
"Namun semua keputusan kembali pada kalian. Kalian yang sudah dewasa tahu sebab dan akibatnya. Aku hanya bisa memberi nasihat jika sebaik-baiknya kalian berbohong nanti akan tercium juga."
"Kami hanya butuh waktu bukan kami, aku yang butuh waktu lebih," kata Anjani.
"Baiklah jika begitu kapan rencananya pernikahan akan dilakukan?" tanya Andri.
"Jika Anda setuju mungkin sekitar Minggu ini. Kita bisa mengundang beberapa orang untuk mengadakan pesta sederhana di rumah ini," ujar Abimanyu.
"Tidak, aku tidak mau pesta terlebih dahulu. Aku ingin semua tahunya kita belum menikah Pak," tolak Anjani.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak ingin masalah ini keluar dari rumah ini dan sampai pada keluarga besarnya nanti."
"Tidak apa-apa nanti juga mereka akan tahu."
"Sudah kukatakan aku belum siap secara mental. Aku harus memperbaiki diri dan belajar caranya hidup seperti keluargamu," lirih Anjani di akhir kalimat sembari memegang ujung bajunya dengan erat. "Aku ingin membuktikan diri dulu jika aku layak bersanding denganmu."
Abimanyu tersenyum senang. Anjani memikirkan dirinya bukan takut jika statusnya akan ketahuan oleh orang luar.
"Baiklah jika itu maumu kita akan menikah tertutup yang terpenting kau menjadi istriku terlebih dahulu. Aku takut kau berpaling jika tidak segera kuikat."
Sedangkan kedua orang tua Anjani hanya memandangi dialog mereka berdua dan bersyukur jika mereka berdua bisa saling mengisi. Bukankah seharusnya seperti itu yang namanya pasangan.
"Baiklah Minggu ini akan diadakan pernikahan di KUA, jika ayah usul menikahlah di hari Senin atau Jum'at saja," kata Andri membuat Abimanyu bersemangat.
"Kalau hari Senin masih menunggu enam hari lagi saya pikir hari Jumat saja. Saya akan mengaturnya dengan orang saya."
"Apakah pendaftaran bisa secepat itu?" tanya Anjani.
"Bisa asal kita punya orang yang tepat untuk mengurus semuanya."
"Ya, aku mengerti yang bagaimanapun adalah hal terpenting untuk memuluskan jalan ke depan."
"Dan Bapak, Ibu saya bawakan sedikit oleh- oleh untuk kalian tadi."
"Saya kira untuk Anjani barang-barang itu," kata Andri terkekeh kecil.
"Bukan, Anjani akan saya berikan sendiri nanti ketika acara pernikahan."
"Sebenarnya tidak usah bawa banyak barang-barang kemari, kedatangan kalian saja sudah membuat kami senang."
__ADS_1
"Boleh saya buka?" kata Cindy tetapi tangannya disentuh oleh dengan wajah masam. Cindy mengurungkan niatnya untuk berdiri.
Abimanyu yang melihat memberi tanda pada Anjani untuk membukakan hadiah dari mereka.
Anjani lalu membawa boks berisi baju dan sandal serta sepatu untuk ayah dan ibunya. Lalu membukanya.
"Ini baju untuk Ayah, Pak Abi sendiri lho yang memilih tadi," kata Anjani keceplosan.
"Oh, jadi karena membeli ini jadi kalian terlambat datang?" tanya Andri. Abimanyu dan Anjani tersenyum bersamaan.
"Wah, bajunya pas lihat pak, aku pasti cantik pakai ini nanti diacara kondangan Bu Rani."
Andri menghela nafasnya. Istrinya mulai lagi bersikap kampungan bila melihat barang-barang bagus. Namun, dia tidak malu mempunyai istri seperti itu. Dia sangat menyayanginya walau cintanya hanya untuk Ibu Anjani saja.
Setelah itu mereka makan bersama dan Abimanyu hendak kembali ke rumah bersama Anjani namun Andri mencegahnya.
"Biarkan dia bersama kami terlebih dahulu."
Berat bagi Abimanyu untuk berpisah dari Anjani namun dia tidak bisa menentang perintah calon ayah mertuanya. Anjani akan tetap berada di rumah mereka hingga pernikahan dan sampai saat itu tiba mereka tidak boleh saling bertemu.
