
"Satu saja sudah cukup," tolak Anjani.
"Sudah menurut saja pada anak-anak," kata Abimanyu.
Sedangkan di sudut lain Devan sedang berada di mall bersama ibunya setelah menjemputnya dari tempat arisan. Sekilas dia melihat Anjani bersama dengan Abimanyu dan anak-anaknya dalam satu outlet.
"Bukankah itu pacar yang selalu kau banggakan Devan?" tanya Anggita melihat ke arah sama dengan Devan. Devan terlihat terkejut ketika ibunya tahu tentang wajah Anjani.
"Ibu tahu dari mana jika itu adalah pacarku?"
"Kau itu anakku tentu saja aku tahu apa yang kau sembunyikan dan rahasiakan," ujar Anggita mengusap punggung Devan.
"Sudah ibu bilang jika dia itu hanya memanfaatkan kepolosanmu."
"Ibu, Anjani bukan wanita seperti itu," ucap Devan kesal.
"Kau lihat sendiri kekasihmu seperti apa? Tanpa Ibu bicara juga sudah terlihat. Mereka seperti sebuah keluarga yang bahagia bukan?"
Devan terdiam melihat Anjani tertawa bersama Abimanyu serta anak-anaknya. Dia terlihat sangat bahagia dan lepas. Abimanyu pun terlihat menyukai Anjani.
Devan merasa ragu tetapi dia masih tetap berpikir positif tentang Anjani. Anjaninya adalah wanita baik-baik tidak mungkin akan melakukan yang tidak-tidak apalagi menjalani hubungan dibelakangnya. Ibunya bisa berpikir buruk tentang wanitanya tetapi dia tidak bisa melakukan itu.
"Sudahlah, Nak. Ikuti perkataan ibu jika Yoola itu gadis yang lebih baik dari Anjani."
"Ibu, aku tetapi yakin jika dia adalah wanita yang baik. Tadi siang mereka baru saja ke tempat kumuh dan aku lihat mereka tidak punya hubungan lebih."
"Hah! Kau terlalu polos Nak, mana mau pria membelikan baju branded pada bawahannya?Baju di sana harga minimalnya adalah tiga juta itu saja kaos biasa. Kalau dress yang sedang dia pegang, ibu bisa menebak jika harganya di atas lima juta. Pikir pakai otak Nak, jangan hatimu," sulut Anggita.
"Akh! Sudah lah Bu, jangan membuat kepalaku bertambah pusing," kata Devan berlalu pergi.
"Anak itu terlalu buta oleh cinta. Tetapi bukannya itu anak Bu Citra, Abimanyu. Dia itu President Direktur Kusuma grup. Wah, wanita itu hebat bisa menjerat ikan besar."
"Apakah Bu Citra tahu tentang ini? Aku akan menghubunginya nanti setelah di rumah. Aku akan merekamnya sebagai bukti terlebih dahulu. Dia pasti akan malu jika punya calon menantu miskin, tidak selevel, memalukan." Anggita lalu merekam kebersamaan Anjani dan keluarga Abimanyu setelahnya dia pergi dari tempat itu mencari Devan anaknya.
Dia lega, Devan bisa melihat kelakuan wanita itu. Wanita yang anaknya pikir sempurna itu tidak lebih dari wanita murahan yang mau menjual dirinya pada pria demi uang.
__ADS_1
Namun, dia juga bisa melihat jika anak-anak Abimanyu dekat dengan wanita itu. Gadis pandai dan licik seperti ular, Pikir Anggita.
Sedangkan di dalam toko Abimanyu memaksa Anjani untuk membeli beberapa gaun rumah dan baju untuk dia kuliah.
Sedangkan anak-anak yang sudah merasa lelah duduk di pojokan toko sembari memakan camilan.
"Pak jangan seperti ini, aku tidak ingin terlihat mencolok dari yang lain."
"Kenapa? Aku ingin melihatmu pantas untuk dilihat?"
"Memang selama ini aku tidak pantas untuk dilihat?"
"Kau selalu terlihat cantik, hanya saja baju-bajumu sudah terlalu lama dipakai jadi kurang menarik."
"Pak ini tidak benar."
"Apa yang salah, kau hanya harus menerimanya. Anak-anak juga senang melihatmu bahagia."
"Kau bisa membuangnya jika tidak suka tetapi aku tetap akan membelikannya."
"Aku tidak memaksamu untuk menerimaku tetapi aku memaksamu untuk menerima pemberian ku. Aku ingin yang terbaik untukmu."
"Pak, aku hanya bawahanmu. Kau harus ingat itu dan akupun tahu tentang batasanku," ucap Anjani.
