Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Pacar Ibu


__ADS_3

Lama menunggu Abimanyu selesai rapat dan bosan akhirnya Anjani tertidur di kursi sofa. Tubuhnya meringkuk nyaman.


Beberapa malam Abimanyu telah membuat dia begadang. Dia hanya butuh waktu sejenak untuk memulihkan tenaganya.


Abimanyu membuka pintu ruangannya dengan pelan. Sekretaris sudah memberi tahu jika Anjani sedang tidur. Dia lalu berjalan menuju ke sofa dan melihat istri kecilnya pulas. Suara nafasnya terdengar seksi untuk Abimanyu.


Sayang sekali dia tidak punya ruang khusus untuk tidur. Jika tidak, dia sudah membawa Anjani masuk ke sana. Dia tidak suka ada kamar di ruangannya karena niat dia pergi ke perusahaan untuk bekerja bukan untuk tidur atau menghabiskan waktu dengan wanita. Dia bukan orang seperti itu.


Abimanyu mengecup pipi Anjani, seketika mata wanita itu terbuka lebar dan tersenyum ke arahnya. Tangan wanita itu lalu memeluk leher Abimanyu.


"Kau lama sekali," gerutunya.


"Banyak masalah yang dibahas selama aku pergi berlibur bersamamu kemarin."


"Kita berlibur selama tiga hari saja dan itu jadi masalah?" tanya Anjani.


"Setiap hari bahkan setiap detik pergerakan saham berubah dan itu karena dipengaruhi oleh pangsa pasar. Kita harus selalu mengecek penjualan dan pembelian walau kantor libur."


"Aku tidak paham tentang hal itu. Jangan ceritakan padaku, aku hanya paham tentang kebersamaan kita yang sudah berlangsung beberapa hari ini."

__ADS_1


"Anjani," panggil Abimanyu sensual. Anjani menaikkan kedua alisnya ke atas.


"Ayo kita tuntaskan masalah kita tadi malam. Kita teruskan lagi," kata Abimanyu.


"Apanya yang tuntaskan?" tanya Anjani tidak mengerti.


"Pergulatan kita."


***


Anjani kapok untuk pergi ke kantor Abimanyu. Di sana dia harus menuruti keinginan Abimanyu yang tidak habis lelahnya. Pria itu seperti balas dendam dengan yang namanya kesepian dan ranjang yang dingin.


Anjani tertidur lesu di mobil. Dia sudah pasrah dengan tanggapan anak-anak pada dirinya nanti. Mengapa dia pergi bersama Abimanyu dan pulang bersamanya. Dia capai, ingin tidur di tempat tidurnya yang nyaman.


"Kenapa?"


"Aku ingin libur dan tidur setelah ini. Sepertinya aku tidak sanggup untuk berdiri," ucap Anjani.


Abimanyu sendiri bangga dengan dirinya. Dia merasa mampu membuat wanita muda itu takluk dan terkapar menyerah berkali-kali. Rasanya tidak habis gairahnya jika bersamanya.

__ADS_1


Abimanyu benar-benar membawa Anjani ke sebuah hotel dan meninggalkannya di sana. Dia kemudian pulang kembali ke rumahnya.


"Yah, Ibu Anja tidak ada di rumah, kata Oma tadi pergi bersama Ayah," cetus Bumi ketika melihatnya pulang.


"Ibu Anja sedang keluar," jawab Abimanyu.


"Hmm keluar?" nada bicara Bayu seperti tidak senang.


"Apakah ada masalah, Nak?" tanya Abimanyu yang melihat Bayu seperti sedang marah padanya dan Anjani.


"Lebih baik Ayah jujur saja pada kita, kalau Ayah punya hubungan khusus dengan guru itu?'' tuding Bayu dengan suara meninggi.


Abimanyu menatap tajam pada Bayu tetapi tatapan itu berubah melembut ketika dia tah menarik nafas dalam.


"Ayah mau ke kamar dulu, satu jam lagi kalian bertiga ke kamar Ayah. Kita bicara di sana. Sebagai anak dan Ayah dan sebagai teman," kata Abimanyu.


Bayu lalu pergi dari ruangan itu dengan kesal sedangkan Tirta menatap tidak mengerti pada ayahnya. Bumi dengan wajah polosnya mendekat ke arah Ayahnya.


"Memang Ayah dan Ibu Anja berpacaran? Kata pelayan seperti itu," ujar Bumi.

__ADS_1


Abimanyu tersenyum mengusap kepala Bumi.


"Tirta tolong jaga adikmu dan temui ayah satu jam lagi."


__ADS_2