Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Pilihan


__ADS_3

Abimanyu dan Anjani terlihat canggung ketika mereka bertemu di lorong. Seperti biasa pria itu sudah rapih dengan pakaian olah raganya.


"Pagi, Anjani," sapa pria itu.


Anjani tersenyum kikuk. Dia memasukkan sebagian rambutnya ke belakang telinga.


"Pagi Pak," jawab Anjani.


"Maaf soal semalam, aku tidak tahu mengapa melakukan itu. Maaf jika itu menyinggung perasaanmu," kata Abimanyu penuh penyesalan.


Anjani menatapnya pria itu. Apakah dia menyesal telah melakukannya? Tetapi menyesal kenapa? Apakah sama dengan yang dia rasakan menyesal karena merasa mengkhianati sang kekasih?


"Tidak usah dipikirkan, Pak. Anggap saja itu adalah kesalahan kita berdua," ucap Anjani sembari menarik nafasnya.


"Apa Bapak mau berolah raga bersama anak-anak?"


"Mereka sedang tidak mau keluar berolah raga hari ini. Mereka meminta jalan-jalan keluar. Aku akan pergi sendiri setelah itu baru mengajak mereka keluar," beritahu Abimanyu.


"Kau sendiri ada rencana kemana hari Minggu ini?"


"Aku ingin pergi ke pemukiman kumuh seperti biasa untuk mengajar anak-anak yang kurang mampu," kata Anjani.


"Tepatnya bukan mengajar tetapi berbagai kebahagiaan di hari Minggu. Komunitas kami berkumpul bersama lalu membagikan makanan kecil dan susu pada anak-anak itu," cerita Anjani antusias.


"Wah pekerjaan sosial yang bagus dan banyak manfaatnya. Jika boleh aku ingin ikut membawa anak-anakku kesana?" tanya Abimanyu membuat Anjani terkejut.


"Apa? Bapak mau ikut?"


"Jika kau mengijinkan," ucap Abimanyu.


"Aku tentu saja senang jika kalian ikut, tetapi apa anak-anak mau ke tempat seperti itu," kata Anjani.


"Harus mau biar mereka sadar bahwa banyak orang yang kekurangan dan membutuhkan uluran tangan kita. Agar mereka juga tahu jika mereka anak-anak yang beruntung karena lahir di keluarga yang bisa memenuhi kebutuhan mereka tanpa harus bersusah payah terlebih dahulu," kata Abimanyu.


Anjani mengangguk senang.


"Kau sarapan dulu dengan anak-anak aku akan lari setengah jam terlebih dahulu," kata Abimanyu lalu berjalan mendahului Anjani.


Pria itu memang terlihat bugar dan fit. Di usianya yang sudah menginjak empat puluhan malah membuat dia makin terlihat matang dan segar. Tipe hot Daddy yang sering diperbincangkan banyak emak-emak. Pikir Anjani.

__ADS_1


Dia teringat bagaimana kuatnya pria itu memeluknya semalam, merasakan otot lengan pria menyentuh lengannya kedua kaki keras pria itu menekan kakinya. Hal itu membuat bulu kuduknya meremang. Dia lalu mengusap lengannya sendiri.


"Anjani berpikir apa kau?" rutuknya dalam hati. Pikirannya sudah tercemari di pagi buta ini.


Anjani lalu menengok kamar anak-anak dan melihat mereka masih tertidur lelap.


Dia lalu turun ke bawah dan tidak tahu harus melakukan apa di pagi hari ini. Jadi dia melangkah keluar rumah dan menemukan Abimanyu sedang berlarian mengelilingi rumah.


Mengapa dimana-mana ada pria itu? Pikir Anjani namun matanya tidak mau lepas melihatnya. Abimanyu lalu menoleh dan tersenyum ke arahnya. Wajah Anjani memerah karena ketahuan memerhatikan pria itu. Dia lalu kembali masuk ke dalam rumah sembari memegang dadanya sendiri. Kenapa jadi berdebar kencang seperti ini. Batinnya.


Anjani yang tidak tahu harus melakukan apa lalu memilih pergi ke dapur. Di sana hanya ada Tuti sang juru masak karena semua pelayan hari Minggu libur semua. Pelayan ini hanya akan menyediakan makan pagi saja sedangkan untuk makan siang dan malam Abimanyu lebih memilih pesan makan atau makan di luar bersama anak-anak.


