
Sepanjang pesta Anjani dikelilingi oleh rekan bisnis Abimanyu. Dia hanya diam saja mendengarkan pria itu berbicara dengan kawan-kawannya. Rasa bosan mulai menghampiri tetapi dia tidak ingin membuat hal yang bisa memalukan Abimanyu. Seperti terjatuh karena sepatu ini misalnya.
Ingin rasanya dia melempar sepatu ini ke tempat sampah dan berjalan tanpanya tetapi hal itu tidak mungkin dia lakukan. Dia hanya bisa tersenyum sembari merasakan tumitnya yang mulai pegal.
Yang paling membuat heran Anjani adalah Devan tidak mendekat ke arah Anjani pria itu malah berdiri saja bersama keluarganya.
"Aku ingin ke belakang," bisik Anjani di telinga Abimanyu dan dia merasa sorotan mata tajam Devan menusuk punggungnya.
"Aku akan mengantarmu," kata Abimanyu.
"Aku pergi sendiri saja," kata Anjani. Abimanyu melihat ke arahnya. Anjani menganggukkan kepalanya.
"Baiklah hati-hati," kata Abimanyu.
Anjani lalu berjalan mencari toilet. Devan sendiri mengikutinya dari belakang. Setelah, Anjani menuntaskan hajatnya dia kembali keluar dari toilet tetapi sebuah tangan menariknya ke belakang dan Anjani harus berjalan terseok-seok untuk bisa mengikuti langkahnya.
"Devan apa yang kau lakukan?" tanya Anjani pada pria itu terkejut. Bukannya berhenti Devan malah membawanya ke ruangan sepi dan memepetnya.
"Jadi benar yang dikatakan mereka jika kau menjual diri karena butuh uang?" tanya Devan marah. Anjani langsung saja menampar pipi Devan keras sehingga bekas panas menempel di wajah tampannya.
"Jangan sok suci dengan menamparku," geram Devan.
"Jika kau butuh uang katakan padaku, aku akan memberikan apa yang kau inginkan tetapi tidak dengan menjual dirimu, aku sangat mencintaimu Anjani tidakkah kau tahu itu!" seru Devan tertahan lalu memukul tembok di sebelah kepala Anjani. Wanita itu lantas menoleh kesamping karena terkejut.
"Jika itu yang kau pikirkan maka aku jawab iya! Aku telah hidup bersama dengan duda kaya itu. Kenapa kau marah atau cemburu?" jawab Anjani murka memancing kemarahan Devan.
Pria itu lantas mencium Anjani dengan brutal dan kasar sembari menekannya dengan tubuhnya. Anjani mendorong badan besar Devan namun dia tidak kuat.
Bugh!
Devan terpelanting setelah satu pukulan mampir ke wajahnya yang tampan. Bibirnya seketika pecah, darah keluar dari sudut mulutnya.
__ADS_1
Anjani pergi ke dalam pelukan Abimanyu dan mencari perlindungan pria itu. Dia begitu shock dengan sikap Devan yang brutal. Biasanya dia bertindak selalu menghormatinya.
"Sugar Daddymu datang Anjani," ejek Devan tertawa sumbang.
"Ayo kita pergi dari sini Anja, sudah kubilang dia tidak cukup baik bagimu."
"Ya, Tuhan, Sayang kau kenapa?" kata Anggita yang baru masuk ke dalam ruangan itu. Dia langsung mendekat ke arah Devan.
"Ibu kan sudah mengatakan jika wanita miskin sepertinya pasti hanya akan mengambil kesempatan dari pria kaya yang ada di dekatnya. Kini setelah mendapatkan ikan yang lebih besar kau dibuang begitu saja."
"Ibu jangan menghina calon istri saya," bela Abimanyu.
"Kenyataannya seperti itu. Heran mengapa Jeng Citra mengijinkan anak tertuanya hidup dengan wanita miskin sepertinya," omel Anggita sembari memeluk putranya.
"Sudahlah Abi, kita pergi saja dari sini," kata Anjani yang pusing mendengar umpatan dari Anggita dan Devan.
"Kenapa pergi kau malu mendengar kenyataan jika kau adalah wanita penggoda pria kaya," kata Anggita keras.
