
"Aku masih terlalu muda untuk tahu apa artinya cinta dan belum mendalaminya. Aku kira cintaku dan cinta Devan akan tetap ada, nyatanya baru saja badai datang dan dia sudah menyingkir meninggalkanku sendiri," ucap getir Anjani.
Abimanyu mengusap kepala Anjani. "Mungkin kau itu jodohku jadi semua ini hanya jalan untuk kita bersama."
"Aku tidak menyukai Bapak," kata Anjani jujur.
"Lama-lama juga nanti akan suka, cinta datang karena terbiasa. Jadi belajar untuk menerimaku," tukas Abimanyu.
Anjani mencebikkan bibirnya ke depan. Dia tidak tahu mengapa hatinya merasa tenang setelah berbicara dengan Abimanyu padahal tadi dia sangat shock dengan perlakuan kasar dan tidak senonoh Devan padanya.
Abimanyu sangat berbeda dengan perangai Devan yang emosional. Dia lebih kalem, dewasa dan sangat mengayomi.
Mereka lalu tiba ke rumah. Anjani melepas sepatunya sebelum turun dari mobil itu.
"Rasanya aku ingin membuang jauh sepatu ini," umpatnya pada sepatu itu.
"Silahkan nanti aku belikan yang baru lagi. Lagi pula itu harganya cuma sembilan juta saja," ujar Abimanyu. Anjani melihat ke arah sepatunya lalu kembali lagi menatap Abimanyu dengan tidak percaya.
"Sepatu jelek ini seharga sembilan juta?"
"Kau bisa tanya Misye jika tidak percaya," kata Abimanyu.
"Aku akan menyimpannya. Aku mungkin tidak akan punya sepatu dengan harga selangit lagi," kata Anjani memeluk sepatunya.
"Kau akan memilikinya jika menikah denganku," kata Abimanyu.
"Aku tidak mau dan tidak ingin menikah denganmu. Rentang waktu usia kita sangat panjang, lagi pula aku masih ingin mengejar mimpiku," kata Anjani.
"Mimpimu hanya ingin mengajarkan? Aku akan mengijinkannya. Jika soal umur aku tidak kalah tampan dan keren dari anak-anak muda seusiamu," ujar Abimanyu merapikan jasnya.
Anjani memutar bola matanya malas.
"Sudah kalau sudah aku ingin turun dan beristirahat," kata Anjani.
Abimanyu menganggukkan kepalanya dan Anjani turun dari mobil. Abimanyu memasukkan mobil dalam garasi. Setelah itu, dia langsung pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Belum juga dia masuk ke kamarnya dia melihat Anjani baru saja keluar dari kamar Bumi. Rasa hangat menjalar ke hati Abimanyu. Dia berdiri bersandar di kusen pintu.
"Aku kira kau mau langsung masuk ke dalam kamar dan tidur pulas."
"Aku tadi mendengar Bumi sedang menceracau jadi aku melihatnya." Abimanyu menaikkan semua alisnya ke atas dan menghela nafas.
"Kau sangat perhatian dengan anak-anakku jadi aku berpikir tidak akan mungkin menemukan wanita lain sebaik dirimu."
"Kau dari tadi terus saja menggombal, Pak membuat kesedihanku menguap begitu saja. Padahal aku ingin sekali menangis tadi, tapi begitu mendengar kau berbicara membuat tangisku berhenti begitu saja," ujar Anjani.
Abimanyu lalu maju ke arah Anjani dengan tatapan yang mengerikan bagi Anjani. Walau pun suasana sangat temaram dia bisa merasakan ada hawa lain yang melingkupinya membuat bulu romanya naik seketika.
"Aku akan masuk ke dalam kamar," kata Anjani tetapi Abimanyu menarik tangan wanita itu terlebih dahulu dengan cepat lalu memasukkannya dalam pelukan. Hangat itu yang dirasakan oleh Anjani. Sehangat pelukan ayahnya membuat dia nyaman.
"Semua akan baik-baik saja lupakan dia yang tidak menghargaimu karena satu kesalahan yang termaaafkan biasanya akan diulangi lagi. Kau adalah permata tidak layak untuk dibuang begitu saja oleh pria buta yang tidak tahu tentang sebuah arti keindahan hati."
Anjani menengadah menatap Abimanyu, karena tinggi tubuhnya hanya sebatas pundak pria itu.
