Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Hutang


__ADS_3

Esok harinya Anjani melakukan pekerjaan seperti biasanya seperti mengurus anak-anak. Mengecek apa saja yang harus mereka bawa ke sekolah dan penampilannya.


Setelah itu dia mengajak anak-anak sarapan pagi. Sebelum itu, dia pergi menemui Abimanyu dahulu. Dia menunggu pria itu di depan kamarnya.


Setelah menunggu hampir sepuluh menit akhirnya Abimanyu keluar dari kamar. Dia menatap ke arah Anjani yang berdiri tegap di depannya.


"Apa kau menungguku?" tanya Abimanyu datar dan dingin jika ada orang lain karena saat ini ada pelayan yang hilir mudik membersihkan rumah.


"Aku hanya ingin meminta ijin untuk pergi ke kampus untuk menyerahkan tugas ke dosen," pamit Anjani.


"Sekalian saja aku antarkan bersama anak-anak," tawar Abimanyu.


"Tidak usah," tolak Anjani.


"Menghemat waktu dan tenaga, serta pengeluaran," imbuh Abimanyu.


"Aku bisa sendiri," jawab Anjani.


"Ya sudah," kata Abimanyu berjalan mendahului Anjani. Pria itu memang terlihat dingin jika didepan para pelayan lainnya tetapi akan mesum jika mereka hanya berdua. Pribadi yang aneh. Batin Anjani.


Jika bukan karena butuh uang untuk biaya kuliahnya dan orang tuanya, dia sudah akan kabur dari rumah ini.


Anjani turun ke bawah. Marsellina melihat penampilannya dari bawah ke atas dengan sinis. Mungkin dia menyadari baju yang Anjani kenakan adalah baju baru dan bermerk mahal. Namun tidak berani mengatakan apapun karena Abimanyu ada di depannya.


Bisa dipastikan Marselina berpikir negatif tentangnya setelah apa yang dia lihat kemarin malam. Dia juga merasa cemburu karena kalah saing dengan Anjani. Apapun itu Anjani tidak peduli.


Abimanyu masuk ke ruang makan. Di sana anak-anak sudah mulai sarapan pagi. Ibu Tuti datang membawakan segelas jus sayur dan telor rebus untuk Abimanyu. Pria itu memang selalu memperhatikan makanannya.


Mereka lalu sarapan. Anjani seperti biasa berdiri di belakang Bumi dan sesekali membantunya makan.


Marsellina masih terlihat sewot dengannya sering kali dia memberi tatapan tajam pada Anjani. Sedangkan Anjani pura-pura tidak melihatnya.


"Habiskan susumu Bumi, kita berangkat sekarang," ujar Abimanyu melihat jam di tangannya.


"Anjani cepat ambil tasmu kita akan pergi bersama," perintah Abimanyu. Anjani terkejut mendengarnya begitu pula dengan anak-anak. Sedangkan Abimanyu pergi begitu saja ke dalam mobil.


"Memang Ibu Anja mau pergi kemana?" tanya Bumi.


"Ibu akan ke kampus," kata Anjani.

__ADS_1


"Kampus?" ulang Bumi.


"Iya, Ibu juga masih sekolah sepertimu hanya saja Ibu tidak berangkat setiap hari."


"Sekolah orang dewasa? Tidak pakai seragam?"


Anjani menganggukkan kepalanya. Bumi terlihat berpikir.


"Ayo Bumi kita berangkat Ayah menunggu kita. Ibu Anja kata ayah yang cepat sudah siang," kata Bayu yang tadi sudah keluar rumah tapi masuk ke dalam lagi.


Pria itu sangat pandai mengatur tanpa mengatakan hal apapun.


"Ayo Bu, nanti kita terlambat."


Anjani lalu dengan berat hati pergi ke kamarnya membawa map berisi tugas dan tas ransel. Lalu dia turun ke bawah.


"Enak ya jadi simpanan Tuannya, minta apa saja di belikan," sindir Marsellina ketika mereka berpapasan di lorong.


"Sayang sekali engkau dibuangnya," jawab Anjani sembari berlalu pergi. Dia tahunya selama ini Marselina yang menemani Abimanyu dan pria itu kini beralih padanya mencari yang baru.


Marsellina yang mendengar ucapan Anjani lalu mengepalkan tangan kesal. Ingin dia menampar wajah Anjani namun wanita itu sudah pergi.