"Hati-hati dengan ucapan Anda Nyonya," kata Abimanyu dingin namun penuh penekanan. Matanya telah menghitam mendengar Anjani di hina di hadapannya.
"Kita pergi dari sini, ku mohon!" ucap Anjani. Melihat pupil Anjani yang terlihat putus asa, kemarahan Abimanyu menurun, dia memutuskan membawa wanitanya meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di luar, Abimanyu memeluk tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya. Anjani menangis terisak.
"Sudahlah, ada aku disini semua akan baik-baik saja," ucap Abimanyu.
"Tetapi pikiran orang-orang itu," kata Anjani dengan dada yang sesak.
"Tidak usah diambil hati," kata Abimanyu menepuk kepala Anjani lembut.
"Kita pulang?" ajak Abimanyu, dia melihat Devan berdiri di pintu belakang memandang ke arah mereka.
__ADS_1
Tangan Abimanyu lalu memeluk pinggang Anjani meninggalkan tempat itu. Tidak ada yang boleh menyentuh wanitanya siapapun itu.
Di mobil mereka hanya diam. Anjani melihat keluar jendela mengenang kebersamaannya dengan Devan selama ini. Begitu mudah persahabatan dan hubungan cinta mereka berakhir ketika baru saja di mulai.
Anjani menyeka air matanya yang masih keluar tanpa mau berhenti. Abimanyu menyerahkan tissue yang ada di dashboard pada wanita itu.
"Tidak ada hubungan cinta yang abadi Anja," ujar Abimanyu tiba-tiba.
"Mengapa kau mengatakan seperti itu?" ucap Anjanis menatap Abimanyu.
Pria itu lalu meminggirkan mobilnya dan menghadap Anjani.
"Hubungan itu di dasari oleh kepercayaan jika itu sudah pergi untuk apa bersusah payah mempertahankannya?" lanjut pria itu.
"Tidak ada cinta yang benar-benar cinta, suatu saat akan pergi jika rasa bosan telah datang," kata Abimanyu getir.
"Apa kau tidak percaya cinta?"
"Tidak ada yang namanya cinta, hubungan itu hanya didasari rasa saling membutuhkan. Jika sudah merasa tidak butuh lagi maka akan beralih pada yang lain," ucap Abimanyu. Anjani mengerutkan dahinya.
"Andai kita menikah, kau ingin hubungan seperti apa denganku?" tanya Anjani tersenyum sembari melipat tangan di dada.
"Entahlah hubungan simbiosis mutualisme mungkin?" Mendengar jawaban Abimanyu satu alis Anjani terangkat ke atas.
"Aku butuh kau untuk diriku dan anak-anakku sedangkan kau butuh aku untuk memperbaiki hidupmu," ujar Abimanyu datar.
Anjani memalingkan wajah ke samping tertawa mengejek pada Abimanyu. Apa yang Misye katakan tentang istri Tuan Abimanyu itu benar? Jika benar, hal itu mungkin menjadi pemicu Abimanyu tidak mempercayai cinta lagi.
"Lalu bagaimana kau menjalani hubungan dengan istrimu semasa dia masih hidup? Apakah hubungan itu tidak didasari cinta?" sudut Anjani membuat Abimanyu terdiam. Dia lalu kembali melihat ke arah jalanan di depannya sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi.
"Kita tidak sedang membicarakan tentang hubunganku dengan istriku," elak Abimanyu.
__ADS_1
"Oh, tadi kau mengatakan tentang cinta jadi aku penasaran tentang percintaan kalian, katanya kalian adalah pasangan paling serasi pada masanya. Jika itu tanpa cinta bagaimana kalian melakukannya?"
"Cinta itu hanya sekedar nafsu dan keinginan saja. Itu sebabnya ada seorang istri meninggalkan suaminya dan seorang suami menikah lagi dengan wanita lain. Jika cinta itu ada dan abadi mereka pasti akan tetap bersama hingga ajal tiba. Nyatanya, cinta itu berakhir ketika rasa bosan menyerang cinta lama lalu datang cinta baru yang terasa lebih membuat semangat hidup, cinta lama pun disingkirkan."