"Jika kau bawahanku maka kau harus menuruti perkataan atasanmu!" bisik Abimanyu di telinga Anjani lalu meniupkan udara ke bagian sensitif wanita itu, membuat tubuh Anjani kembali meremang. Hal itu sempat direkam oleh Handphone Anggita dari jauh.
"Kali ini aku memaksa," kata Abimanyu lalu menyuruh pramuniaga membawa baju-baju itu ke meja kasir untuk dibayar. Sedangkan Anjani terkejut dengan kelakuan Abimanyu barusan, membuat tubuhnya terpaku di tempat.
Setelah puas berbelanja mereka pulang tetapi mereka sempat mampir di sebuah rumah makan sea food.
Rumah makan itu terlihat ramai. Mungkin karena ini akhir pekan jadi banyak orang yang keluar rumah untuk makan seperti mereka. Abimanyu memilih sebuah meja makan di dekat dengan jendela kaca besar dengan pemandangan jalanan. Mereka bisa melihat orang berlalu lalang di trotoar jalan sembari menikmati makanannya.
Air liur Anjani hampir keluar ketika melihat lobster besar di depan matanya. Ini pertama kalinya dia melihatnya secara langsung dan akan memakannya. Selama ini dia hanya makan udang goreng tepung yang dibuat ibu Cindy.
Mengingat itu mengapa dia jadi berpikir tentang nasib keluarganya sekarang. Sudah lama dia tidak datang ke rumah untuk menengok keadaan di sana. Apakah ayahnya di sana baik-baik saja? Dan apakah ibu tirinya kemarin memperoleh uang untuk mencicil hutang. Rasa bersalah menggelayut hati Anjani.
__ADS_1
"Ada apa Anjani? Kau tidak mengambil makanan apapun. Apa kau tidak menyukai semua makanan ini?" tanya Abimanyu.
Anjani tersenyum kecut lalu mulai memakan hidangan di depannya. Anak-anak kini terlihat tertawa bahagia. Mereka bergurau dan tertawa.
Kerinduan akan keluarganya kembali menggelayut dalam dada. Dia dan Elang memang sering bertengkar tetapi mereka tumbuh dan selalu bermain bersama. Elang selalu menjadi kakak yang baik jika berada di luar rumah tetapi menjadi kakak yang jahil jika mereka ada di rumah. Ibu Cindy selalu membelanya namun dia tidak pernah jahat pada Anjani, hanya naluri seorang ibu yang ingin melindungi anaknya saja. Sedangkan ayahnya hanya mengatakan jika dia harus sabar dan mengerti keadaan.
Ketika makanannya hampir habis dia melihat sosok ayahnya yang berjalan di seberang jalan. Anjani lalu meminta ijin Abimanyu untuk pergi sebentar.
Dia lalu berjalan cepat mencari keberadaan ayahnya yang sedang menunggu bis untuk kembali pulang ke rumah.
"Ayah," panggil Anjani ketika ayahnya sedang menyetop sebuah bis yang melintas.
Andri melihatnya dan mengurungkan niat untuk naik ke bis itu. Bis kembali berjalan. Anjani lalu datang memeluk ayahnya.
"Apa sehat?" tanya Anjani penuh kerinduan.
"Seperti yang kau lihat," kata Andri. Pria itu lalu mengajak Anjani duduk di pinggiran taman kota.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Andri.
"Aku baik-baik saja, seperti yang Ayah lihat," ucap Anjani.
"Pulanglah ke rumah Anja," kata Andri. "Kami tidak marah atau membencimu. Ibumu sampai menangis jika mengingat kau. Elang juga pergi dari rumah mencari pekerjaan setelah kau pergi. Katanya dia malu melihatmu bekerja keras sedangkan dia hanya duduk saja di rumah."
Anjani memeluk ayahnya. Perasaannya tersentuh mendengar ucapan Andri, ternyata keluarganya tidak seperti apa yang dia pikirkan.
"Mereka juga sangat menyayangimu Anja," imbuh Andri. Anjani menganggukkan kepalanya sembari meneteskan air mata. Andri menepuk kepala Anjani penuh kasih sayang.
"Kapan-kapan aku akan pulang." Anjani lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan amplop yang berisi uang pemberian Abimanyu.
"Ayah ini untuk membantu ibu mencicil hutang rumah," ucap Anjani menyerahkan amplop itu.
"Apa ini Anjani?" kata Andri melihat ke isi dalam amplop.
"Banyak sekali uangmu, memang kau bekerja apa?"
__ADS_1
"Dia bekerja bersamaku mengurus anak-anak," kata Abimanyu tiba-tiba di depan mereka.