"Mana anak-anak?" tanya Anjani.


"Mereka sudah pergi ke sekolah terlebih dahulu," kata Abimanyu tenang mulai menjalankan mobilnya.


Ya, Tuhan pria ini membodohinya lagi. Gerutu Anjani dalam hati.


Kemudian untuk sesaat mereka terdiam.


"Kenapa kita tidak bersama dengan anak-anak?" Anjani memulai pembicaraan.


"Karena jalan ke kampusmu itu sejalan dengan arah kantorku dan kita akan memutar jika harus ke sekolah mereka."


Anjani menghela nafas dan melihat ke arah luar jendela. Mobil mulai membelok dan berhenti tepat di deretan penjual makanan pagi. Abimanyu keluar dan terlihat membeli makanan di salah satu lapak pedagang.


Anjani menautkan kedua alisnya. Bukankah pria itu tidak suka makanan pinggir jalan?


Abimanyu lalu masuk kembali ke dalam mobil dan meletakkan bungkusan plastik itu kepangkuan Anjani membuat wanita itu terkejut.

__ADS_1


"Untuk apa, Pak?"


"Panggil aku Mas Abi," kata pria itu mulai menjalankan mobilnya lagi. Anjani memutar bola matanya malas.


"Untuk apa makanan ini, Mas Abi?" tanya Anjani dengan senyum kesal di wajahnya.


"Untuk dimakan masa untuk dipandang. Lebih baik aku memandangmu daripada memandang makanan itu," ujar pria itu datar tanpa ekspresi, membuat Anjani terpaku di tempat duduk itu.


Apakah pria itu sedang merayunya? Anjani melirik ke arah Abimanyu lagi. Pria itu tetap fokus pada jalan didepannya.


"Ayo cepat makan sebelum kita sampai?"


"Ini buatku?" tanya Anjani.


"Buat siapa lagi? Tidak mungkinkan aku memberikannya pada kursi itu."


Pria ini membuatnya mati kutu pagi ini. Sungguh mengesalkan. Ibu Abimanyu sepertinya dulu sewaktu hamil sepertinya mengidam es batu sehingga sifatnya sedingin es, dan keras kepala seperti batu. pikir Anjani.


Dia mulai membuka bungkusan plastik itu ada nasi box berisi ayam cincang dan segelas plastik susu cokelat hangat.


"Terima kasih. Aku akan memakannya di kampus saja," kata Anjani.


"Lebih baik kau makan di sini sekarang biar aku yakin kau memakannya bukan membuang makanan itu," ujar Abimanyu tanpa melihat ke arahnya.


Anjani lalu mulai makan nasi box sembari meminum susu hangat. Terasa nikmat. Dia pikir dia akan makan nanti siang setelah pulang. Uangnya sudah hampir habis karena hampir seluruhnya dia berikan pada Ayahnya kemarin.


Mereka akhirnya sampai di depan kampusnya. Anjani melepaskan seat beltnya. Abimanyu merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet serta mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan biru tanpa menghitungnya.


"Anjani ini," kata Abimanyu.


"Untuk apa, Pak," tanya Anjani terkejut. Dia pikir jika Bumi sudah mendapatkan uang sakunya dan dia juga tidak ikut mengantarkan Bumi ke sekolahan.


"Kau pegang saja mungkin kau membutuhkannya nanti. Aku tahu jika semua uangmu kau berikan untuk ayahmu kan?" Mata Anjani berkaca-kaca. Abimanyu terlalu perhatian padanya. Bahkan sesuatu yang tidak dia katakan dia mengetahuinya.


"Uang yang Bapak, eh Mas Abi berikan kemarin saja terlalu banyak. Saya rasa, tidak bisa menerimanya lagi," ucap Anjani tidak enak takut dikira memanfaatkan Abimanyu. Atau lebih tepatnya takut begitu banyak hutang balas Budi yang harus dia bayar nantinya.


"Anggap saja ini hutang," kata Abimanyu.


"Bapak akan memotong gaji saya bulan depan?" jelas Anjani.

__ADS_1


"Bukan, hutang itu akan kau bayar ketika kau sudah menikah denganku," lanjut Abimanyu serius membuat Anjani membuka mulutnya terkejut.


__ADS_2