Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Momen


__ADS_3

"Kau sedang apa?" tanya Abimanyu meledek Anjani. Anjani lalu membuka matanya dan melihat jika pintu mobil telah dibuka. Dia menoleh dan menatap Abimanyu yang sedang melepas seatbelt dan membuka pintu mobil miliknya.


"Kita cari makanan yang kau sukai yuk," ajak Abimanyu. Walau dia tidak suka dengan makanan pinggir jalan tetapi dia tahu jika Anjani menyukainya. Oleh karena itu, dia membawanya ke sana.


Abimanyu lalu berjalan memutar ke arah Anjani, menunggu wanita itu keluar dari mobil..Anjani lalu melepas seatbelt miliknya dan berjalan keluar. Mereka lalu berjalan melihat berbagai makanan yang ditawarkan di stand pinggir jalan para pedagang kaki lima. Semua makanan terlihat enak dan menarik, pikir Anjani. Hingga dia sulit untuk menentukan makanan mana yang akan dia pilih.


"Aku ingin makan roti bakar itu saja," pilih Anjani mendekat ke arah stand makanan itu.


Dia memesan nasi pecel dan segelas teh hangat.


"Di bungkus atau dimakan di sini Neng?" tanya pedagang.


Anjani menatap Abimanyu. "Kita makan di sini dulu bisa?"


Abimanyu melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Tidak lebih dari lima belas menit," kata Abimanyu.


"Kau keterlaluan, ya sudah, bungkus saja Bu, biar aku makan di kantin."


"Tidak biar makan di sini saja?" sela Abimanyu teringat akan kejadian Anjani yang dipermalukan oleh temannya. Dia mendengar itu dari pengawal yang dia tugaskan mengawasi Anjani ketika dia sendiri.


"Jadinya bagaimana makan di sini atau tidak, Omnya bilang jika mau makan di sini?" tanya pedagang.


Anjani terkekeh mendengar ucapan pedagang itu yang mengatakan jika Abimanyu adalah Omnya. Sedangkan Abimanyu terlihat manyun mendengar julukan itu. Apa dia terlihat sudah tua jika disandingkan dengan Anjani?


"Aku ikut kata Om saja kalau begitu," ledek Anjani mengigit bibirnya karena geli. Gerakan yang tanpa sadar membuat hati Abimanyu deg serr. Dia teringat akan rasa bibir Anjani yang manis dan hangat.


Anjani lalu duduk di salah satu bangku panjang bersebelahan dengan Abimanyu. Pesanan dia telah datang. Dia lalu mulai memakan makanan itu. Beberapa wanita melihat ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah Abimanyu yang terlihat tampan dan keren dengan pakaiannya yang rapi dan berkelas.


Anjani lalu mengambil sesendok makanannya. "Coba ini enak," kata Anjani pada Abimanyu.


"Aku sudah makan tadi," kata Abimanyu.


"Ya sudah kalau tidak mau." Anjani lalu hendak menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya tetapi tangan Abimanyu menariknya sehingga makanan itu masuk ke dalam mulut pria itu.


"Katanya tadi tidak mau," kata Anjani memanyunkan bibirnya.


"Sayang kalau bekas bibirmu disia-siakan," ucap Abimanyu datar tanpa ekspresi membuat Anjani gemas sendiri. Pria itu sering terlihat jaim jika didepan orang lain tetapi jika mereka sedang berdua, dia terlihat agresif.

__ADS_1


Anjani ingin makan lagi tetapi Abimanyu memajukan wajahnya jadi dia menyuapi pria itu lagi. Begitu terus hingga wanita itu hanya makan sebagian saja lebih banyak Abimanyu yang menghabiskannya.


"Sama saja bohong dong, Pak, Anda yang lebih banyak makan," protes Anjani.


"Kalau begitu kita pesan lagi," jawab Abimanyu.


"Tidak usah ini sudah siang." Anjani lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Kau bayar makanannya," kata Abimanyu berjalan mendahului Anjani setelah meletakkan uang di meja. Anjani lalu bangkit untuk membayar makanan itu.


"Itu kayaknya sugar baby-nya cowok tadi deh," ujar seorang wanita berbisik pada teman di sebelahnya menatap ke arah Anjani.


"Iya, kayaknya. Seperti dalam cerita novel saja ya Jeng," ujar orang lain.


