
"Aku hanya mengantispasi suatu hal. Kau tahu aku belum siap untuk," Anjani menghentikan kata-katanya.
Abimanyu menangkup kedua pipi Anjani dan membuat wanita itu menatap ke arahnya.
"Tatap aku, dan jawab pertanyaanku apakah kau tidak percaya padaku?"
"Kumohon mengertilah. Aku belum siap untuk itu. Bukankah, kita telah membicarakannya," ungkap Anjani. Wajah Abimanyu terlihat menegang. Anjani lalu memeluk tubuh Abimanyu dan mengusap dadanya.
"Kita nikmati saja kebersamaan ini layaknya sebuah pengenalan. Lagi pula kau sudah punya anak tiga, tidak merasa kesepian." Anjani menengadahkan wajahnya ke arah Abimanyu.
"Kau tidak mengerti," kata Abimanyu melepaskan pelukan Anjani.
"Tapi...."
"Kita bicarakan nanti." Abimanyu lalu meninggalkan Anjani begitu saja dan keluar dari kamar.
Di ruang makan, Abimanyu terlihat dingin padanya. Tidak menatapnya sama sekali. Bayu pun bertindak sama? Ada apakah ini? Dia harus berbicara dengan anak itu dan menanyakan tentang sikapnya.
"Bayu. Hari ini kau ada ujian praktek kan?" tanya Anjani.
"Hmmm," jawab Bayu tidak melihat ke arah Anjani.
__ADS_1
"Kok hanya hmmm saja Kak?" tanya Bumi.
"Aku sudah selesai akan ke depan terlebih dahulu? Ayah akan pergi bersama kami atau pergi bersama Bu Anja?" sindir Bayu.
"Eh, Bu Anja tidak ada jadwal hari ini jadi aku akan mengentalkan kalian!" ucap Abimanyu membuat semua mata melihat ke arahnya.
"Kau sering mengantar Anjani ke tempat kuliahnya?" tanya Citra heran. Abimanyu menundukkan wajahnya. Evangeline yang sedang makan lalu melihat ke arah wanita yang sedang diperbincangkan.
"Arah perjalanan kalian berbeda?" lanjut Citra lagi.
"Sebenarnya ada apa Abi?" desak Citra. Wajah Anjani memucat seketika. Ini hari ketiga pernikahannya dan masalah mulai datang.
"Anak-anak sebaiknya kalian pergi berangkat sekolah terlebih dahulu," ucap Abimanyu. Bayu, Tirta dan Bumi lantas segera menyelesaikan makan mereka. Lalu berpamitan pergi pada nenek dan ayahnya. Bayu sempat melayangkan tatapan dingin pada Anjani.
Setelah itu Anjani mengantar anak-anak sampai di depan mobil. Lalu melihat mobil yang membawa mereka pergi keluar rumah.
Dengan langkah berat dan dada yang berdegub kencang dia masuk kembali ke dalam rumah itu.
"Bu Anja dipanggil Nyonya Besar di ruang makan," kata Bu Tuti.
Anjani lalu menghela nafas sejenak sebelum melangkahkan kaki ke ruang makan. Dia sempat berpapasan dengan Marselina yang menatapnya dengan penuh kebencian. Anjani menaikkan kedua alisnya dan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh wanita pembawa hawa negatif bagi dirinya.
__ADS_1
Anjani lalu berdiri di tempat biasanya. "Anda memanggil saya Nyonya?"
"Ya, duduklah! Saya ingin bertanya padamu," kata Citra.
Anjani lalu melihat ke arah Abimanyu yang menyesap kopinya. Pria itu lalu menyeret kursi di sebelahnya agar Anjani duduk di sampingnya.
"Ekhem," Evangeline berdehem.
Air muka wanita itu menegang dan pucat. Kakinya terasa bergetar. Dia belum siap untuk dicecar tentang hubungannya dengan Abimanyu. Dengan langkah berat Anjani lalu maju dan duduk di sebelah Abimanyu.
Tiba-tiba satu tangan pria itu memegang tangan Anjani yang telah dingin dan berkeringat.
"Tenanglah, mereka tidak akan membunuhmu," bisik Abimanyu membuat Anjani menoleh ke arahnya.
"Sudah bicaranya," tegas Citra tidak seperti biasanya yang bertingkah konyol.
Anjani lalu menganggukkan kepalanya.
"Anjani sebenarnya kalian berdua punya hubungan apa? Abimanyu sudah menjelaskannya kini aku minta kau juga minta kau untuk jujur!"
Anjani lalu melihat ke arah suaminya yang menarik bibirnya ke atas. Dia seperti sedang membawa Anjani masuk dalam permainannya sendiri.
__ADS_1