Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Kesadaran Penuh


__ADS_3

Anjani terkejut melihat Abimanyu ada di hadapannya. "Pak Abi." Anjani langsung berdiri. Andri pun ikut berdiri. Abimanyu lalu mengangkat tangannya untuk menjabat tangan Andri.


"Kenalkan saya Abimanyu, atasan Anjani. Dia berkerja di rumah saya untuk mengurus ketiga anak saya," terang Abimanyu.


"Oh, Anda bosnya Anjani. Saya ayahnya, senang berkenalan dengan Anda." Andri menerima uluran tangan Abimanyu.


"Saya terkejut melihat Anjani memanggil tadi dan saya mengajaknya kemari untuk berbincang sebentar."


"Kebetulan kami sedang makan malam di restauran itu dan mungkin Anjani melihat bapak di sini dan menghampiri."


"Iya, benar."


"Jika Bapak berkenan mari ikut makan bersama kami," ajak Abimanyu.


"Tidak usah, istri saya pasti sedang menunggu di rumah kasihan sendirian. Anak-anak sudah pada pergi bekerja semua jadi tidak ada yang menemaninya."


"Saya senang Anjani mendapat majikan yang baik seperti Bapak. Saya titip dia dan tolong jaga dia dengan baik."


"Iya, Pak saya akan menjaganya dengan baik," ujar Abimanyu. "Dengan sepenuh hati."


"Kalau boleh saya akan membawa Anjani kembali ke restoran, anak-anak sendirian di sana," kata Abimanyu.


"Oh, mari silahkan Pak," kata Andri.


"Ayah, aku pergi dulu. Ayah yang sehat dan jangan terlalu lelah." Anjani memeluk ayahnya dengan penuh kerinduan, seolah berat baginya untuk berpisah. Matanya berkaca-kaca.


"Kau juga jaga diri baik-baik."


Mereka lalu saling melepas pelukan. "Kau itu masih saja cengeng seperti dulu," ungkap Andri menyeka air mata Anjani.


"Sudah sana pergi," usirnya.

__ADS_1


"Kami pergi dulu, Pak," pamit Abimanyu. Mereka lalu berjalan beriringan ke tepi jalan. Ketika menyeberang Abimanyu memegang tangan Anjani membuat wanita itu terkejut dan menatapnya sepanjang jalan hingga mereka kembali ke dalam restoran itu.


Andri menatap lega kepergian anaknya itu. Beban dihatinya terangkat melihat keadaan Anjani yang baik-baik saja. Dalam hatinya terbesit pertanyaan apakah Anjani punya hubungan spesial dengan majikannya? Tetapi sepertinya tidak mungkin Anjani akan melakukan hal diluar batas.


Sedangkan di restoran Bayu dan dua adiknya terlihat menekuk wajah mereka.


"Ayah dan Ibu Anja kenapa lama sekali?" seru Bayu


"Iya, dari mana saja?" lanjut Bumi


"Lihat, Bumi menumpahkan kuah sup ikan itu," tunjuk Tirta pada meja yang kotor.


"Ya, Tuhan.Baru saja ditinggalkan sudah membuat kekacauan," ucap Abimanyu yang melihat makanan berceceran di meja.


Dia lantas memanggil pelayan dan membayar semua pesanan itu serta memberi uang lebih atas kekacauan yang Bumi lakukan.


Setelah itu mereka semua kembali pulang. Bumi tidur di kendaraan sedangkan Bayu dan Tirta langsung pergi ke kamarnya setelah mereka sampai. Anak-anak nampak lelah.


Namun, Abimanyu sudah keluar dari kamar Bumi dan hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Pak," panggil Anjani. Abimanyu menghentikan langkahnya. Anjani lalu mendekat. Hatinya berdebar kencang takut jika Abimanyu melakukan hal aneh lagi seperti menciumnya seperti yang sering pria itu lakukan akhir-akhir ini.


Abimanyu lalu meneruskan langkahnya masuk kembali ke kamarnya ketika tahu Anjani yang memanggil. Anjani lalu mengikutinya masuk.