"Ini nyata banyak gadis yang melakukan itu agar terlihat modis."


Anjani yang mendengar hal itu lantas menunduk dan langsung berjalan ke mobilnya setelah membayar. Namun, dia tidak menemukan Abimanyu di sana. Ternyata pria itu membawa bungkusan lain. Anjani tersenyum. Pria ini sungguh perhatian sekali.


"Apa ini?" tanya Anjani setelah Abimanyu mendekat dan menyerahkan bungkusan itu padanya.


"Kau bisa lihat sendiri, ayo kita pergi sekarang," kata Abimanyu. Mereka lalu masuk ke dalam mobil. Mobil mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Anjani mulai membuka kotak makan itu ternyata berisi roti bakar dengan toping keju yang tebal.


"Aku sudah kenyang kok," kata Anjani.


"Kau jangan membantah."


"Bolehkah aku makan ini nanti?" Abimanyu tidak mengatakan apa-apa hanya saja dia menatap Anjani dengan tajam. Mau tidak mau Anjani memakan roti itu.


Dia menatap Abimanyu dan memberikan roti itu ke mulut pria itu.


"Bantu aku menghabiskannya," pinta Anjani.


"Kau akan membuat perutku buncit," ujar Abimanyu.


"Tidak akan karena kau rajin berolah raga setiap hari." Abimanyu menatap Anjani lalu menggigit makanan itu.


Bergantian dengan Anjani hingga makanan itu habis.


"Kita seperti pasangan saja," celetuk Abimanyu.

__ADS_1


"Aku biasa melakukan ini dengan sahabatku," jawab Anjani.


"Maksudnya dengan Devan?" tanya Abimanyu resah jika mendengar nama pria itu disebut Anjani.


"Aku sudah tidak bersamanya jadi aku perlu sahabat baru lagi. Jika boleh aku ingin menjadikanmu sahabatku," kata Anjani.


"Sahabat berujung cinta, itu tidak buruk," cetus Abimanyu. Anjani mengerutkan hidung dan pipi secara bersama membuat dia terlihat imut.


Mereka lalu terdiam setelah menghabiskan makanan itu bersama-sama. Anjani meraih botol air mineral di depan Abimanyu dan meminumnya.


"Kau membelikan aku makanan tetapi tidak membelikan minuman," ujar Anjani. Dia lalu memakai kembali tasnya dan hendak keluar mobil. Tetapi tangan Abimanyu memegangnya.


"Kau punya uang?" tanya pria itu.


"Masih jangan khawatir." Anjani sekarang faham dengan kebiasaan pria itu.


"Biar aku beri lagi," kata Abimanyu hendak membuka dompetnya.


"Tidak usah uangmu masih banyak di dompetku," ujar Anjani keluar.


"Anjani jangan pedulikan apa kata orang," kata Abimanyu khawatir.


"Biarlah mereka mengatakan aku simpananmu. Toh, aku mengatakan apapun mereka tidak akan mempercayainya."


"Kalau begitu kita resmikan saja," ajak Abimanyu.


"CK kau itu," ujar Anjani. Mereka terkejut ketika mendengar suara motor yang digas keras dan melihat ke asal sumber suara.


"Kekasihmu kelihatannya marah?" kata Abimanyu.


"Dia bukan kekasihku lagi. Sudahlah, jangan bicarakan tentang dia membuat moodku turun," ujar Anjani menutupi hatinya yang sedih. Bisanya pria itu mengira jika dia itu adalah simpanan Abimanyu. Apakah tidak ada kepercayaan sedikitpun padanya?


"Ya, sudah. Sekarang masuk saja ke dalam sana. Aku mau ke tempat kerja," kata Abimanyu. Dia senang bisa menjalani hidup baru dengan Anjani secara baik.


"Kau itu seperti seorang suami saja," ujar Anjani.


"Calon suami lebih tepatnya. Aku jadi tidak sabar untuk meminangmu pada orang tuamu," kata Abimanyu.


"Kau jangan berbuat gila!"

__ADS_1


"Aku hanya takut kau lepas dari genggamanku dan kembali pada kekasihmu. Aku hanya sedang memanfaatkan momen ini untuk mengajakmu menikah," jujur Abimanyu.


__ADS_2