
"Besok saja kita bujuk Ibu Anjani untuk datang kemari," kata Abimanyu.
"Apakah setelah itu kalian akan menikah?" tanya Bumi.
"Ya, rencananya ayah akan mengadakan pesta pernikahan setelah Oma menyetujui pernikahan eh maksud Ayah setelah setuju Ibu Anjani akan menjadi ibu kalian."
"Oma? Oma pasti akan setuju," ujar Bumi. Kedua kakaknya melihat ke arah Bumi.
"Oma suka jika Anjani di rumah ini katanya kalian tidak membuat kepala Oma pusing," celetuk Bumi menirukan Omanya yang sedang memegang kepala. Bayu dan Tirta menganggukkan kepalanya.
"Wah aku ingin melihat bagaimana si maselenong marah mendengar berita ini," ujar Tirta
"Tirta!"
"Maaf, Ayah aku memang tidak menyukainya karena sebelum sakit dan meninggal Ibu pernah bertengkar dengannya!" ucap Tirta membuat Abimanyu menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Ibumu dan Lina bertengkar?"
"Iya, waktu itu Ibu menyuruhku pergi tetapi aku mendengarkan apa yang mereka pertengkaran. Ibu sangat marah hingga ingin menampar kepala pelayan itu tetap Marselenong memegang tangan Ibu dan mengatakan jika dia akan membuka rahasia Ibu jika sampai Ibu memecatnya!" terang Tirta.
__ADS_1
"Kau tidak bercerita pada Kakak, Tirta," kata Bayu. Mereka berdua memang saling akrab dan tidak pernah mempunyai rahasia.
"Aku tidak ingin membuat masalah menjadi runyam," kata Tirta.
"Sudahlah, kalian sebaiknya tidur," kata Abimanyu mulai berpikir.
"Bolehkah aku tidur dengan Ayah?" pinta Bumi.
"Aku juga mau ikut tidur di sini," imbuh Tirta. "Sudah lama kita semua tidak tidur bersama satu kamar," ungkapnya.
Abimanyu menganggukkan kepala.
"Yeay," kata mereka bertiga lalu segera naik ke tempat tidur. Satu jam pertama mereka saling bergurau setelah itu Tirta dan Bumi tidur dengan lelap. Sedangkan, Abimanyu memilih tidur di sofa panjang yang terletak di bawah tempat tidur.
Abimanyu lalu menyetel televisi yang menayangkan pertandingan bola.
"Ayah juga suka bola?" tanya Bayu antusias lalu duduk di dekat ayahnya.
"Ayah suka semua jenis olah raga terutama bola. Kalau malam Ibu Anja suka menemani ...," perkataan Abimanyu terhenti seketika.
__ADS_1
Bayu melihat ke arah ayahnya. "Aku sudah pernah melihat ayah dan ibu Anja masuk ke kamar bersama berkali-kali," tutur Bayu. Dia mengira jika mereka melakukan hubungan bebas layaknya sugar baby dan sugar Daddy.
"Kau telah dewasa tentu tahu apa artinya itu," kata Abimanyu. Tadinya, dia terkejut tetapi sedetik kemudian Abimanyu mengembangkan senyumnya.
" Tetapi kau jangan berprasangka buruk padanya. Ayah dan Ibu Anja telah menikah satu Minggu ini. Seperti yang ayah katakan pada kalian sebelumnya jika Ayah yang memaksanya untuk menerima ayah menjadi suaminya. Kau tahu sampai saat ini Ibu Anja belum mengatakan cinta pada Ayah tetapi Ayah yakin jika dia mencintai Ayah dan kalian," terang Abimanyu. Anaknya sudah besar dan bisa dia ajak bicara layaknya pria sejati.
"Kalian sudah menikah?" tanya Bayu tidak percaya. Abimanyu menganggukkan kepalanya.
"Ayah bukan seorang pria yang akan menyentuh wanita yang tidak halal bagi Ayah. Itu namanya pria sejati, kenapa? Karena seorang pria sejati akan menghargai setiap wanita. Memperlakukan cintanya sebagai wanita terhormat bukan hanya sekedar pemuas nafsu belaka. Kau harus belajar ini karena kau sudah dewasa."
Bayu mendengarkan perkataan ayahnya. "Kau akan merasa bangga jika seorang wanita menyerahkan kehormatannya di saat yang tepat. Kau akan menjadi pria yang tidak beruntung jika wanitamu telah dimiliki oleh pria selain dirimu. Jika kau ingin wanita baik maka kau juga harus baik, karenanya jangan sekali-kali permainkan wanita karena itu nantinya akan membuat karma buruk untukmu," nasihat Abimanyu.
Bayu menganggukkan kepalanya. Dia lalu memeluk ayahnya.
"Tirta benar, ayah berubah baik setelah bertemu dengan Ibu Anja," kata Bayu.
"Ibu Anja itu sangat menyayangi kalian sampai dia tidak ingin punya anak hingga melihat kalian besar nanti, dia tidak ingin melihat kalian terlantar seperti dulu lagi dan mengira telah mengabaikan kalian nantinya," terang Abimanyu membuat Bayu membuka mulutnya.
"Terlantar... ," ujar Bayu tersenyum geli.
__ADS_1
"Dia ingin menjadi Ibu yang baik untuk kalian," terang Abimanyu.
"Ibu Anja sudah jadi Ibu yang baik untuk kami." Abimanyu mengusap lembut rambut Bayu.