"Terimakasih," ucapnya. Dia bisa merasakan degub jantung Abimanyu yang keras ditengah sunyi malam.
"Tidurlah, lupakan yang terjadi tadi!" kata Abimanyu.
Anjani lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu kamar, dia melihat tangannya tadi yang telah menyentuh dada Abimanyu. Masih terasa panas. Dia menciumnya, wanginya masih menempel jelas.
***
Pagi hari berjalan sebagai mana mestinya. Hanya saja, kali ini Anjani yang ingin ke tempat kuliah guna berkonsultasi dengan dosennya mengenai skripsi yang sedang dibuatnya diajak oleh Abimanyu berangkat bersama. Dia setengah terkejut setengahnya tidak karena sudah terbiasa dengan tingkah pria ini yang melakukan segala sesuatunya dengan paksaan.
Devan, dia sudah tidak memikirkan pria itu. Dirinya terlalu berharga untuk mendapatkan pelecehan dari pria itu.
"Kalian pergi bersama Pak sopir saja ya," kata Abimanyu.
"Wah, kenapa biasanya juga Ayah yang mengantarkan kami berangkat ke sekolah?" tanya Tirta cemberut.
"Ayah berangkat sedikit siang jadi kalian berangkat terlebih dahulu," kilah Abimanyu. Ketiga anaknya lalu pergi berangkat ke sekolah dengan lesu.
__ADS_1
Anjani mengerutkan keningnya. Dia lalu mengantarkan anak-anak hingga masuk ke dalam mobil setelah itu dia pergi ke kamar untuk berganti pakaian dan mengambil tas.
Ketika dia membuka pintu dan keluar dari kamar, dia dikejutkan oleh Abimanyu yang berdiri di depan kamar.
"Kau mau ke tempat kuliah?" tanya Abimanyu.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Anjani terkejut.
"Aku selalu tahu apapun itu tentang dirimu," kata Abimanyu.
"Haruskah aku tersanjung oleh kata-kata Anda, Pak?"
"Tidak usah kau hanya harus mengikuti apa yang kukatakan saja. Ayo kita pergi, aku akan terlambat jika kau lambat," kata Abimanyu melihat ke arah jam tangannya.
Abimanyu lalu menarik tangan Anjani keluar dari rumah membuat pelayan lain terbengong melihatnya. Marselina yang sedang memberi instruksi pada pelayan terlihat menghentakkan kakinya dan pergi dari tempat itu. Pelayan yang melihat tingkah Marselina tertawa geli. Secara mereka sebenarnya tidak menyukai Marselina yang selalu mengatur dan sok berkuasa padahal dia sama-sama sebagai pelayan di sini hanya jabatannya lebih tinggi kepala pelayan.
Abimanyu lalu membuka pintu mobil penumpang untuk Anjani. Sedangkan dia mengusir asistennya untuk naik ke mobil lainnya. Dia ingin berdua saja dengan wanita itu.
"Tuan Anda ada jadwal pertemuan ke daerah Cibinong," kata asistennya.
"Tunggu saja aku di sana," kata Abimanyu mulai menjalankan mobilnya.
"Itu kan beda jalur dengan tempat kuliahku," kata Anjani.
"Tidak apa-apa, aku hanya takut kau akan terlambat jika tidak kuantarkan," dalih Abimanyu.
"Alasan saja," kata Anjani. Melihat ke arah depan.
"Kau pasti belum makan?" tanya Abimanyu.
"Aku tidak punya waktu untuk itu," kata Anjani.
"Ya, kau harus mengurus anak-anak dari pagi lalu bersiap sehingga dirimu sendiri tidak kau urus. Kalau begitu ijinkan aku untuk mengurusmu," kata Abimanyu.
Mengapa pria ini selalu saja berkata romantis membuat hati Anjani selalu berbunga-bunga mendengarnya walau dia tidak ingin memperlihatkan pada Abimanyu tentang hatinya sendiri.
__ADS_1
Abimanyu lalu menghentikan kendaraannya di tempat biasa dia membeli makanan untuk Anjani. Dia lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Anjani membuat wanita itu mundur ketakutan. Wajah pria itu berada tepat didepan wajahnya. Hembusan nafas Abimanyu yang berbau mint, menerpa wajah Anjani membuat wanita itu menutup matanya. Dadanya lalu berdegub dengan kencang.