Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Istri Presiden Direktur


__ADS_3

"Kau tahu jika aku belum ingin hamil terlebih dahulu," ujar Anjani.


"Percayalah padaku, semua akan berjalan dengan baik."


"Aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik nantinya karena ... ," Anjani mencari alasan yang tepat tetapi dia tidak menemukannya.


Akhirnya dia menunduk.


"Bukankah kau ingin kita mencoba untuk saling mencintai? Cinta itu didasarkan kepercayaan jika kau tidak percaya padaku, apakah kau akan bisa mencintaiku," kata Abimanyu.


"Aku percaya pada dirimu, hanya saja aku tidak percaya pada diriku sendiri," ungkap Anjani.


"Apakah kau tertekan dengan pernikahan ini?"


"Tidak! Tetapi aku takut jika tidak amanah, aku takut jika tidak menjadi istri serta ibu yang sempurna untukmu dan anakmu," jelas Anjani.


"Aku tidak akan memberi waktu bagimu untuk berpikir ke arah sana karena aku yakin kau akan jadi ibu yang terbaik untuk anak-anak kita dan menjadi istri yang hebat untukku."

__ADS_1


"Apa kau tidak akan malu menikah denganku dan mengenalkanku pada teman-temanmu?"


"Kenapa harus malu, kau cantik, menarik dan sempurna. Yang harus bertanya seperti itu seharusnya aku, apa kau tidak malu mempunyai suami yang sudah berumur seperti diriku? Aku sempat berpikir, kau ingin menyembunyikan pernikahan ini karena kau malu mempunyai ... ." Belum selesai Abimanyu mengatakannya Anjani menutup mulut pria itu dengan tangannya.


"Aku tidak malu mempunyai suami sepertimu. Aku bahkan bangga bisa menjadi istri seorang presiden direktur sebuah perusahaan besar." Anjani lalu pindah duduk di pangkuan Abimanyu dan bersandar di dadanya.


"Aku hanya kurang percaya diri. Aku tidak siap dengan semua ini. Bagiku menikahi orang biasa mungkin akan lebih mudah karena kau nantinya hanya akan menjadi milikku. Tidak akan ada yang bertanya padamu, anak siapa istrimu? Dari mana asalnya? Apa pekerjaannya?"


"Kau terlalu banyak berpikir. Aku bahkan tidak memikirkannya. Bagiku kau adalah ratu dihidupku," ujar Abimanyu.


"Masuk!"


Sekretaris Abimanyu lalu masuk ke dalam dan terkejut melihat posisi bosnya yang sedang bermesraan. Dia menundukkan wajah.


"Maaf Pak, rapat akan dilaksanakan lima menit lagi dan semua orang sudah berkumpul menunggu Anda datang."


Abimanyu memandang Anjani. Wajah istrinya terlihat memerah karena malu, sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Maaf aku harus pergi rapat terlebih dahulu, kau disini saja dan jangan pergi kemana-mana. Kau bisa meminta sekretarisku ini apapun jika kau membutuhkan sesuatu."


Anjani menganggukkan kepalanya. "Sekarang turun dari pangkuanku, kau itu sangat manja." Abimanyu lalu menabok pantat Anjani membuat mata wanita itu membola.


Sekretaris Abimanyu juga terlihat terkejut. Dia tidak menyangka Abimanyu yang selama ini terlihat cuek pada semua orang apalagi wanita malah berbuat seperti itu pada Anjani.


Anjani lalu turun dari tubuh Abimanyu dan duduk di sebelah. Abimanyu berdiri dan merapikan jasnya. Dia mengecup pipi Anjani sebelum berjalan pergi keluar.


"Oh, ya kau disini saja. Mungkin istriku akan butuh bantuanmu," kata Abimanyu. Anjani memukul dahinya.


"Oh Tuhan, aku hanya ingin menyembunyikan ini untuk sementara waktu namun sepertinya Abimanyu lebih suka membukanya," batin Anjani.


Sekretaris itu memandang Anjani dengan tatapan tidak percaya jika atasannya menikahi wanita yang terlihat sangat muda walau cantik.


"Maaf, Bu apakah Anda membutuhkan hal lain? Kalau tidak saya akan pergi ke meja saya. Anda bisa memanggil saya melalui intercome jika membutuhkan sesuatu."


Anjani menggelengkan kepala malu. Dia tidak percaya jika kini, dia adalah istri seorang pemilik perusahaan besar. Anjani Restuti. Nama itu tidak cocok untuk jadi istri presiden direktur.

__ADS_1


__ADS_2