"Pak, saya ingin mengucapkan banyak terimakasih atas semua pemberian Bapak."


Abimanyu mendekat ke arah Anjani.


"Sudah kukatakan panggil aku Mas, ketika hanya berdua saja," ucapnya menatap Anjani.


Anjani mencium ada hal aneh yang akan terjadi. Dia harus pergi terlebih dahulu sebelum ada kejadian yang akan mempermalukan dirinya lagi.

__ADS_1


"Mas Abi, terimakasih atas baju itu, terutama bayaran lebih yang kau berikan padaku. Itu pasti akan sangat membantu ayah."


"Kau bilang setiap hal ada bayarannya?" tanya Abimanyu. Membuat Anjani mundur satu langkah tetapi Abimanyu keburu menarik tangan wanita itu dan meraup bibir wanita itu yang sudah menjadi candunya.


Anjani terkejut dia ingin menolak tetapi kembali lagi tubuh Abimanyu mengunci pergerakannya. Satu tangan pria itu menangkup kepala Anjani agar ciuman mereka semakin dalam.


Setelah itu Abimanyu melepaskan Anjani. Anjani mengusap bibirnya dengan marah.


"Kenapa Bapak selalu bersikap seperti ini?" tanya Anjani marah. "Setidaknya hargai aku sebagai guru dari anak-anakmu!"


"Aku sangat menghargaimu tetapi aku tidak bisa mengendalikan diri jika di dekatmu. Aku tidak akan meminta maaf untuk apa yang kulakukan karena aku melakukannya dengan sangat sadar dan aku tidak menyesalinya."


"Ini salah Pak, kita tidak punya hubungan apapun. Hanya majikan dan bawahan saja."


"Tetapi aku yakin jika dalam waktu dekat kau akan jadi istriku," kata Abimanyu. "Dan kau harus mulai bersiap dari sekarang."


"Bapak gila! Aku sudah punya kekasih," geram Anjani marah


"Aku tidak gila Anjani. Cepat atau lambat hubunganmu dengan Devan akan berakhir. Bukan karena ku tetapi aku tahu seperti apa keluarganya. Mereka jelas tidak akan membiarkanmu berhubungan dengan Devan. Kau percaya atau tidak itu yang akan terjadi entah itu cepat atau lambat. Sedangkan aku akan menunggumu hingga kau yakin hanya aku satu-satunya pria yang pantas untuk memilikimu," kata Abimanyu santai lalu duduk di pinggiran tempat tidur dan melepas sepatunya.


"Jangan berpikir keluar dari pekerjaan ini karena kau terikat kontrak dengan pekerjaan ini selama setahun. Kau bisa membaca ulang salinan surat perjanjian kerja itu, di sana tertulis kau bisa keluar bebas jika aku yang mengijinkannya, andai kau ingin berhenti sebelum masa kerjamu habis maka kau harus membayar empat kali lipat dari yang gaji yang kau terima."


Anjani menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras lalu keluar dari kamar itu sembari membanting pintu.


Anjani lalu masuk ke dalam kamarnya dan mencari salinan surat perjanjian yang pernah Marsellina berikan padanya. Dia membuka laci nakas dan menemukan kontrak kerja itu.


Dia mulai membaca satu persatu dan sekarang yakin bahwa apa yang Abimanyu katakan itu benar adanya. Dasar pria mesum, bere uengsek, dan arrogan.


Namun, perkataan Abimanyu tentang keluarga Devan itu mungkin benar. Devan datang keluarga berada yang tidak akan mungkin menerima menantu dari keluarga miskin sepertinya. Ini bukan cerita Cinderella yang akan mendapatkan pangeran impian dengan mudah. Ini adalah kehidupan nyata dimana orang kaya akan menikahi orang kaya agar semakin kaya dan orang miskin menerima nasib menikah dengan orang sejenis lalu tetap saja miskin.


"Jika apa yang dikatakan Abimanyu itu benar dan keluarga Devan memang benar-benar menolaknya, apa yang harus dia lakukan?"

__ADS_1


"Devan apa suatu saat kau akan meninggalkan aku sendiri?"


__ADS_2