
Abimanyu dan anak-anak akhirnya pergi ke hotel tempat Anjani menginap. Anjani sendiri malah sedang asik menikmati sarapannya di restoran bawah. Sesekali matanya melihat ke arah para pria yang sedang berjemur. Dia lalu mencibir. Baginya tidak ada pria seseksi suaminya. Otot tubuhnya terbentuk sempurna seperti otot binaragawan. Liat, keras dan berurat besar yang menonjol di setiap sisinya apalagi sisi penting itu.
Pikiran Anjani mulai melantur. Pikirnya efek dari tidur sendirian malam tadi. Ternyata tanpa Abimanyu dia merasa ada yang kurang. Entah kurang kehangatan, atau kurang vitamin yang masuk ke tubuhnya dan mungkin akan jadi Abimanyu junior oh tidak Anjani junior. Anjani lalu memegang perutnya yang masih rata dan kecil. Membayangkan dia berjalan dengan perut yang buncit dan berjemur pasti akan terlihat seksi.
"Hai, Anjani?" sapa seorang yang sudah paham benar Anjani dengan suaranya. Siapa lagi jika bukan Yooja musuh bebuyutannya dua tahun ini. Wanita itu terlihat berdiri bersama dengan Devan.
Anjani menoleh ke belakang.
"Rupanya kau ada hotel ini? Sedang menunggu siapa? Om mu atau sugar Daddy-mu?" ejek Yooja seraya mendekap lengan Devan.
Anjani mengangkat kedua alisnya. Dia lalu duduk dengan tenang lagi netranya kembali melihat barisan cowok seksi yang sedang menggoda satu orang wanita cantik.
"Heh, Anja aku sedang berbicara denganmu," kata Yooja kesal memegang bahu Anjani. Wanita itu lantas mengambil tangan Yooja dan memuntirnya.
__ADS_1
"Aww sakit Anjani," teriak Yooja membuat mereka jadi pusat perhatian semua orang yang ada di sini.
"Sakit, aku lebih sakit di sini jika yang kau tujukan itu kepadaku." Tunjuk Anjani pada dadanya.
"Anjani? Mengapa kau jadi bar-bar seperti ini?" teriak Devan."Lepaskan Yooja." Pria itu hendak menarik tangan Anjani namun wanita itu malah melepaskan Yooja sehingga wanita itu hampir jatuh ke belakang jika Devan tidak memegangnya.
"Aku tidak memperdulikan kalian ada di sini untuk apa lalu mengapa kalian mengganggu liburanku kali ini?"
Anjani menggelengkan kepalanya lalu menghabiskan minumannya dan bangkit hendak berjalan pergi menghindari masalah.
"Kenapa kau malu jika apa yang kukatakan itu sebuah kenyataan?" teriak Yooja sembari memegang pergelangan tangan yang memerah bekas cengkraman Anjani.
"Rupanya mulutmu tidak bis berbicara baik. Kau itu melepaskanku untuk mendapatkan wanita murahan seperti dia, apakah pantas?"
__ADS_1
"Anjani jaga ucapanmu!"
"Aku melihat kau dan Yooja masuk salah satu kamar ini. Aku tidak usil pada kalian kini giliran aku. sedang makan dengan enak kalian malah membuat masalah denganku. Sebenarnya mau kalian itu apa?" tanya Anjani geram.
"Mau apa, ya menghabisi mulutmu itu. Kau kira kami habis melakukan apa semalam kau pikir aku semurah itu sehingga akan menggratiskan layanan kamar kami?"
"Kau tahu bagaimana sifat Devan yang menjaga wanita yang ada di sekitarnya jadi jangan samakan aku dengan dirimu yang punya pikiran slengean jauh dari logika," bela Yooja pada diri sendiri.
"Kau pun telah bersama dengan Sugar Daddy mu itu kan jadi jangan sok Mina karena mungkin kau diberikan barang branded."
"Barang branded milikku satu lemari penuh berisi sepatu dan lainnya. Aku orangnya simple apa adanya tidak ada kebohongan. Tidak sepertimu yang rela menjual diri demi kekayaan!"
"Tai kucing apa yang kau katakan?" umpat Bayu tiba-tiba datang memaki Yooja.
__ADS_1