Gadis Untuk Presiden

Gadis Untuk Presiden
Meminang Seorang Gadis


__ADS_3

"Selamat sore, Pak," sapa Abimanyu mengulurkan tangannya pada Andri.


"Selamat sore Tuan Kusuma," sapa balik Andri tenang dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Panggil saja Abi, itu terdengar lebih enak."


"Apakah Anda ibu dari Anjani, masih terlihat cantik dan awet muda," kata Abimanyu membuat Cindy yang memang sudah terpesona dengan penampilan kece Abimanyu menjadi lebih senang.


"Wah, Anda bisa saja Tuan Abimanyu."


"Panggil saja Abimanyu," ucap Abimanyu lagi.


"Saya ini bukan ibu kandung Anjani tetapi dari dia berumur empat bulan saya yang merawatnya," kata Cindy. "Jadi bagaimanapun saya menyayanginya seperti anak saya sendiri."


"Saya bisa melihatnya."


"Ya, jika tidak karena istriku mungkin kehidupan kami tidak sebaik ini," imbuh Andri menatap Cindy penuh rasa terimakasih.


"Kami berdua hidup dengan saling bahu membahu," kata Cindy.


"Mari masuk ke dalam rumah kami yang sempit ini," ajak Andri pada Abimanyu sedangkan Cindy menarik tangan Anjani masuk terlebih dahulu untuk menyiapkan minuman sekaligus bertanya mengapa mereka membawa banyak barang ke rumah ini.


Abimanyu menyapu pandanganya ke sekeliling ruangan itu. Ukuran ruang tamu hanya sekitar dua meter lebih kali tiga meteran. Mereka lalu duduk di kursi. Abimanyu duduk di kursi single sedangkan Andri duduk di kursi panjang.


"Ya, adanya keadaan kami seperti ini," kata Andri merendah.


"Rumah itu yang terpenting adalah rasa kebersamaan."


"Kau benar. Apapun masalahnya jika menghadapi masalah bersama maka akan terasa mudah."


Mereka lalu terdiam ketika Anjani membawa minuman dan hidangan yang tadi sengaja dia beli di luar untuk mereka sembari menunggu Abimanyu.


Dia sempat melirik pada Abimanyu ketika meletakkan gelas itu di depannya. Pria itu terlihat gelisah dan gugup tidak seperti biasanya.


Anjani lalu masuk kembali ke dapur membantu Cindy menyiapkan makan malam untuk mereka.

__ADS_1


"Kau beli makanan banyak sekali, Anja?"


"Pak Abi yang menyuruhku melakukannya dia tidak ingin kedatangannya kemari merepotkan kalian."


"Bu, dimana Kak Elang?"


Mata Cindy langsung merebak, dia menghentikan aktifitasnya untuk sejenak.


"Kakakmu pergi mencari kerja katanya dia akan mengirimi ibu uang setiap bulan agar ibu tidak perlu lagi memikirkan tagihan pinjaman." Cindy menyeka air mata dengan lengan bajunya.


"Kakak hanya ingin hidup mandiri, ibu harus mendukungnya," kata Anjani, senang mendengar berita itu. Kakaknya yang pemalas kini mau bekerja keras.


"Iya, tetapi rumah menjadi sepi ketika kalian meninggalkan rumah ini. Apalagi ketika ayahmu bekerja. Ibu sendiri di rumah ini," ucapnya.


"Hidup memang seperti itu kadang datang kadang pergi," ucap Anjani. Cindy menganggukkan kepalanya.


"Apakah Tuan Abimanyu itu kemari untuk melamarmu?" tanya Cindy. Anjani menganggukkan kepalanya.


Cindy berteriak girang lalu menutup mulutnya sendiri, dia memeluk Anjani.


Cindy memang emak kampung pada umumnya sikapnya sedikit bar-bar namun dia adalah wanita baik.


"Bu, makanannya," ucap Anjani melihat makanan hampir gosong. Mereka lalu kembali berkutat di dapur memanasi makanan.


Sedangkan di ruang tamu Abimanyu menyesap kopinya.


"Jadi apa yang maksud kedatangan Nak Abimanyu? Hingga saya mau bekerja harus di cegah."


"Maafkan atas tindakan tidak sopan saya. Tadinya saya bermaksud datang kemari siang hari namun karena sebab dan musabab saya jadi terlambat datang." Anjaninya tidak mau berbelanja jadi Abimanyu yang harus berbelanja semua barang itu. Abimanyu menghela nafas dalam terlebih dahulu dan menyiapkan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.


"Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan Pak Andri. Saya ingin melamar Anjani sebagai istri saya jika diperkenankan," kata Abimanyu tegas tanpa keraguan.


"Kalau saya terserah anaknya hanya saja Anjani harus tetap menyelesaikan kuliahnya sebelum menikah dengan Anda," kata Andri. "Itu adalah cita-citanya."


"Kami sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Anjani menginginkan hal itu, namun Anda tahu jika umur saya sudah memasuki kepala empat butuh seorang pendamping hidup dan tidak baik bagi kami tinggal satu atap tanpa pernikahan. Saya menghormatinya maka itu saya pikir lebih baik jika saya menikahinya dari pada saya tidak dapat mengendalikan diri dan merusak sebelum waktunya."

__ADS_1


Andri menganggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana kelanjutannya. Sebentar saya panggil Anjani terlebih dahulu bersama ibunya." Andri lalu pergi ke dalam dapur dan memanggil dua orang wanita yang penting dalam hidupnya itu.


Lalu mereka bertiga masuk ke dalam ruang tamu dan duduk. Posisi Anjani kini ada di depan Abimanyu sedangkan Cindy dan Andri duduk di satu kursi panjang.


"Nak Abimanyu bilang ingin menikahimu apakah kau mau menerimanya?" tanya Andri pada Anjani. Anjani melirik pada Abimanyu dan menganggukkan kepalanya sembari rambutnya ke belakang telinga.


"Lalu bagaimana dengan kuliahmu?"


"Aku akan tetap kuliah, Pak Abimanyu juga membantuku dalam menyelesaikan tugas." Anjani menggigit bibirnya. Teringat kejadian tadi malam.


Abimanyu bersikap tenang padahal dadanya terasa bergemuruh takut jika pernikahan yang sedang dia rencanakan di tunda.


"Lalu bagaimana dengan keluarga Pak Abimanyu apakah mereka menerimamu?"


"Itu yang ingin kami bicarakan, Yah." Kata Anjani lebih cepat dari Abimanyu yang ingi. menjawab pertanyaan itu.


"Aku belum siap mengatakan hal ini pada keluarga Pak Abi. Aku takut anak-anak akan menentangnya walau kami sudah dekat. Menurutku butuh banyak waktu untuk menjalin hubungan lebih baik agar mereka tidak menolak kehadiranku nantinya." Anjani menarik nafasnya.


"Sedangkan Pak Abimanyu tetap kekeh ingin meminangmu secepatnya dan aku tidak mau dinikah siri terlebih dahulu. Jadi aku yang meminta padanya untuk melangsungkan pernikahan di keluarga ini saja. Jika keluarga Pak Abimanyu terlihat sudah menerima hubungan kami, baru kami akan mengumumkannya pada mereka tentang pernikahan ini dan baru akan melakukan resepsi."


Kata Anjani berputar-putar membuat Andri bingung.


"Kami akan menikah di rumah ini tetapi merahasiakannya dari keluargaku terlebih dahulu. Sebetulnya aku ingin terbuka tetapi Anjani menolaknya. Dia belum percaya diri untuk masuk sepenuhnya dalam keluarga kami. Katanya butuh waktu."


"Oh, jadi kalian ingin menikah dan merahasiakan semua ini terlebih dahulu," ulang Cindy menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana Yah, apakah kau merestui mereka?" tanya Cindy.


Andri terdiam sembari menautkan kedua alisnya. Pandangannya jauh ke depan mempertimbangkan apa yang Anjani katakan dan Abimanyu.


Suasana terasa tegang. Abimanyu menyatukan kedua tangannya di depan dengan erat sembari memainkan ujung kakinya. Gugup dan cemas dengan apa yang akan Andri putuskan nanti. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.


Anjani tidak kalah khawatir. Dia sebenarnya juga belum yakin dengan pernikahan ini tetapi melihat kesungguhan Abimanyu dan semua yang ada dalam diri pria itu membuat Anjani yakin bahwa pria itu bisa membuatnya bahagia nanti.

__ADS_1


"Aku paham apa yang Anjani pikirkan dan aku juga tahu niat baik Nak Abi untuk meminang Anjani secepatnya. Namun... "


__ADS_2