Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Libur yang Diganggu Pak Bos


__ADS_3

"Jangan mengurusi urusan pribadiku karena aku hanya sebagai pengajar anak-anakmu bukan istri yang harus melaporkan apa yang aku lakukan. Aku juga wanita bebas yang bisa berhubungan dengan pria manapun! Tetapi jangan khawatir karena aku tidak akan mengajarkan hal buruk pada anakmu," ucap Anjani yang tersinggung. Wanita itu lalu pergi meninggalkan Abimanyu sendiri.


***


Ini hari libur untuk Anjani. Dia punya acara nanti siang dengan Devan. Mereka akan pergi ke sebuah tempat kumuh untuk membawa membagikan buku-buku dan alat tulis pada anak-anak disana. Dulu sebelum bekerja di tempat Anggun, Anjani sesekali menemani Devan ke tempat itu untuk mengajari anak-anak di sana.


Mimpi Devan adalah menjadi pengajar yang sukses. Dia tidak ingin menjadi ayahnya yang seorang pengusaha sukses. Katanya tidak ada tantangan karena harus menghadapi map dan tulisan saja setiap hari. Jika menghadapi banyak anak akan membuat semangatnya timbul. Melihat mereka belajar dan tumbuh menjadi manusia yang pintar akan menimbulkan kepuasan tersendiri baginya. Dengan berbagi ilmu dia merasa apa yang dilakukannya tidak sia-sia.


Namun dia ingin bangun sedikit siang di pagi ini. Dia menutup lagi matanya ketika melihat baru pukul lima lebih tiga puluh. Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka. Bumi masuk ke dalam kamar Anjani dan langsung naik ke atas tempat tidur.


Anjani di kamar adalah seorang anak muda dia tidur hanya menggunakan atasan tanpa lengan yang memperlihatkan bahunya yang putih dan celana denim pendek. Tirta dan Bayu pun ikut masuk ke dalam.


"Ibu, kita berolah raga yuk," kata Bumi. Anjani yang sudah membuka matanya kembali menutupnya.


"Ibu ingin istirahat lagi Bumi."


"Ayah mengajak pergi keluar. Tidak pernah lho Ayah melakukan ini," lanjut Tirta.


"Kalian saja yang pergi, ibu masih mengantuk," katanya menutup kepala dengan bantal. Anjani tetap manusia biasa yang butuh saat bermalasan ketika hari libur tiba.


"Ibu, ih Ibu Anjani tidak asik!" rutuk Bumi. Tirta lalu menarik kakaknya dan membisikkan sesuatu. Dua orang itu lalu keluar dari kamar Anjani dan kembali lagi dengan menarik tangan ayahnya ke kamar gadis itu.


"Kenapa kalian menarik ayah kemari!" kata Abimanyu yang sudah siap dengan celana street serta kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot tubuhnya yang kekar.


"Kami ingin Ibu Anjani ikut," kata Tirta melihat ke arah Abimanyu.


"Tetapi dia menolaknya."


Kedua tangan Tirta dan Bayu di satukan di dada melihat Abimanyu dengan penuh harap. Pria itu tidak suka masuk ke kamar anak gadis tanpa permisi tetapi ketiga anaknya memaksa.


"Ayah, lihat Ibu Anjani masih tertidur," teriak Bumi. Abimanyu baru menyadari jika Anjani berbaring miring dengan selimut setengah badan. Tubuhnya yang kecil dan kencang terlihat jelas karena hanya memakai tanktop. Abimanyu menarik nafasnya.

__ADS_1


"Dasar pemalas," gumam Abimanyu lirih hampir tidak terdengar.


Anjani yang mendengar kata Ayah langsung membuka matanya dan duduk. Di depannya sudah ada Abimanyu yang menatapnya dengan tersenyum mengejek.


Mata Anjani berkedip. Pria itu memang ada di dalam kamarnya.


"Akh! Mengapa kau ada di sini?'' teriak wanita itu membenahi rambutnya yang acak-acakan karena bangun tidur. Namun bukannya terlihat tidak menarik hal itu malah terlihat seksi di depan mata Abimanyu.


"Aku ingin mengajakmu keluar berolahraga, sebetulnya anak-anak yang memaksaku," terang Abimanyu.


"Aku tidak bisa, aku punya janji dengan seseorang jam delapan nanti."


