Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Pengakuan Marsellina


__ADS_3

Abimanyu langsung di bawa ke rumah sakit. Tangannya akhirnya mendapat penanganan serius karena memegang kayu yang terbakar. Anjani hanya bisa menangis melihat suaminya seperti ini sekaligus khawatir dengan keadaan Bumi.


Dalam waktu kurang dari enam jam keberadaan Bumi akhirnya diketahui. Mereka menangkap Marsellina ketika akan menyeberang ke laur pulau.


Dia langsung dibawa ke kantor polisi untuk melakukan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukannya. Berusaha untuk membunuh keluarga Abimanyu dan menculik Bumi.


Esok harinya Abimanyu membawa Anjani pergi ke kantor Polisi di Marselina ditahan dan untuk melihat keadaan Bumi. Dia nekat memaksa keluar dari rumah sakit karena penasaran dengan apa yang telah terjadi. Mobil dibawa oleh sopir pergi ke kantor kepolisian di mana Marsellina di tahan.


Sesampainya di kantor rumah sakit, Abimanyu mendapat kabar jika Marsellina belum mau berbicara apapun tentang masalah ini.


Bumi sendiri digendong oleh salah satu petugas mendekat ke arah mereka. Anak itu terlihat terisak.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Anjani mendekat ke arah Bumi. Dia memeluk anak itu erat.


"Ibu Anja, dia ... dia membawaku pergi aku takut. Aku membencinya," ucap Bumi dengan gemetar.


"Semua akan baik-baik saja, kau aman bersama kami." Anjani mengerat pelukannya sembari mencium Bumi.

__ADS_1


"Aku takut... ," lanjut anak itu lagi. "Dia mengikatku dan membentak ku. Ayah dia tidak boleh ke rumah kita lagi."


Abimanyu menganggukkan kepalanya. "Anjani tenangkan dia. Aku ingin berbicara dengan Marsellina."


Anjani lalu membawa Bumi pergi keluar untuk menenangkannya. Sedangkan Abimanyu masuk ke dalam ruangan dimana Marsellina diintrogasi.


"Sepertinya dia dalam keadaan depresi berat. Seperti orang gila, entah itu benar atau bohong kita perlu ahli kejiwaan khusus untuk menyelidiki hal ini. Mungkin saja dia ingin bebas dari kasusnya sehingga pura-pura gila."


Abimanyu menghela nafas berat. Dia lalu duduk menunggu Marsellina datang.


Tidak lama kemudian Marsellina keluar dengan tangan yang diikat dengan lakban. Wanita menundukkan wajahnya. Dia seperti bukan Marsellina yang biasanya. Berantakan dan kotor.


"Hai, Lina?" sapa Abimanyu santai. Wanita itu menengadahkan wajahnya menatap Abimanyu seperti sedang membaca ekspresi pria itu.


"Aku tidak tahu jika Bumi adalah anakmu jika tahu aku akan menyerahkannya padamu," pancing Abimanyu. Wanita itu terdiam sembari memiringkan kepalanya ke samping.


"Sayang sekali, andai saja aku tahu dari awal aku akan menikahimu untuk bisa mengurus anak kita berdua."

__ADS_1


"Kau bohong, kau tidak pernah mencintaiku. Padahal aku selalu mencintaimu," ucap Marsellina tiba-tiba.


"Aku tidak tahu jika kau mencintaiku. Sungguh, andaikata kau jujur dari awal semua tidak akan seperti ini," ungkap Abimanyu lagi.


"Aku seperti ini karena frustasi. Bertahun-tahun aku menunggumu dan melakukan semuanya agar bisa dekat denganmu dan anakku tetapi kau tidak pernah melihat ke arahmu. Dulu ada Lara, setelah Lara pergi kau malah bersama wanita sialan itu."


"Dia baru datang dan kau malah menikahinya sedangkan aku yang selalu setia padamu kau malah campakkan. Aku sakit hati, aku sakit hati. Anakku hanya boleh mempunyai aku sebagai ibunya tidak boleh ada menyebut wanita lain sebagai ibu, hanya aku, hanya aku, seru Marsellina menepuk dadanya.


"Jika kau tidak ingin anakmu menyebut wanita lain sebagai seharusnya kau yang merawatnya bukannya malah membuangnya di depan rumah."


"Aku melakukan itu agar dia punya keluarga yang lengkap, keluarga terpandang, dan masa depan yang cerah. Aku tahu kau sedang menginginkan anak perempuan sedangkan Lara sudah tidak bisa punya anak lagi karena rahimnya diangkat. Untuk itu aku meletakkan anak itu di latar. Lara tahu itu."


"Jadi kalian berdua yang merencanakannya?"


"Lara tadinya tidak tahu tetapi akhirnya tahu.. dia ... "


"Dia kenapa? Aku tahu jika kalian pernah bertengkar hebat?"

__ADS_1


"Dia tidak pantas jadi Ibu Bumi. Dia tidak mencintainya. Dia pantas untuk mati," kata Marsellina. Abimanyu menelan Salivanya dalam-dalam. Semua polisi yang ada ditempat itu saling memandang.


__ADS_2