Anjani lalu pulang sendiri sesampainya di rumah dia di sambut wajah manyun ketiga buah hatinya.
"Ayah tidak membuat Ibu Anja menangis lagi kan?" Interogasi Tirta.
"Ibu Anjani tidak ada di rumah seharian ini dan sampai sekarang dia belum juga kembali. Kami juga tidak melihatnya tadi pagi. Aku curiga ayah memarahinya lagi," tuduh Bayu tidak mau kalah.
Abimanyu lalu tertawa keras. Anaknya sangat protektif pada calon ibu baru mereka. Apa yang mereka pikirkan jika tahu bahwa dia akan menikahi Anjani. Abimanyu ingin sekali mengatakannya tetapi dia menghormati keinginan Anjani untuk merahasiakan semua ini terlebih dahulu.
"Ibu Anjani dalam keadaan baik-baik saja di rumahnya. Dia dipanggil oleh ayahnya untuk kembali ke rumah sementara waktu mungkin hari Jumat atau Sabtu baru kembali kemari," kata Abimanyu.
"Oh, lama sekali. Apa ayah tidak berbohong?" desak Tirta. Abimanyu menggelengkan kepalanya.
"Lalu dengan siapa aku akan bermain dan belajar."
"Dengan saya juga bisa Nona muda," sela Marsellina.
"Aku tidak mau bersamamu," tolak Bumi sewot. Entah mengapa anak ini selalu saja menghindar dari wanita itu terkesan tidak senang padahal selama ini Marsellina selalu berusaha baik padanya. batin Abimanyu.
"Kita akan menemanimu," ujar dua kakaknya.
"Lagian cuma tiga hari saja Ibu Anjani perginya," kata Tirta.
__ADS_1
"Aku berharap dia pergi selamanya dari keluarga ini." pikir Marsellina.
"Apakah nenek kalian sudah kembali?" tanya Abimanyu.
"Belum, itu bagus karena tidak akan ada yang memarahi kami jika berlari-lari," ujar Tirta.
"Kalian tidak boleh seperti itu pada nenek kalian," kata Abimanyu memperingati anaknya.
"Maaf ayah," ujar mereka bertiga bersamaan.
"Ayah lelah mau ke atas dulu untuk mandi dan membersihkan diri."
"Ehm kalian sudah makan atau belum?"
"Belum kami menunggu ayah untuk makan bersama. Kami pikir Ibu Anja sedang bersama Ayah."
"Ya, sudah kita ke ruang makan untuk makan. Bumi biar Ayah yang suapi karena Ibu Anja sedang tidak ada di sini."
"Dia sudah besar kata ayah harus makan sendiri."
"Biar saja, ayah ingin melakukannya." Bumi menjulurkan lidahnya.
Mereka lalu pergi ke ruang makan. Terasa berbeda tanpa ada Anjani di rumah ini. Abimanyu bisa merasakannya. Biasanya anak-anak terlihat bercanda dan ceria mereka hanya diam saja.
"Sebenarnya Ibu Anja ada urusan keluar apa sih hingga pergi sampai tiga hari lamanya?" tanya Bumi.
"Ayah juga tidak tahu," jawab Abimanyu sembari menyuapi Bumi dengan sop ayam.
"Apa kita bisa menengoknya?" tanya Bumi lagi.
"Itu namanya mengganggu privasi orang. Ibu Anjani sedang ingin bersama keluarganya. Kita harus memberi kebebasan padanya. Lagian tidak lama."
"Lalu siapa yang akan membacakan cerita untukku?"
"Kau bisa tidur bersama ayah dan akan bacakan buku cerita untukmu," kata Abimanyu.
"Aku boleh tidur bersama ayah? Wah,"
"Apa aku juga boleh ikut tidur bersama Ayah? Sudah lama sekali kita tidak melakukannya." Pinta Tirta.
"Ya. jangan hanya Bumi saja, Yah," ujar Bayu lagi. "Kita sudah lama tidak tidur bersama terakhir sebelum ibu sakit."
__ADS_1
Abimanyu menghela nafasnya. Mereka memang sudah terlalu lama tidak bersama secara akrab. Abimanyu seperti membatasi diri dengan anaknya. Bukan karena ingin menjauh tetapi dia tidak ingin anaknya melihat kehancuran hatinya selama setahun lebih. Biar hanya dia memendam apa yang telah terjadi pada hidupnya.