Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Tamat


__ADS_3

Setelah mengatakan semuanya Marsellina tertawa keras dia bertingkah seperti orang yang tidak waras dengan tetap membawa misteri tragedi yang ada. Polisi mulai menyelidiki rumahnya dan menemukan sebuah buku harian wanita itu yang mengungkap tragedi dalam rumah itu. Sedangkan Marsellina telah masuk ke dalam rumah sakit jiwa.


Marsellina adalah teman karib Lara dan dia adalah teman keluh kesah wanita itu. Tadinya Lara adalah istri yang baik yang melakukan semuanya sebagai mana mestinya. Tetapi, setelah Marsellina bekerja di rumah itu, Lara banyak dihasut oleh wanita itu. Dia membuat wanita itu selalu melihat kesalahan suami dan keluarganya merasa tidak puas dengan perlakuan Abimanyu yang kerap meninggalkannya demi pekerjaan.


Marsellina lalu membawa mantan kekasih Lara dalam hidup wanita itu dan membuat hari-hari Lara menjadi berbunga. Dia hanya ingin agar Lara bercerai dengan Abimanyu dan dia yang akan memilikinya. Namun, sebelum semua itu terwujud Lara malah sadar jika dia melakukan kesalahan fatal. Dia meminta maaf pada Abimanyu dan berbaikan.


Di saat itu, Lara juga melihat jika Marsellina bertemu dengan mantannya dan curiga jika Marsellina punya niat terselubung. Dia juga curiga jika Bumi adalah anak Marsellina karena sering melihat Marsellina bertingkah seperti ibu pada anaknya. Akhirnya pertengkaran terjadi namun Marsellina tidak mengakui semuanya.


Oleh karena takut semua kebohongannya terbongkar, Marsellina membubuhkan bubuk racun sedikit demi sedikit ke dalam minuman kopi Lara jika wanita itu memintanya. Hal itu membuat tubuh Lara melemah dan akhirnya meninggal dunia dalam waktu kurang dari dua bulan.


Abimanyu yang duduk sembari membaca buku harian itu memijat pangkal hidungnya. Dia belum selesai membaca semuanya tetapi tidak kuat lagi untuk meneruskan hingga selesai.


"Kenapa?" tanya Anjani memeluk suaminya dari belakang.


"Tidak apa-apa." Abimanyu meletakkan buku itu di meja kecil sebelahnya dan menarik tangan Anjani agar duduk di pangkuannya. Dia lalu meletakkan kepala di dada wanita itu. Seakan rasa lelah menderanya. Anjani mengusap lembut kepala pria itu.


Sejenak mereka terdiam.


"Anjani jika kau punya keluhan padaku katakan dengan jujur. Jangan pernah memendamnya."


Anjani menganggukkan kepalanya. Abimanyu tidak melihat namun bisa merasakan.


"Jika kau bosan atau marah padaku katakan saja jangan sungkan." Abimanyu lalu menegakkan kepalanya lagi untuk bisa menatap mata Anjani.


"Jika kau menemukan pria yang membuatmu jatuh cinta lagi katakan saja karena aku akan segera melepaskanmu."

__ADS_1


"Lalu apa lagi?" tanya Anjani menahan senyum.


"Kenapa ekspresimu seperti itu?"


"Kau itu lucu, menikah tetapi bersiap untuk kutinggalkan. Padahal aku berniat hanya menikah sekali denganmu."


"Itu kan andai saja, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya."


"Jangan berandai hal yang jelek. Barandai saja aku hamil dan punya anak darimu," kata Anjani.


"Kau hamil?"


"Belum tetapi aku pikir akan melakukannya. Biar rumah tambah ramai oleh suara riang anak-anak."


"Kau sudah siap?" tanya Abimanyu intens.


"Kau itu," ujar Abimanyu ikut tersenyum. Istrinya ini memang pandai jika membuat suasana ceria.


"Bagaimana kalau kita menyaingi keluarga petir yang punya 11 anak. Kita buat 12 anak atau mungkin 15 anak."


"Memang aku tukang cetak anak. Satu saja sudah cukup jika belum tambah lagi," kata Anjani.


"Kalau begitu kita buat sekarang saja." Abimanyu mulai mencium Anjani tetapi pintu kamarnya terbuka.


"Ayah, Ibu, jadikan kita berangkat berlibur?" tanya Bumi lari masuk begitu saja ke dalam. Bayu dan Tirta yang melihat adegan dewasa itu dan mengerti lalu menutup mata mereka.

__ADS_1


Sedangkan dua insan yang sedang dimabuk asmara itu gelagapan karena terciduk.


"Jadi, Sayang, kita sementara akan berlibur di rumah kakek dan nenek. Tepatnya orang tua Ibu Anja."


"Orang tuaku kenapa harus ke sana?"


"Karena aku ingin mereka juga dekat dengan keluargamu dan menganggap mereka adalah bagian dari keluarga."


"Tetapi rumahku sempit," kata Anjani.


"Aku sudah merenovasinya walau harus merayu mertuaku yang idealis itu."


"Dia itu ayahku," Anjani memukul lengan Abimanyu.


"Ya, ayahmu sangat idealis tidak mau menerima bantuanku apapun itu. Aku sangat menghormatinya jarang ada orang yang jujur dan sederhana sepertinya dan itu menurun padamu."


"Aku pikir anak-anakku harus belajar banyak darinya agar bisa mempunyai sifat seperti mu."


Bayu dan Tirta mendekat. Sedangkan Bumi sudah berada di pangkuan Abimanyu.


"Aku harap kita menjadi keluarga yang bahagia dan melupakan semua kejadian yang tetap ada. Ingat satu hal, kalian adalah anak-anakku dan jangan ungkit tentang masa lalu kita sampai kapan pun. Panggil Ibu Anja dengan nama Ibu karena sekarang dia adalah ibu kalian dan hormati dan sayangi dia layaknya kalian menyayangi dan menghormati almarhum ibu kalian."


Bayu dan Tirta menganggukkan kepalanya.


"Kami sangat menyayangimu Ibu," kata Bumi dan memperoleh anggukan dari Bayu dan Tirta.

__ADS_1


"Aku juga menyayangi kalian seperti anakku sendiri. Terima kasih karena telah menerimaku yang seperti ini."


"Kami bangga punya Ibu seperti dirimu dan ayah tidak salah memilihmu karena kau wanita terbaik yang layak untuk dicintai." Ketiga anak Abimanyu lalu memeluk Anjani. Mereka lalu tersenyum dan tertawa bahagia.


__ADS_2