"Neng Anjani," sapa Tuti pada Anjani.


"Masak apa Bu Tuti?" tanya Anjani ramah.


"Ini neng Ibu masak bubur ayam pesanan bapak. Biasanya mereka akan makan di luar sembari lari pagi. Ini kok anak-anak enggan untuk pergi keluar."


"Kata mereka ingin keluar nanti siang saja bersama ayahnya," jawab Anjani.


"Mau saya bantu Bu?" tanya Anjani.


"Baru saja saya tengok belum, Bu," kata Anjani. "Saya sekalian belajar masak bubur ayam ala Bu Tuti."


"Ya, sudah, sini biar Ibu ajarkan cara membuat bubur ayam yang enak bergizi dan sehat," ujar wanita itu.


"Kok kayak di iklan TV, Bu?" Mereka berdua tertawa lalu mulai memasak bubur ayam itu.


"Neng buatkan jus untuk Tuan saja biar saya selesaikan yang ini," kata Bu Tuti.


"Tidak kopi, Bu?" tanya Anjani.


"Tidak, kalau sehabis oleh raga Bapak minum jus campur buah-buahan itu," tunjuk babu Tuti pada buah-buahan yang ada di sebuah keranjang sudah di kupas dan di cuci bersih.


Anjani mulai membuat jus atas instruksi dari Bu Tuti. Sembari bercerita tentang Abimanyu dan istrinya.


"Sepanjang Ibu di sini, Ibu tidak pernah melihat Nyonya dan Tuan bertengkar. Hanya sekali saja mereka bertengkar hebat itu juga ketika anak-anak sudah tertidur. Ibu sempat mengintip dan melihatnya."


"Tetapi itu hanya sesaat dan semua kembali seperti semula lagi. Namun, sayangnya Nyonya mulai sakit-sakitan untuk beberapa bulan dan akhirnya meninggal karena tidak bisa menahan sakitnya."

__ADS_1


"Memang sakit apa Bu?"


"Kata Dokter Cikungunya tetapi kok aneh saja," ujar Bu Tuti.


"Ibu saja yang bilang aneh. Jika Dokter mengatakan itu berarti memang benar Bu," kata Anjani menyelesaikan pekerjaannya.


"Ini sudah selesai, Bu," kata Anjani.


"Taruh di Bali Neng dan berikan pada Tuan. Maaf tidak ada pelayan lain yang bisa Ibu mintai tolong."


"Tidak apa-apa Bu, biar saya saja yang bawakan," ucap Anjani membawa gelas berisi jus itu keluar rumah menuju ke kolam renang tempat dimana Abimanyu sedang melakukan senam pagi.


Abimanyu sendiri melihat Anjani keluar dari rumah sembari menggerakkan tubuhnya. Wanita itu terlihat mendekat ke arahnya dan berdiri di hadapannya.


"Pak, ini jusnya," tawar Anjani pada Abimanyu.


Abimanyu menghentikan gerakannya dan mengambil gelas jus itu.


"Ini siapa yang buat?" tanya Abimanyu.


"Saya pak, apa ada yang salah dengan rasanya?"


"Pantas," kata Abimanyu mengangkat gelas itu dan melihat ke dalam isinya.


"Kenapa Pak," tanya Anjani khawatir jika jus itu tidak enak. "Padahal saya sudah memasukkan semuanya sesuai instruksi dari Bu Tuti."


"Pantas jika ini terasa lebih manis karena kau yang membuat," kata Abimanyu menggoda Anjani.


Membuat Anjani tersenyum malu-malu meong...


"Aku kira kau akan marah malah tersenyum."


"Lucu saja melihat Bapak yang biasa serius bisa merayu wanita. Jangan-jangan banyak wanita yang telah Bapak rayu?"


Wajah Abimanyu terlihat serius kembali. Membuat Anjani terdiam.


"Aku tidak pernah merayu wanita sebelumnya," ungkap pria itu. "Bahkan pada Larapun tidak pernah."


"Aku kira Bapak suka menggoda wanita, karena Bapak itu tampan dan kaya pasti banyak wanita yang datang mendekat," kata Anjani mencairkan suasana.

__ADS_1


"Banyak wanita yang mendekat tetapi aku hanya memilih satu hanya saja yang kupilih sudah punya kekasih jadi aku hanya bisa menatapnya saja," kata Abimanyu terus terang membuat Anjani gelagapan.


__ADS_2