu saat ini tentangku?"


"Aku menyukaimu tidak seperti menyukai wanita pada umumnya. Merasa sesuatu hal yang tidak aku dapatkan bila bersama wanita lain dan merasa semangat hidupku meningkat jika didekatmu. Kau membuat hariku lebih baik, apalagi setelah menyentuh bibirmu, tidurku akan lelap setelahnya."


"Ish," desis Anjani dengan kalimat terakhir Abimanyu yang mesum.


"Apa kau pernah melakukan hal seperti tadi pada wanita lain yang bukan istrimu?"


Abimanyu membuka mulutnya, terkejut dengan kata-kata Anjani.


"Aku tidak pernah menyentuh wanita lain selain istriku apalagi melakukan hal melebihi batas pada wanita yang belum kunikahi, hanya kau yang bisa membuatku lepas kendali. Karena itu aku ingin meminangmu secepatnya."


Entah mengapa jawaban ini membuat Anjani senang. Berarti Abimanyu tidak pernah menyentuh Marsellina seperti yang ada dalam pikirannya.


"Sekarang ganti aku yang bertanya padamu, apa perasaanmu padaku?"


Anjani tidak tahu harus menjawab. Sejenak dia mulai berpikir. Tiba-tiba Abimanyu menarik tubuhnya mendekat ke arahnya dan memeluk Anjani dari belakang. Anjani tidak menolaknya ketika kepala Abimanyu berada di ceruk leher Anjani dan mendengus walau hal itu membuat pikirannya kacau.


"Kau membuat tubuhku selalu tidak bisa dikontrol," celetuk Anjani cepat karena hanya itu yang ada dalam pikirannya. Abimanyu terkejut dengan jawaban wanita itu lalu tersenyum. Wanita itu lantas membenarkan letak duduknya.

__ADS_1


"Hanya itu?"


"Mungkin nyaman yang membuatku mau menikah denganmu karena pernikahan bukan hanya tentang cinta tetapi kenyamanan yang didapat dari pasangannya. Rasa itu mungkin bisa tumbuh sendirinya seiring waktu yang dilalui bersama."


"Kau sangat dewasa sekali tidak sesuai dengan umurmu."


"Aku telah banyak melihat pernikahan yang didasari cinta tetapi akhirnya berakhir hanya karena mereka sudah tidak saling nyaman dengan pasangan mereka."


"Kau benar, aku tidak tahu apa yang terjadi jika hal itu kita alami pada kita dalam waktu dekat. Kau masih sangat muda mungkin suatu hari menginginkan sebuah kebebasan nantinya," ucap Abimanyu sedih.


"Jangan berpikir negatif dulu sebelum memulainya. Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan pernikahan ini tidak akan berakhir hingga salah satu dari kita menutup mata selamanya."


"Sungguh itukah yang akan terjadi nantinya?"


"Aku tidak tahu apa takdir kita tetapi takdir terkadang sesuai apa yang kita pikir, jika kita berpikir ini hanya main-main maka semua akan berakhir dengan cepat tetapi jika kita serius dalam menjalaninya dan selalu berpegangan tangan maka kita bisa melalui itu semua bersama," kata Anjani.


"Andai kau atau aku melakukan kesalahan kita harus saling menegur jangan diam saja sehingga kita sama-sama melakukan kesalahan dan berakibat fatal pada hubungan ini."


"Kita akan memulai dari situ, teman tapi dekat atau teman tapi mesra," ujar Abimanyu mencium kepala Anjani.


"Ih..., sudah akh!" tolak Anjani menyingkirkan kepala Abimanyu.


"Bagaimana dengan laptop milikku?" tanya Anjani yang kembali teringat alasannya kemari.


"Aku akan membelikan yang baru untukmu," kata Abimanyu.


"Ish, aku tidak mau," ujarnya sembari melambaikan tangannya.


"Kalau begitu kau bisa meminjam laptop milikku yang ada di lemari kaca itu. Kau bisa memilih mana yang kau sukai," kata Abimanyu menunjuk pada deretan laptop di sebuah etalase kaca.

__ADS_1


"Semua data milikmu akan kupindah kesana." Anjani lalu bangkit dan melihat deretan laptop mewah berharga di atas lima puluh juta hingga hampir delapan puluh jutaan. Anjani menahan nafasnya.


"Kau menjadikan mereka koleksi saja?" tanya Anjani.


"Dulu aku memakainya hanya saja jika ada tekhnologi terbaru aku membeli dengan yang baru. Yang terakhir ku kenakan di minta oleh Bayu padahal anak itu sudah kutawari yang baru namun dia menolak dia suka milikku itu."


"Aku boleh memilihnya?" kata Anjani bersorak riang. Katakan dia matre, tetapi dengan Abimanyu semua terasa lebih mudah. Pria ini selalu mendukung apa yang dia ingin dan butuhkan.


Anjani juga tidak perlu berhadapan dengan ibu calon mertua yang membencinya seperti ibu Devan. Hal paling dia sukai adalah Abimanyu selalu mementingkan kepentingannya terlebih dahulu dari pada dirinya atau hal lain. Semoga ini akan terus berlanjut hingga selama mereka bersama.


"Aku sudah menawarimu yang baru namun kau malah memilih yang lama," ujar Abimanyu.


"Yang lama lebih berpengalaman," ledek Anjani. Abimanyu melirik Anjani lalu mereka tertawa.


Akhirnya mereka tidak tidur hingga hampir fajar. Menormalkan laptop Anjani lalu menyalin data dan di masukkan ke laptop yang Abimanyu berikan.


"Akhirnya selesai," kata Abimanyu merenggangkan tangannya sehingga terdengar bunyi kretek dari jari-jarinya.


Abimanyu melihat Anjani sudah tertidur dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Dia tersenyum seraya menatapnya sejenak.


Abimanyu membereskan semua barang-barang yang tadi dia gunakan. Lalu membuka pintu baru menggendong Anjani membawanya keluar dari ruangan itu.


"Ayah, aku sudah besar tidak usah digendong lagi. Aku bisa jalan sendiri," gumam Anjani lalu malah menelusupkan wajahnya ke dada Abimanyu.


"Kau itu kucing kecil yang nakal," kata Abimanyu lirih. Abimanyu hendak membawa Anjani masuk ke kamar wanita itu namun dia membalikkan tubuhnya lagi. Dia membawa Anjani masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Dengan sangat pelan dan lembut dia meletakkan Anjani di ranjang besar miliknya seperti meletakkan barang yang rapuh dan mudah pecah. Dia lalu melepaskan sandal Anjani juga membenarkan posisi tidurnya dan menyelimuti. Setelah itu dia berjalan memutar dan berbaring di sebelah Anjani, menghadap ke arahnya.


Abimanyu bahkan memberi jarak mereka dengan bantal guling. Dia takut jika mereka saling bersentuhan dia tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Anjani terlalu menggiurkan untuk dilewati namun dia tahu diri untuk tidak merusaknya sebelum saat itu tiba.

__ADS_1


Mereka akhirnya terlelap bersama dengan mimpi indah yang menghampiri.


__ADS_2