Abimanyu mengangkat bahu pada tiga anaknya "Kalian sudah dengar jawaban dari Ibu Anjani."


Bumi lalu turun dari tempat tidur dan keluar, Tirta dan Bayu pun ikut bersama Bumi dengan bahu yang menunduk.


"Kau lihat mereka kecewa karena penolakanmu," kata Abimanyu. Anjani lalu turun dari tempat tidurnya.


"Jangan Panggil Tuan Presdir, itu terdengar menggelikan untukku."


"Bapak?" tanya Anjani.


"Itu baik tetapi aku dikira ayahmu nanti," kata Abimanyu.


"Okey siapa?" tanya Anjani.


Abimanyu nampak berpikir keras, kalau nama itu tidak mungkin karena dia lebih tua lagi pula dia majikannya, kalau mas nanti dikira mereka punya hubungan khusus.


"Ya sudah Pak saja," kata Abimanyu. Anjani memutar bola matanya malas. Tadi tidak boleh sekarang boleh pikirnya. Dasar pria aneh.


"Pak, saya ada janji. Jadi maaf saya tidak bisa ikut berolah raga. Lagi pula punggungku masih terasa sakit karena bapak menambah rasa sakit itu dengan menjatuhkan saya ke lantai kemarin."

__ADS_1


"Temani anak-anakku saja sebentar berlari di taman salah satu sudut kota terdekat. Kita ke sana memakai mobil jadi kau tidak akan merasa lelah."


"Sebentar saja," pinta Abimanyu sembari melirik pada punggung Anjani yang terlihat sebagian ketika melewatinya. Luka itu masih terlihat memerah dan semakin menggelap.


"Hanya sebentar sebelum pukul delapan lebih tiga puluh kita harus kembali kemari," pinta Anjani.


Abimanyu menganggukkan kepalanya.


"Jangan lama," kata Abimanyu.


"Aku tidak akan mandi hanya membersihkan muka dan sikat gigi saja," ujar Anjani masuk ke dalam kamar mandi dengan cuek.


"Kau harus memberi salep lagi pada lukamu agar tidak berbekas," ujar Abimanyu. Anjani yang hampir masuk ke kamar lalu menatap ke arah Abimanyu. Lalu bergerak masuk ke dalam kamar mandi lagi.


Sepuluh menit kemudian Anjani turun dari kamarnya dan langsung menuju mobil. Di sana sudah ada anak-anak Abimanyu. Sedangkan Abimanyu sudah berada di dalam mobil terlebih dahulu.


Anjani langsung masuk ke dalam kursi penumpang di sebelah Abimanyu.


"Apakah kamu tidak punya pakaian yang lebih sopan?" tanya Abimanyu melihat Anjani masih memakai celana denim pendeknya dan hanya mengganti atasan dan menutupinya dengan jaket.


"Kita mau berolah raga bukan ke tempat resmi. Lagian ini umum dipakai anak muda," kata Anjani santai. Ini hari liburnya tetapi diganggu oleh bos yang kurang kerjaan.


"Jika kau tidak nyaman, aku akan keluar," ujar Anjani. "Dasar tua tidak tahu jika pakaian ini ngetren dikalangan anak muda. Masa aku harus pakai pakaian kerja terus."


"Iya Ayah, aku biasa melihat teman-temanku memakai pakaian seperti itu. Ibu Anjani kan masih muda jadi wajar dia memakainya," bela Bayu yang sering melihat wanita seumuran pengajarnya ini memakai pakaian seksi dan lebih terbuka di luaran sana.


"Bukan begitu hanya saja... Ya sudahlah!" Abimanyu lalu mulai menyalakan mesin mobilnya.


Anjani hanya membawa beberapa stel pakaian ke tempat Abimanyu jadi dia tidak punya pakaian yang diminta oleh pria itu. Kebanyakan pakaian yang dia bawa hanya baju kerjanya saja dan celana jeans serta kaos biasa.


Dia duduk dengan meletakkan tas kecil di atas pahanya. Biasanya dia tidak canggung memakai pakaian ini ketika bersama teman-temannya, namun berada di dekat Abimanyu membawa energi negatif yang membuat buku romanya berdiri semua. Walau wajah pria itu terlihat dingin dan datar melihat ke arah depan, tetapi tetap saja dia merasa diperhatikan.

__ADS_1


__ADS_2